Waktu telah merangkak menuju angka tujuh malam, menggoreskan keheningan yang mencekam di ruang kerja Laura. Lampu meja yang redup memeluk wajahnya, menyoroti setiap lekuk tegang dari ekspresi yang terpahat oleh beban pekerjaan dan mungkin, luka yang belum sembuh. Ia duduk sendiri, tenggelam dalam tumpukan dokumen yang tak kunjung usai, seperti menyembunyikan dirinya dari kenyataan yang terus mengetuk pintu. Langkah berat terdengar mendekat, memecah keheningan. Smith muncul di ambang pintu, siluetnya membayang di bawah cahaya koridor. Ia melangkah perlahan, mendekati Laura, dan tanpa sepatah kata, meletakkan kunci mobil di atas meja kayu yang dingin. Kunci itu berkilauan, seakan membawa pesan yang lebih dari sekadar benda mati. Laura menoleh, menatap kunci itu dengan tatapan penuh c

