“Aku benar-benar terkejut saat mendapat pesan darimu,” ujar Diana, menggeleng-gelengkan kepala, matanya berbinar seolah tak percaya. Ia melirik Laura dengan senyum penuh kelegaan sebelum duduk di hadapannya. Di restoran yang temaram ini, cahaya lampu gantung yang hangat memantulkan rona keemasan di wajah mereka, menciptakan suasana yang hampir melukis keintiman. Laura terkekeh pelan, suaranya seperti dentingan halus di tengah malam. “Yeah. Smith sedang baik padaku, maka dari itu dia memintaku untuk pulang lebih dulu. Tapi, dia masih ada di kantor. Entah apa yang sedang dia lakukan,” katanya dengan nada santai, sembari memainkan sendok di tangannya. Diana mengibaskan tangannya, gerakannya seperti angin sepoi yang menyapu daun-daun gugur. “Biarkan saja. Dia telah mencuri waktu kita, kau ta

