Sudah lama kami tak bertemu. Sampai-sampai menguap semua rindu dan kasih sayang yang pernah ada dari hatiku untuknya. El tampak sehat, masih menampilkan wajah kecewa atas aku yang memilih melanjutkan hidup tanpanya. Bersyukur sekali hari itu aku bertemu Al dan mengurungkan niat untuk bertemu malaikat maut. "Kamu bisa menjelaskan, bisa juga mengabaikan," tegurku karena El hanya diam setelah aku menyudutkannya yang menghilang tanpa kabar. Rasanya benar-benar mustahil El tak bisa menemukan satu cara untuk menghubungiku di zaman ini, kecuali dia memang tak ingin melakukannya. "Aku terlalu sibuk mengurus banyak hal. Maafin aku, Qi. Sebulan itu benar-benar keadaan yang darurat. Adikku juga gagal menikah. Aku menangis, memohon mereka merestui kita. Aku juga rela melepas margaku untukmu. Apa pun

