Aku mundur bersedekap tangan. Manis, Alfarisi itu saat merayu. Dia pandai sekali menipu. Dia juga pandai beraksi di atas tempat tidur. Yah, dia memang cerdas sekali memanfaatkan apa-apa yang ada pada dirinya, semuanya. “Qi ....” Al mengerjap merayu. “Honey, plis.” “Habis itu nanti kamu hina-hina aku, ya kan?!” sentakku kasar. Al berkerut kening, “Suuzon, Qiya. Aku sayang sama kamu, Qi. Lagi bahagia banget lho aku bisa sembuh gini. Makasih banyak atas bantuannya. Aku bukan orang yang gak tau berterima kasih, Qiya.” “Terus, maksudnya apa minta aku lepas baju gitu?!” “Biar kamu nyaman, Qiya. Aku ajak kamu tidur bareng. Gak ada perempuan yang gak suka digituin setelah bercin-ta. Aku tinggin ego kamu, Qi. Makanya aku yang minta, ngemis-ngemis sama kamu. Perempuan lain mana mau aku rendahin

