Tiga hari kemudian aku masih meragukan semua perkataan Chana tentang Al. Aku sungguh khawatir Chana menjebakku sehingga Al mungkin saja akan menyerangku. Mungkim Chana berdusta sehingga aku benar-benar menjadi menantu dan mengandung cucunya. Seingatku, gay juga bisa produktif. Aku bergidik. Itu mengerikan. Bercinta dengan Al. Subhanallah, ini mengotori otakku. Namun, bagaimana kalau semuanya benar? Al sedang sakit? Chana butuh bantuanku untuk memulihkan putranya itu. "Qi...!" Aku mengangkat wajah padanya, "Hm?" "Melamun saja di kamarmu," usirnya jelas. Kami sedang duduk menghimpit meja makan. Al dengan cemilannya, aku dengan pikiranku. "Aku sedang berpikir, bukan melamun. Ibumu itu orang yang bagaimana?" "Dia seperti yang kamu kenal," jawabnya santai. "Dia licik," sahutku dipenuhi pe

