Di K 2

1671 Words

Aku benci Alfarisi. Aku lelah dengan perasaanku sendiri. Tangisku terus bergulir. Aku lelah sekali, sampai-sampai membiarkan Al, yang menyakitiku mengobati sakit itu dengan pelukannya. Aneh, memang tak masuk logika sama sekali. Dia yang membuat kesal, dia juga yang berusaha memulihkan. “Aku laper lho, Qi. Dibilangin jangan nangis,” ujarnya pelan, mengusap rambutku. Aku melepas pelukan, menyeka air mata. Tanganku menengadah, “Kunci kamar.” “Mau ke mana?” “Gak tau. Aku cuma gak mau liat kamu.” “Kalo aku masalahnya, ya udah di sini aja.” “Al ... tolonglah, capek aku!” mohonku memelas. “Beneran, Qi. Percuma kamu lari ke ujung dunia, kalo aku masalahnya, pikiran kamu bakal terus ke aku juga. Konsep di kepala manusia gitu, Qiya.” Tanganku melemas, lunglai. Dia benar pula. Sialan sekal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD