"Terima kasih atas sambutannya Pak Ustadz Sebenarnya saya ke sini ada yang masih mengganjal dalam pemikiran saya," jawab Heri mulai menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Mengganjal bagaimana, mohon maaf kalau ada perkataan saya yang kurang berkenan di hati Mas Heri," ujar pak ustad yang terlihat sangat rendah hati, sehingga dengan cepat dia meminta maaf walaupun belum diketahui kesalahannya.
"Bukan....., bukan seperti itu pak ustad!"
"Terus bagaimana?" tanya pak ustad yang mengerutkan dahi.
"Begini Pak Ustad, saya masih terpikir tentang obrolan kita tadi sore di rumah Pak Wisman tentang Wali."
"Iya kenapa dengan Para wali?"
"Saya mau bertanya Apakah benar Wali itu ada."
"Benar Wali itu ada, karena yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa adalah para wali, yang masyhur dengan sebutan Wali Songo. emang kenapa?:
"Begini Pak Ustad mohon maaf kalau pertanyaan saya salah, apa benar mereka memiliki Karomah, tolong buktikan terhadap saya kalau mereka memiliki kemuliaan itu!"
"Benar, salah satu karomahnya, Lihatlah makam tempat dikuburnya jasad-jasad mereka yang selalu dipenuhi para pengunjung setiap hari, Bahkan dengan adanya kuburan Mereka, banyak para UMKM UMKM di sekitar kuburan yang merasakan karomahnya, dengan dibelinya jualan mereka. itu yang bisa kita lihat sekarang dan untuk karomah-karamah yang lainnya seperti yang sudah kita dengar dari riwayat-riwayat yang diceritakan oleh para orang-orang terdahulu."
"Iya, benar ya." hanya kata itu yang terlontar dari mulut Heri karena penjelasan dari pak ustad sangat Dia Mengerti, namun dia masih bingung bagaimana cara mengobrol dan meminta tolong dengan kuburan, agar bisa melipatgandakan uangnya.
"Yah begitulah karomahnya para orang-orang yang dikasih oleh Allah, jangankan semasa hidupnya sesudah meninggal mereka tetap memberikan manfaat bagi orang lain."
"Satu lagi pak ustad! pertanyaan saya. apa sekarang tidak ada Wali setelah meninggal Wali Songo itu?"
"Jawabannya bisa jadi iya, bisa jadi tidak."
"Kenapa?"
"Karena para Wali Allah tidak bisa diketahui dengan kasat mata, seperti pandangan mata kita. para Wali Allah akan diketahui dengan orang-orang yang bergelar sama."
"Jadi bagaimana kalau kita ingin bertemu dengan mereka."
"Wallahualam, Saya tidak bisa menjawab kalau masalah itu. tapi sebentar Kenapa Mas Heri tertarik dengan para wali?" jawab Pak Ustad membalikkan pertanyaan.
"Tidak apa-apa Pak Ustad, Saya ingin bertemu saja dengan para orang-orang hebat itu, saya ingin berguru kepada mereka, Siapa tahu saja kehidupan saya bisa menjadi lebih baik."
"Menjadi lebih baik dalam bidang?"
"Ya biar hidup saya tidak suka-susah amat Pak Ustad, kalau kita kenal dengan wali Allah mungkin Apa keinginan kita bisa segera di acc olehNya, kalau yang mengajukan orang kepercayaannya."
"Astagfirullahaladzim Mas Heri, Mas Heri....! itu niat yang salah kalau kita mau kenal dengan wali Allah Minimal kita ingin mengetahui lebih dekat tentang siapa sebenarnya Dzat yang kita sembah, karena kalau untuk mencari kekayaan itu sudah keluar dari aturan."
"Kenapa memang pak ustad?"
"Karena kalau tujuannya hanya untuk mengejar haliyah dunia, maka Tuhan kita adalah dunia bukan Allah. awas jangan salah niat, nanti kita bisa termasuk dengan orang-orang yang kufur."
"Jadi salah dong kalau kita ingin kaya?"
"Tidak salah Mas Heri, tapi cara menggunakan kekayaan itu, cara mendapatkan kekayaan itu, yang harus dipertimbangkan. karena pekerjaan yang salah akan menghasilkan hasil yang salah pula sama seperti niat ketika niatnya salah maka akan menghasilkan pekerjaan yang salah pula."
"Terus bagaimana agar kekayaan itu menjadi benar?"
"Maksudnya benar menurut ajaran Islam?:
"Yah begitu pak ustad!"
"Jadi begini Mas Heri, Kita sebagai manusia wajib hukumnya untuk bekerja keras sesuai dengan kemampuan kita, antara kaya atau tidak Itu adalah urusan Allah. namun seperti yang sudah saya jelaskan tadi sore apapun yang kita jalani dalam rangka menjalani kehidupan ini itu adalah pilihan yang terbaik yang diberikan oleh Allah, kita harus bersabar ketika mendapat ujian dan harus bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan. ujian dan kenikmatan, sedih dan bahagia itu kedua-duanya ujian yang harus kita lalui, Islam tidak melarang untuk orang-orang menjadi kaya raya, tapi Islam melarang cara-cara yang tidak baik mendapatkan kekayaan itu."
"Terus bagaimana kalau kita berdoa meminta kekayaan?:
"Dianjurkan, Bahkan dalam Alquran dijelaskan doa yang paling baik adalah Robbana Atina Fiddunya Hasanah wa fil akhiroti Hasanah waqina azabannar. di dunia harus baik di akhirat juga harus baik."
"Kalau meminta Wali untuk mendoakan kita agar menjadi kaya Bagaimana hukumnya?"
"Dilihat dari kitanya sendiri, Apa keyakinan kita sudah kuat atau belum."
"Maksudnya bagaimana?"
"Jangan sampai kita mau minta tolong terhadap orang kita lebih percaya dengan kekuatan orang itu, bukan percaya dengan kekuatan Allah yang memberikan kekuatan terhadap makhlukNya. sekarang banyak orang yang lebih percaya dengan kekuatan obat, daripada dzat yang memberikan kesembuhannya. Nah untuk itu keimanan kita diuji kembali jangan sampai kita salah niat, berusaha dengan meminta pertolongan orang lain itu sangat dianjurkan, tapi jangan sampai kita lebih mempercayai obatnya daripada Dzat yang menyembuhkannya," jawab Pak Ustad dengan sabar menjelaskan karena dia sadar bahwa memberikan penjelasan terhadap orang yang tidak tahu itu adalah tanggung jawabnya sesuai dengan ilmu yang dia miliki.
"Terima kasih banyak Pak Ustad atas penjelasannya, Saya sangat mengerti dengan apa yang disampaikan.
"Yah sama-sama Mas Heri, kalau saya tahu pasti saya akan jawab, tapi kalau saya tidak tahu Mohon maaf saya tidak bisa memberitahu Karena manusia itu terbatas."
Akhirnya mereka pun terus mengobrol membahas hal-hal yang lebih ringan, mulai dari pertanian, pekerjaan, kebutuhan sehari-hari. dalam hati Heri sebenarnya Dia sedikit kecewa karena Pak Ustad tidak mengetahui Di mana keberadaan Wali yang diceritakannya, sehingga niatnya tidak tercapai, niat yang ingin sukses dari hal yang tidak masuk akal.
Obrolan itu terus berlanjut, namun Heri yang masih penasaran dengan wali, dia terus bertanya tidak jauh dari masalah itu.
"Bagaimana kalau kita bertakziah ke kuburan para wali?" tanya Heri di sela-sela obrolannya.
"Seperti yang sudah tadi saya jelaskan, tergantung niat kita, kalau kita hanya untuk bertafakur mengagumi Karomah para Aulia Allah, maka itu tidak di jadi masalah."
"Yang jadi masalah itu seperti apa pak ustad?:
"Yang jadi masalah ketika kita bertakziah ke kuburan, kita meminta-minta terhadap kuburan itu, sehingga masih seperti yang tadi sudah saya bilang jangan sampai kita berkeyakinan dengan obat, sampai melupakan Dzat yang menyembuhkan."
"Kalau begitu bagaimana kalau saya mau bertakziah ke kuburan Wali, kira-kira ada nggak yang dekat dari tempat kita?"
"Ada tiga Wali yang berada di tempat kita. yang pertama Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga. mungkin Mas Heri bisa bertakziah ke makam Sunan Kudus, karena itu Lumayan dekat dari kuota kita."
"Terus bagaimana, apakah boleh saya bertakziah?"
"Boleh, yang terpenting Ingat pesan saya kita harus menguatkan iman terlebih dahulu, jangan sampai kita ingin mendapat Karomah dari para wali, tapi keyakinan kita sedikit bergeser ke arah kuburan."
"Terima kasih atas semua jawabannya pak ustad, Mohon maaf saya tidak bisa membayar ilmu Pak Ustad, hanya kata terima kasih yang bisa saya haturkan."
"Ah Mas Heri kalau ngomong ngelantur saja, sudah tanggung jawab saya yang dititipkan ilmu yang sedikit untuk disampaikan."
"Kalau begitu saya mohon pamit dulu pak ustad, berhubung waktu sudah jam 09.00, mohon maaf kalau mengganggu waktu istirahat Pak Ustad," ujar Heri sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajak pak ustad bersalaman.
Setelah berpamitan dia pun keluar dari rumah ketua kampung Donorojo, kemudian dia berjalan diterangi oleh cahaya lampu yang samar-samar, karena tidak ada lampu khusus yang menerangi Jalan hanya mengandalkan lampu-lampu yang menempel yang dipasang di depan rumah.
Suara jangkrik terdengar begitu riang, di Sauti dengan suara kodok yang terdengar dari arah sawah, membuat suasana khas perkampungan Begitu Terasa. meski sebenarnya Kampung dorong Rojo tidak jauh dari pusat Kota, namun keadaannya yang tidak sepadat kota-kota besar membuat masih banyak tanah-tanah yang belum dijadikan rumah dan masih banyak pula orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari hasil sawah. Sehingga ketika malam tiba masih terdengar suara hewan-hewan malam yang bersuara berbeda dengan kota-kota besar yang digantikan dengan suara kendaraan.