“Sepertinya tidak berhasil, Dad,” ujar Louis dengan nada ringan yang sarat dengan keletihan tersembunyi, melangkah ke ruang keluarga tempat Vincent sedang duduk menonton televisi. Aura ruangan yang sebelumnya tenang berubah sedikit lebih berat saat Louis menurunkan tubuhnya ke sofa di samping sang ayah, gerakannya lesu, seperti seorang prajurit yang baru pulang dari medan perang tanpa kemenangan. Ia mengembungkan pipinya, sebuah isyarat kecil yang menunjukkan rasa frustrasinya. “Sepertinya Smith semakin dingin dan tertekan karena memiliki sekretaris yang hampir menghilangkan nyawanya,” ucapnya, nada suaranya seperti angin yang meniupkan api kecil. Vincent menoleh, tatapan matanya yang tajam seperti berusaha menembus dinding kata-kata yang baru saja diucapkan anaknya. “Apa maksudmu, L

