Aku sudah tahu bagaimana Al dan kehidupannya sebelum bersamaku, tapi ... tapi ‘kan ... aku berharap dia berubah. “Gak tau kenapa. Gak bisa, Qi. Udah buka-bukaan juga dia, tetap gak minat gitu,” keluh Al mengiba. Inginku menghardiknya dengan kata-kata kasar, tapi sebagai istri aku sadar diri, kesalahanku juga menolaknya kemarin malam. “Bentar. Kebabnya udah selesai.” “Ini Mbak.” Penjual burger dan kebab menyerahkan kantong kepadaku. Senyumannya manis, tapi aku dengan kasarnya menerima bungkusan itu. “Makasih,” ucapku tak ramah, menyerahkan uang lalu menjauh. Dekat dengan motor, aku menempelkan lagi ponsel ke telinga yang tertutup jilbab. “Aku pulang dulu aja ya. Biar bicara di rumah.” “Kamu belinya jauh?” “Enggak. Deket kok.” “Oh. Iya deh.” Panggilan diputus. Tak sampai sepuluh me

