Smith menemui Vincent kemudian memberikan iPad-nya yang berisi rekaman CCTV orang-orang yang menggunjing Laura. Layar itu menampilkan adegan-adegan yang mencabik rasa, seperti duri-duri kecil yang menancap perlahan di daging. “Apa kau tahu tentang ini?” tanya Smith, suaranya mengendap seperti badai yang mereda. Matanya menatap Vincent, seakan mencari kejujuran di kedalaman irisnya. Vincent mengangguk pelan, seolah setiap gerakan itu membawa beban seberat gunung. “Ya. Aku tahu. Banyak sekali yang iri dengan prestasi Laura,” ucapnya dengan nada yang terdengar seperti pengakuan dosa. Kata-katanya terbungkus kepahitan yang tak tersembunyi, menggantung di udara seperti aroma hujan yang belum turun. Smith menaikkan kedua alisnya, gerakan kecil yang seolah memancarkan gelombang ketidakpercay

