Al membukakan penutup mataku. Yang terlihat setelah kabur pandanganku adalah ... entah mengapa, aku tahu tempat ini. Club atau tempat diskotek atau yang semacam itu. "Tau ini di mana?" Tanya Al menyapa telingaku. Aku memandangnya dalam remang-remang lampu. "Enggak, tapi pernah lihat yang begini di film-film. Ini di Bangka, Al?!" "Iya, Qi." Aku tak percaya. Kupikir tempat semacam ini hanya ada di film dan kota besar saja. "Kamu pasti belum pernah ke tempat kayak gini, ya kan? Makanya aku tutup mata sama telinga kamu. Jangan balik ke sini lagi!" Alfarisi memang manusia yang tak bisa ditebak jalan pikirnya. "Terus, ngapain bawa aku ke sini, Al?! Mana gak ada pula yang pake jilbab di sini!" Al membawaku duduk di sofa. Bebebrapa perempuan berpakaian minim langsung mendatangi Al, bukan k

