Sedangkan Heri sekeluarnya dari rumah, dia terus berjalan menapaki jalan besar, ketika ada jalan setapak dia berbelok lalu masuk menuju petakan sawah. dia terus berjalan hingga akhirnya dia tiba di salah satu sawah yang terbengkalai, seperti tidak diurus karena rumput sudah memenuhi sawah itu.
"Kenapa si darmini sawahnya tidak digarap, Bagaimana mau sukses kalau dia malas seperti ini?" gumam Heri sambil berjalan mendekat ke arah Saung Yang Sudah usang, dia merasa tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang menuntut dirinya untuk sukses, tapi istrinya tidak mau mengurus harta yang segitu-gitunya.
Setelah berada di dalam Saung, Heri pun duduk di pelupuh yang terbuat dari bambu yang dicacah, matanya menatap ke arah sawah yang lain, terlihat padinya sedang hijau namun keadaan waktu yang sudah sore membuatnya terlihat berubah warna menjadi sedikit kuning keemasan, dia menarik nafas ketika melihat sawahnya yang hanya ditumbuhi rerumputan liar.
Keadaan waktu itu terasa sangat sunyi, hanya suara gerapung yang di sahuti oleh suara burung-burung yang berkicau dari atas pohon duren. maklum Heri datang ke sawah bukan tepat pada waktunya biasanya orang-orang akan pergi ke tempat kerjanya. Karena kebiasaannya orang-orang akan mendatangi sawah di pagi hari sampai Zuhur, setelah habis zuhur para petani akan mengurus ternaknya dengan mencari rumput, tapi ada pula yang orang bekerja di sawah sampai waktu Ashar, kalau mereka tidak memiliki peliharaan hewan ternak.
"Kalau aku sudah bertemu Wali itu, maka sawah ini akan aku jual. percuma ada juga kalau tidak ditanami, Mendingan aku jual agar Uangnya bisa dilipat gandakan," pikiran Heri mulai ngelantur kembali, dia tidak pernah kapok dengan apa yang sudah menimpanya.
Waktu pun terus melaju, matahari semakin mendekat ke arah ubun-ubun gunung, hingga lama-kelamaan sang surya itu bersembunyi ke baliknya, membuat suasana mulai terlihat meredup, diikuti dengan sayup-sayup anak kecil yang bersholawatan di masjid, menandakan sebentar lagi waktu salat akan tiba.
Heri yang masih memiliki banyak pertanyaan terhadap pak ustad, dengan malas dia pun bangkit dari tempat duduknya, sebelum pergi dia menepuk-nepuk celananya takut kotor karena dia duduk di pelupuh yang banyak debu. setelah itu dia pun berjalan menyusuri pematang sawah hingga Tak lama kemudian dia tiba di belakang rumahnya. sebenarnya sawah yang dia miliki tidak jauh dari rumah, hanya terhalang oleh kebun yang sama tidak terurus juga karena dia memang benar-benar pemalas. sedangkan istrinya bukan pemalas, tapi dia tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu karena kesehariannya disibukkan di pasar.
Sesampainya di rumah, dia tidak mampir terlebih dahulu dia terus menuju ke arah Masjid untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. selesai melaksanakan salat Ia pun membaca wirid-wirid yang ia dapat dari Wonosari, ketika dia tinggal di padepokan Dimas Kanjeng.
Heri yang awalnya mau bertanya dengan pak ustad, dia tidak jadi menjalankan niatnya karena setelah melaksanakan salat magrib pak ustad disibukan dengan mengajar ngaji anak-anak kampung Donorojo. sehingga sambil menunggu Heri pun melakukan hal yang menurutnya benar, sambil menunggu adzan isya berkumandang.
Setelah selesai melaksanakan salat isya, Heri menunggu Pak Ustad yang sedang melaksanakan salat sunnah. walaupun Karsa mengajaknya untuk pulang bersama tapi dia menolak, karena masih penasaran dengan obrolan tadi sore ketika berada di rumah Pak Wisman.
Selesai melaksanakan salat, Pak ustad pun terlihat mengangkat tangannya Sepertinya beliau sedang memanjatkan doa, membuat Heri merasa bahagia karena dia tidak akan lama lagi menunggu. benar saja setelah mengusapkan Kedua telapak tangannya ke wajah, Pak ustad pun keluar dari masjid, namun dia sedikit terkejut ketika di pintu pagar terlihat Heri Masih Berdiri.
"Ada apa Mas Heri?" tanya pak ustad yang menatap heran.
"Ganggu nggak pak ustad, Kalau nggak ganggu saya ingin mengobrol dan bertanya."
"Nggak kok, Ya sudah ayo kita mau ngobrolnya di rumah saja!" ajak pak ustad sambil berjalan duluan, Tak lupa dia menutup pintu pagar masjid, takut ada hewan anjing yang masuk ke dalam.
Mendapat sambutan hangat seperti itu, membuat Heri merasa bahagia, dengan segera dia pun berjalan di belakang pak ustad untuk bersama-sama menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, dengan segera pak ustad pun mengganti baju Kokonya dengan kaos, lalu dia pun duduk di kursi yang berada di ruang tamu. sebelum mengobrol dari arah dalam terlihat istrinya membawa air minum, ditambah dengan cemilannya."
"Mau kopi hitam, apa Kopi s**u Mas Heri?" tanya istri pak ustad yang terlihat sangat ramah.
"Ah, nggak usah repot-repot Bu! ini juga sudah cukup merepotkan," jawab Heri yang terlihat malu-malu.
"Kopi hitam aja Bu, biasanya Mas Heri ngopi hitam kan?" Timpal pak ustad sambil melirik ke arah tamunya.
"Nggak usah repot-repot pak ustad, beneran ini juga sudah sangat cukup."
Mendapat jawaban dari Heri, istri Pak ustad pun tidak berbicara lagi, dia masuk kembali ke dalam lalu terdengar suara ceklekan gas yang dinyalakan membuat Heri merasa tidak enak, namun keingintahuannya mengalahkan semuanya.
"Kerja di mana sekarang Mas," tanya pak ustad mengawali pembicaraan, sambil mengambil sebatang rokok lalu dibakarnya.
"Saya kerja membuka tambal ban di daerah Wonosari pak ustad."
"Oh yang kasus itu ya, bagaimana itu ceritanya bisa seperti itu, kalau saya lihat berita di TV korbannya sampai puluhan ribu yah?"
"Cerita jelasnya Saya kurang tahu pak ustad, karena meski tempat kerja saya tidak terlalu jauh tapi mereka sangat tertutup dengan dunia luar. Tapi menurut selentingan kabar, bahwa Dimas Kanjeng itu memiliki kemampuan menggandakan uang dengan video-video yang beredar berlatarkan kepokan uang, yang menurut keterangannya itu adalah hasil penarikan dari bank gaib, dan yang lebih membuat para pengikutnya meyakini, orang-orang yang menitipkan uang terhadapnya bukan hanya dari golongan orang miskin, banyak orang-orang ternama bahkan pengusaha-pengusaha terkenal ikut berinvestasi di Bank gaib itu, sehingga sampai ada yang tertipu 200 miliar."
"Yang benar Mas Heri?" tanya Pak Ustad seolah tidak percaya.
"Menurut beritanya sih seperti itu pak ustad, dia seorang perempuan dari luar pulau. kira-kira orang itu menggunakan ilmu apa ya sampai para pengikutnya bisa manut seperti itu?" jawab Heri balik bertanya.
"Yah kurang tahu Mas Heri, tapi kalau orang sudah dibutakan dengan kekayaan, mereka tidak bisa menggunakan akal Sehatnya, yang ada di pikiran mereka hanyalah uang dan uang, sehingga tidak sadar kalau sebenarnya mereka sedang ditipu. kejadian seperti ini pasti akan terus terjadi karena keyakinan yang sudah sangat tebal, apalagi terus dipupuk sampai banyak pengikutnya yang menjadi santri di tempat itu." jawab Pak Ustad yang dibenarkan oleh hati Heri karena Awalnya dia sangat percaya dengan kesaktian gurunya.
"Emang beneran pak ustad, orang itu bisa menggandakan uang?"
"Siapa?"
"Ya itu! Dimas Kanjeng."
"Menurut berita yang beredar di televisi. Kanjeng Dimas itu hanya menggunakan trik sulap dan trik pertunjukan, bahkan sekarang sudah dibongkar bahwa uang yang dikeluarkan, itu berasal dari kantong baju gamis yang sengaja dibesarkan, agar mampu menampung gepokan uang yang banyak. dan kalau ada orang yang bisa menggandakan uang mereka tidak akan memamerkannya di halayak ramai, karena sudah bisa dipastikan dia akan menjadi rebutan para mafia atau para orang jahat untuk bekerja di tempatnya. Jadi ke depannya kita tidak harus percaya dengan orang-orang yang mampu melipatgandakan uang, karena itu sangat mustahil. bahkan pemerintah saja mereka yang punya kewenangan mencetak uang, mereka tidak melakukannya, karena itu akan menjadikan ketidakseimbangan neraca keuangan negara, nanti bisa-bisa uang kita menjadi tidak berharga kalau pencetakan uang tidak dibatasi." jawab Pak Ustad menjelaskan panjang lebar karena sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberikan ilmu yang ia miliki.
Dari arah dalam rumah, terlihat istrinya datang kembali dengan membawa nampan yang berisi dua gelas kopi panas karena masih terlihat asap mengepul di atasnya. setelah mempersilahkan tamunya untuk menikmati jamuan, istri Pak ustad pun masuk kembali ke dalam dan tidak keluar lagi karena dia tidak memiliki kepentingan.
"Diminum kopinya Mas, mumpung masih panas." tawar pak ustad sambil mengambil gelas bagiannya kemudian menempelkan ke bibir, lalu menyeruputnya dengan begitu nikmat.
"Terima kasih pak ustad! Jadi nggak enak nih saya merepotkan."
"Ah, hanya kopi Mas, tidak merepotkan kok!" jawab Pak Ustad yang meletakkan kembali gelasnya.
Heri pun mengambil gelas bagiannya, kemudian dia meneguk kopinya yang masih terasa panas namun membuat perutnya merasa nikmat. Setelah meletakkan gelasnya kembali dia mengeluarkan bungkusan rokok lalu membakarnya mengikuti tuan rumah, Sehingga ruang tamu pun terlihat seperti kebakaran.
"Oh iya Mas, ada apa? maksudnya ada keperluan menemui saya, Maaf kalau saya cepat-cepat bertanya?" tanya tuan rumah dengan wajah serius.
"Ah tidak ada apa-apa pak ustad, Saya hanya mau bersilaturahmi saja, Lagian Saya sudah lama tidak mengobrol dengan pak ustad."
"Syukur kalau seperti itu, memang seharusnya kita sebagai tetangga Kampung menjaga kerukunan antar Tetangga, salah satunya dengan bersilaturahmi. tapi kalau ada sesuatu yang bisa saya bantu silahkan utarakan jangan sengan-senggan. kalau bisa, Insya Allah saya pasti bantu, tapi kalau tidak ya mohon maaf! hehehe," ujar pak ustad yang terlihat mengulum senyum.