“Selamat malam, Tuan. Saya ingin melaporkan bahwa Nona Laura makan malam bersama sahabatnya, Diana,” suara dari seberang telepon terdengar tenang, seperti angin yang menyelusup di antara tirai gelap malam. Smith, yang tengah bersandar di kursi kerjanya, memejamkan mata sejenak, tangannya mencengkeram telepon dengan gerakan kecil yang nyaris tak terlihat. “Apakah dia sudah kembali ke rumahnya?” tanyanya, nada suaranya terdengar datar, namun ada sesuatu di dalamnya, seolah-olah setiap kata yang terucap membawa beban yang tak tertanggungkan. “Sudah, Tuan. Dan sepertinya Nona Laura tidak minum-minum. Dia langsung pulang ke apartemennya menggunakan mobil pribadi,” jawab suara itu lagi, tenang, hampir tanpa emosi. Smith mengangguk-anggukkan kepalanya, meski tak ada seorang pun yang melihatn

