Kami menemani Chana ke pantai. Solat subuh di musola dekat sana lalu duduk di atas batu besar sambil ditemani angin dingin dan udara segar. Chana memakai jaket Al sambil menghadap langit dan lautan yang bersatu. "Apa yang akan Ibu lakukan terhadap Winwin?" tanya Al berat. "Apalagi selain menerimanya." Chana duduk di tengah-tengah antara aku dan Al. "Dia sudah berbaik hati tak menggugurkan janin itu. Setidaknya anak itu nantinya, mungkin dia mau menjadi pewaris ayahmu." "Aku orang asing, apa ada yang membawa penyumbat telinga? Atau aku menjauh saja. Menunggu di mobil misalnya," kataku tak nyaman oleh percakapan pribadi mereka. "Kamu di sini saja." Chana menarikku untuk duduk kembali. "Semalam dan sejak kemarin kamu terus memanggilku Ibu. Bagaimana mungkin orang asing merengek sambil me

