Sudah satu minggu lamanya Laura menjadi sekretaris pribadi Smith. Selama satu minggu itu pula dia selalu ikut lembur bahkan sampai tengah malam atas perintah sang atasan—Smith. Rutinitasnya kini terasa seperti sebuah jam pasir yang tak kunjung habis, pasirnya terus menurun meski tubuhnya mulai lelah, dan hatinya semakin terbebani oleh beban yang tak terlihat namun semakin berat. Langit yang gelap pada malam hari bukanlah temannya, hanya lonceng-lonceng tugas yang terus berdentang, meremukkan setiap secercah harapan akan tidur yang tenang. “Selamat sore, Laura. Bagaimana tidurmu? Apakah masih mengantuk?” sapa Diana dengan senyum menggoda Laura, seolah dunia di sekeliling mereka tetap berputar dengan ringan. Namun di balik senyum itu, ada kilatan yang bisa Laura baca—sebuah kenyamanan

