Aku bangun. Pagi sekali, subuh saja belum padahal masih haid. Tak tahu harus apa, tapi rasa-rasa lapar terasa. Aku bangkit dan berencana menyiapkan sarapan atau menemukan apa saja di kulkas untuk dimakan. Saat membuka pintu kamar aku mencium aroma sabun mandi. Tak ada orang lain selain Al. Kami punya kamar mandi dengan peralataan mandi masing-masing. Tak perlu dijelaskan lagi. Aku menutup kembali pintu daripada melihatnya telanjang da-da sepagi ini. Aku menempelkan telinga di pintu. Saat suara langkahnya dan pintu sebelah tertutup barulah aku membuka diri lagi dan meneruskan rencana semula. "Pagi, Qi." Aku terlonjak kaget oleh sapaannya. "P-pagi." Al sudah berpakaian lengkap ternyata. Seperti biasa celana kolor dan kaos singlet. Rambutnya masih tampak basah. Helainya yang hitam tersi

