Part 04 Pulang Kerumah

822 Words
Malam semakin larut. Acara Surabaya carnival pun telah usai di gelar dengan meriah. Anindiya sangat bahagia sekali bisa ikut andil dalam acara besar di tanah kelahirannya. Meskipun ia harus merasa kesal karena ulah Damian. “Nin, kamu langsung pulang ke kosan?” tanya mbak Retno. “Enggak, mbak. Anin pulang ke rumah nenek. Karena udah janji sama nenek juga,” ucap Anindiya. “Besok berarti kamu gak bisa ikut kumpul-kumpul bareng anak-anak WO?” tanya mbak Retno. “Maaf, mbak. Gak bisa. Karena sudah janji lebih dulu sama nenek. Mbak Retno tahu sendiri bagaimana kalau nenek lagi marah,” ucap Anindiya. Mbak Retno mengangguk memaklumi Anindiya. Karena ia juga tahu kalau nenek Anindiya tidak suka kalau perintahnya sampai di tentang. Meskipun itu Anindiya sang cucu kesayangannya. “Ya sudah hati-hati di jalan, Nin. Salam buat nenek Hamida,” ucap mbak Retno. “Siap, mbak,” ucap Anindiya. Anindiya meninggalkan Surabaya carnival menuju Grab yang tadi sudah ia pesan. “Mbak, Anindiya,” ucap sopir Grab yang tadi di pesan Anindiya melalui aplikasi Grab. Anindiya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam mobil. Anindiya menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Dia benar-benar sangat lelah seharian bekerja. “Ini mau ke arah Citraland sebelah mana mbak? Apa mau ke rumah teman mbak? Karena setahu saya Citraland sarangnya crazy rich Surabaya, mbak,” ucap sang supir Grab. Anindiya yang mendengarnya cuma bisa tersenyum. “Antarkan saja saya kesana, pak,” ucap Anindiya. Mobil melaju di jalanan kota Surabaya yang terlihat senggang. Anindiya mencoba memejamkan matanya untuk beberapa saat. Sekitar 15 menitan Anindiya sampai di depan perumahan Citraland. “Mbak, sudah sampai Citraland,” ucap sang sopir. Anindiya yang mendengar suara sopir grab, ia langsung bangun dan melihat sekeliling dan ternyata memang benar sudah sampai Citraland. “Ini pak uangnya. Amibil saja kembaliannya,” ucap Anindiya sambil memberikan uang 200.000 kepada sang sopir grab. “Mbak, ini terlalu banyak,” ucap pak sopir. “Itu rizky bapak. Jadi tolong terima,” ucap Anindiya sebelum ia berjalan meninggalkan pak sopir. “Untung jaraknya tidak terlalu jauh ke rumah,” ucap Anindiya. Sebelum Anindiya masuk ke arah rumahnya, Anindiya harus di periksa dulu di pos keamanan. Para keamanan yang sudah lama pada kaget saat Anindiya di periksa oleh keamanan baru. “Berhenti, itu Mbak Anindiya. Salah satu pemilik rumah yang ada di Citraland ini,” ucap salah satu keamanan. “Jangan berlebihan, pak. Saya masuk dulu kalau gitu,” ucap Anindiya. Anindiya masuk ke arah kompleks rumahnya. Sering kali Anindiya merindukan kehidupannya yang dulu masih terlihat harmonis. Menjadi putri kecil yang selalu berlimpah kasih sayang. Anindiya sudah sampai di depan rumahnya. Rumah berwarna putih dengan pagar menjulang tinggi. Semakin membuat rumah Anindiya terlihat mewah dan elegant. Anindiya menempelkan telapak tangannya di fingerprint yang ada di gerbang rumahnya. Gerbang terbuka secara otomatis. Anindiya masuk ke dalam dan gerbang tertutup secara otomatis. Para keamanan masih tetap berjaga-jaga meskipun sudah larut malam. “Malam, Non Anindiya,” ucap pak Man ketua keamanan rumahnya. “Malam, Pak Man,” ucap Anindiya. Setelah sedikit mengobrol dengan pak Man. Anindiya masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang jarang sekali Anindiya tempati. Anindiya menghela nafas kasar saat masuk ke dalam rumah. “Pulang lagi kesini. Kenapa terlalu sulit aku melupakan kenangan pahit itu. Terlalu menyedihkan hidupku terbayang-bayang masa lalu,” batin Anindiya. Anindiya berjalan menuju lift. Anindiya menempelkan telapak tangannya. Lift pun terbuka. Anindiya masuk ke dalam lift dan lift tertutup secara otomatis. Tak berselang lama lift terbuka tepat di depan kamar Anindiya. Anindiya masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang King size miliknya. ***** Damian tidak bisa tidur memikirkan wajah sinis Anindiya saat menatap wajahnya. Wajah cantik alami tanpa ada polesan berlebihan di wajah cantiknya. Bagaimana dia berbicara dan menatap lawan berbicaranya membuat Damian penasaran sosok Anindiya. Satu-satunya wanita yang tidak tertarik padanya. “Wanita aneh,” ucap Damian sambil tersenyum simpul membayangkan wajah Anindiya. Damian menatap langit-langit kamarnya. Besok ia harus ke Malang bertemu dengan sang kakek. Satu-satunya keluarga yang di miliki Damian. Semenjak kedua orang tuanya kecelakaan saat mau meninjau proyek yang ada di Singapura. Damian mulai hidup dengan sang kakek mulai umur 5 tahun. Setelah usianya 20 tahun, Damian mulai mengambil alih perusahaan keluarganya, Magata Corporation. Setelah perusahaan di ambil alih oleh Damian, sang kakek memutuskan untuk tinggal di Malang. Lebih tepatnya di kawasan Batu. Menikmati masa tuanya, melihat perkembangan perkebunan teh dan sayuran miliknya. Dulu sempat di cegah oleh Damian. Tapi sang kakek tetap bersikeras untuk tinggal di Malang. Alasannya cuma satu, ingin menghirup udara pegunungan yang menyejukkan. Dan kembali hidup di Malang, tempat kelahiran sang kakek. Jadi Damian mau tidak mau selalu menyempatkan ke Malang untuk melihat keadaan sang kakek. Memantau kesehatan sang kakek setiap saat. Karena buat Damian sang kakek adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Damian mengambil ponselnya. Melihat jadwal yang di kirim sekertaris pribadinya. Ia tidak ingin di ganggu saat dia berada di Malang menemani sang kakek. Karena Damian tahu kalau saat bersama sang kakek, Damian masih mengurusi bisnisnya, sang kakek pasti marah. ***** Biarkanlah waktu yang mempertemukan Dua insan yang saling berbeda Perbedaan yang menjadi satu Di antara cinta dan asa *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD