Darmini Meminta Cerai

1353 Words
Heri terus berjalan menyusuri jalan desa menuju ke rumahnya, diiringi dengan suara jangkrik dikendangi dengan suara katak, membuat suasananya terasa mencekam walau Desa Donorojo tidak jauh dari pusat Kota namun kota meraka sangat Tertinggal, sehingga waktu baru pukul 09.00 saja keadaan kampung itu sudah sangat sepi. "Kebiasaan.....! si darmini bukannya nyalain lampu depan rumah, malah dimatiin. padahal Apa salahnya kalau shodaqoh penerangan?" gerutu Heri yang sudah sampai di halaman rumahnya, dia mengendap-ngendap seperti maling yang mau masuk ke rumah. Sesampainya di ambang pintu, dengan segera Heri pun mendorong pintu rumahnya, namun dia sangat terkejut ketika mengetahui pintu itu tidak bisa dibuka. merasa Aneh dia pun mengintip ke dalam rumah lewat celah yang berada di jendela, terlihatlah cahaya televisi yang sedang menyala, membuat amarah Heri menjadi terpanggil karena dia yakin bahwa istrinya belum tidur, tapi kenapa pintu rumahnya sudah dikunci. Truk! truk! Truk! "Darmini....., buka pintu.....! Bapak pulang nih." teriak Heri sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Heri terus melakukan hal itu memberitahu istrinya agar membukakan pintu, Namun sayang dari dalam rumah tidak ada jawaban membuat amarah Heri semakin terpanggil. Dor! dor! dor! "Darmini Buka pintu....! ngapain aja sih, Masa jam segini sudah molor." teriak Heri yang terdengar kesal bahkan ketukan di pintu sudah menjadi pukulan. Meski Heri menggunakan sekuat tenaganya untuk menggedor-gedor, pintu tetapi dari dalam rumah tidak ada sedikitpun perubahan, hanya sunyi sepi seperti berada di dalam kuburan. "Ada apa mas, kok malam-malam berisik....." tanya salah seorang tetangga yang keluar dari rumahnya. "Ini si darmini Mas Syukron, Masa jam segini udah molor, terus pintu rumah pakai dikunci segala, kayak di rumah ada barang berharga aja," jawab Heri yang menggerutu. "Kecapean kali mas, Maklum kan Mbok Darmi setiap hari pergi ke pasar." "Darmini......! darmini buka pintu....! aku pulang nih." teriak Heri yang semakin kesal ditambah rasa malu dengan tetangga yang sedang menontonnya. "Sudah tidur kali Mas, coba lewat jendela kamar!" "Belum tidur, soalnya TV masih menyala. Emang istrinya aja kurang ajar Tidak bisa menghormati suami, Istri macam apaan itu?" gerutu Heri yang suaranya sudah. Entah merasa kasihan atau merasa jengkel akibat kebisingan yang ditimbulkan oleh tetangganya, orang yang tadi keluar dari rumah akhirnya dia pun mendekat ke rumah Heri, karena kalau dibiarkan malam itu mungkin dia tidak bisa tidur, akibat kebisingan dari rumah tetangganya yang pasti akan terus menggedor-gedor pintu rumahnya. "Mbok.....! Mbok Darmi.....! Mbok sudah tidur?" tanya pria itu dengan suara pelan namun terdengar jelas karena keadaan waktu yang sudah sunyi. "Mas Syukron, istri saya memang sudah budeg, jadi Mana Mungkin dia bisa mendengar." "Mbok tolong buka pintunya mbok," ujar pria yang bernama Syukron tidak memperdulikan ocehan Heri. Meski dengan suara pelan, tidak berteriak-teriak seperti Heri, tiba-tiba lampu teras pun menyala, terlihatlah wajah Heri yang merah padam, kemudian terdengar langkah kaki yang mendekati pintu. Tak lama pintu pun terbuka dan muncullah sosok darmini yang terlihat cemberut. "Ada apa mas Syukron malam-malam ganggu istirahat orang aja?" tanya darmini dengan nada Ketus kesal sama suaminya, sehingga dilampiaskan terhadap orang lain. "Maaf Mbok, kalau saya mengganggu! tapi saya agak risih ketika mendengar teriakan Mas Heri, Saya butuh istirahat....! Apalagi besok harus pergi ke ladang." "Iya Mas, saya memiliki suami tidak beruntung. Sudah pemalas bekerja di luar kota pun tidak membawa uang, diajak ngobrol malah ngeloyor pergi, kayak orang yang tidak punya etika." jelas darmini yang terlihat mendelik ke arah sang suami. Melihat tanda-tanda perang dunia ketiga akan segera dimulai, Syukron yang tidak mau ikut campur dia pun berpamitan karena tugasnya untuk membukakan pintu sudah selesai. Seperginya Syukron, Heri yang sejak dari tadi menatap tajam ke arah sang istri dengan mengepalkan tangan, dengan segera dia pun masuk ke dalam rumah, menabrak tubuh istrinya yang berada di ambang pintu, membuat tubuhnya sedikit oleng sehingga matanya yang merah membulat sempurna. Sebelum menghardik suaminya, darmini pun menutup pintu rumahnya kembali, lalu berjalan menuju ruang tengah terlihatlah, Heri yang masih menekuk wajah sudah duduk di tikar yang tadi ia gelar. "Kalau kamu sudah tidak bisa menghargai aku sebagai suami kamu. sudah sekarang kita tidak usah melanjutkan lagi rumah tangga kita, karena percuma kalau berumah tangga tanpa didasari saling menghormati," ujar Heri ketika melihat istrinya sudah duduk. "Bagus.....! kalau itu kemauan kamu. Ya sudah kamu jatuhkan aku talak tiga sekalian, agar kita tidak bisa bertemu lagi. lama berumah tangga dengan kamu, aku tidak pernah bahagia, yang ada hidupku menderita. aku harus bekerja banting tulang sendirian demi untuk menghidupi keluarga, sedangkan orang yang seharusnya bertanggung jawab malah sering molor," jawab darmini tanpa sedikitpun ketakutan di wajahnya. "Memang kamu benar-benar istri tidak tahu malu, sudah aku nikahi saja Harusnya kamu beruntung. karena tidak akan ada laki-laki yang mau dengan kamu, yang bisanya cuma menyalahkan, menuntut. tanpa bisa memberikan apa-apa." "Eh Heri.....! Siapa yang beruntung. aku yang harusnya ngomong seperti itu, laki-laki tidak berguna, laki-laki yang hanya menumpang hidup di ketiak istri. Apa kamu tidak malu memiliki sifat seperti itu, sudah sekarang antarkan aku ke pak ustad untuk mengurus perceraian kita." "Ayo Jangan kira aku takut dengan ancaman kamu.....! Jangan mentang-mentang bisa mencari uang, sehingga kamu tidak menghormati suami." "Apa yang harus aku hormati dari kamu yang pekerjaannya hanya tidur, tidak bisa memberikan manfaat. Kerja berbulan-bulan, Bukannya pulang membawa uang, malah membawa beban. kalau seperti itu mendingan kamu tidak usah pulang lagi sekalian....!" "Ampun deh.....! susah kalau menasehati istri yang keras kepala, Makanya jangan sering pergi ke pasar gaya bicaramu persis seperti preman di sana," jawab Heri yang tidak mau kalah. "Sudahlah kalau ngomong jangan ngelantur kemana-mana, kalau kamu sudah tidak betah hidup bersamaku lagi maka antarkan aku ke rumah pak ustad atau kalau kamu mau kita langsung pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan perceraian kita." "Gayamu darmini.....! Emang kamu kira pergi ke pengadilan tidak pakai uang, kayak yang punya bangam duit saja. jangankan untuk membayar uang persidangan, untuk makan sehari-hari saja kita sudah kesulitan." "Mendingan aku hidup sulit sekali, tapi ke sananya bisa tenang, daripada hidup dengan kamu hanya emosi yang didapat. ayo kalau kamu tidak mau ke pengadilan, Sekarang kita ke rumah pak ustad....!" ajak darmini sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam kamar tak lama dia pun kembali dengan memakai kerudung. "Ayo kita berangkat.....! kenapa masih diam?" ajak darmini sambil bertolak pinggang menatap tajam ke arah suaminya. "Eh istri nggak punya otak....! Emang kamu benar-benar tidak memiliki pikiran! Apa kamu mau mengganggu orang yang sudah beristirahat." "Siapa yang sudah beristirahat?" "Ya pak ustad lah! kalau mau besok aja kita ke sana, sekarang malu...! walaupun aku miskin, aku masih punya harga diri, aku malu memiliki istri macam kamu...." jawab Heri yang sedikit merasa ngeri kalau benar-benar istrinya Meminta cerai, karena dalam hati kecilnya Heri mengakui bahwa dia sangat membutuhkan sosok wanita itu, eanita yang sangat tangguh meski Dalam keadaan susah dia tetap setia dengannya. Mendengar ucapan dari suaminya darmini pun terdiam mungkin apa yang disampaikan oleh sang suami dia akui kebenarannya, karena memang benar waktu itu sudah menunjukkan pukul 10.00. sedangkan di kampungnya orang-orang sudah terlarut tidur mulai dari jam 08.00 malam, mengingat hal itu akhirnya dia pun masuk ke dalam kamar tidak memperdulikan suaminya yang mengulum senyum, merasa menang amarah yang tadi sudah memuncak Entah kenapa tiba-tiba sirna begitu saja. Setelah masuk ke dalam kamar. darmini membantingkan tubuhnya ke atas kasur yang sudah lepek, matanya mulai mengeluarkan cairan membasahi pipi yang sudah mulai keriput. "Kenapa kamu tidak berubah, padahal kamu sudah sangat tua, aku capek kalau aku terus-terusan hidup seperti ini. padahal sudah aku bilang untuk mencari kerja jangan pergi ke tempat lain, karena di sini saja pekerjaan sangat banyak, hanya dianya saja yang pemalas. Aku curiga kalau dia bekerja di sana dengan bermalas-malasan. makanya Ketika pulang dia tidak membawa uang, aku harus Bagaimana menghadapi suami seperti itu. Ya Allah....! kuatkanlah hatiku agar aku mampu memilih jalan untuk kehidupanku selanjutnya." gumam darmini mencurahkan seluruh isi hatinya, dia sudah kehabisan cara untuk mengingatkan kewajiban seorang suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, bukan hanya diam di rumah sambil tumpang kaki, dengan menghisap sebatang rokok karena kehidupan mereka sangat kekurangan. Darmini berharap, kalau Heri mau bekerja di pasar membantunya, karena dia yang seorang perempuan suka kesusahan Ketika Harus mengangkat atau memindahkan benda-benda berat, kalau menyuruh orang lain dia harus mengeluarkan uang, bukan dia perhitungan tapi dia juga masih sangat membutuhkan uang untuk kehidupannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD