Kalimat benarku terakhir sepertinya merasuk pada Al meski dia membalasnya dengan tak peduli, terapi kenyataannya Al seperti memikirkan juga. “Jadi, ke mana kita?” Tanyaku akhirnya setelah kami berdua diam beberapa saat. “Beli ponsel.” Aku yakin untuk mengganti milik Chana yang dirusaknya ketika marah sebelumnya. “Jadi? Customer kamu beli mobil cashnya?” “Jadi.” “Syukurlah.” Ucapku singkat. Aku tahu ini berbeda, makanya suasana di antara kami tidak nyaman. Kalimat serius juga singkat dari Al membuat kesan percakapan berat sebelah pihak. Kemudian kami singgah ke sebuah kedai ponsel dan Al memang membeli ponsel baru yang tak mirip seperti milik Chana sebelumnya. Tipe yang Al sebutkan sudah tak diproduksi lagi, model dan tipe baru bervariasi terpaksa jadi pengganti. Al membeli yang cuku

