Matahari dari ufuk Barat terlihat begitu indah, menerangi daerah pegunungan di kampung Donorojo, warna kuning keemasan membuat suasana sore itu terlihat semakin Asri, anak-anak kecil masih bermain di halaman rumah diawasi oleh orang tuanya yang duduk di teras sambil mengobrol membahas kehidupan sehari-hari.
Heri terus berpikir mencari cara agar bisa meluluhkan hati istrinya, karena untuk sekarang dia tidak mau berpisah dengan sang istri, dia masih membutuhkan darmini hadir di sisinya, tapi kalau dia sudah kaya raya akan lain cerita.
"Ya ampun......! Harus bagaimana aku sekarang, Uang sudah hilang tak ada kabar, istri terus menuntut untuk bekerja. memang benar-benar sial nasib hidupku sekarang," umpat Heri dalam hati, matanya masih menatap kosong ke arah layar televisi.
Lama berpikir menggunakan akal sehatnya akhirnya dia pun menemukan cara, untuk menghindari kemarahan istrinya, Dia pun tersenyum karena menurutnya itu adalah jalan yang terbaik.
"Iya benar sekarang aku harus mencari Wali, jangan mencari orang pintar. siapa tahu saja perkataan pak ustad itu benar kalau di dunia ini ada orang yang bisa menggandakan uang, kalau Beneran itu ada maka kehidupanku yakin akan berubah. benar aku harus pergi mencari Wali, sebelumnya aku akan mendatangi makam wali-wali yang sudah meninggal, siapa tahu saja aku mendapatkan petunjuk di sana. Awas kamu Darmini, Tunggu saja pembalasanku.....! hahaha," ungkap Heri yang lamunannya selangkah lebih maju, begitulah dia lebih mementingkan melamun daripada bekerja.
"Assalamualaikum....!" terdengar dari arah luar yang mengucapkan salam.
Heri yang sedang melamun sedikit terkejut, karena tidak menyangka akan ada tamu ke rumahnya. dengan segera dia pun bangkit lalu berjalan menuju pintu depan yang sudah terbuka, wajahnya tiba-tiba pucat merasa malu ketika melihat orang yang datang.
"Waalaikumsalam pak ustad, ada apa....? Tumben-tumbenan Mau main ke gubuk saya?" tanya Heri pura-pura tidak tahu.
"Mau menemui Mas Heri, Ada yang ingin saya sampaikan dan ingin saya tanyakan."
"Tentang apa pak ustad?" tanya Heri yang tiba-tiba wajahnya menjadi pucat Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh tamunya itu.
"Bukan apa-apa, hanya masalah sepele kok."
"Ya sudah kalau begitu, Silakan duduk pak ustad!" ajak Heri sambil berjalan menuju kursi yang berada di teras.
"Terima kasih banyak Mas," jawab Pak Ustad sambil manggut kemudian dia duduk mengikuti tuan rumah.
"Sama-sama pak ustad, tapi mohon maaf kalau tidak bisa menjamu, soalnya istri saya lagi keluar."
"Iya Mas, saya juga tahu."
"Tahu dari mana?" tanya Heri yang detak jantungnya semakin tidak karuan, Karena dia sudah bisa menebak istrinya pergi ke mana.
"Karena istri mas, Mbok Darmi...... berada di rumah saya."
"HAduh.....! ngapain pak ustad, mohon maaf kalau istri saya merepotkan."
"Nggak merepotkan kok mas, Lagian sesama tetangga sudah seharusnya saling menolong. baik dalam masalah hak ataupun masalah kesabaran, Untuk itu Sebelumnya saya mau minta maaf terlebih dahulu sama Mas Heri."
"Minta maaf, tentang apa pak ustad?" tanya Heri yang mengurutkan dahi.
"Mohon maaf kalau saya ikut campur dalam rumah tangga Mas. saya melakukan seperti ini bukan semata-mata kemauan saya tapi ada orang yang meminta tolong untuk menyelesaikan rumah tangganya yang sedang dilanda musibah. saya selaku tetangga dan orang yang dipercaya di kampung kita, mau tidak mau harus membantu orang itu, yang tak lain dan tak bukan itu adalah Mbok Darmi istri mas sendiri," jelas Pak Ustad panjang lebar membuat Heri semakin merasa malu. karena tutur Sapa Pak Ustadz membuatnya merasa senggan.
"Tidak perlu meminta maaf Pak Ustadz, harusnya saya yang meminta maaf karena sudah merepotkan bapak. Terus bagaimana?" tanya Heri sambil menundukkan pandangan, semakin lama dia semakin tidak berani menatap wajah orang itu.
"Begini Mas Heri.....! Mbok Darmi mendatangi rumah saya untuk meminta saya menyelesaikan masalah yang sedang beliau hadapi, karena beliau tidak sanggup menghadapi masalahnya sendirian."
"Masalah apa itu pak ustad?"
"Masalah yang berkaitan dengan mas sendiri. mohon maaf kalau saya harus menyampaikan semuanya." akhirnya Pak ustad pun menceritakan semua yang dia ketahui dari Mbok Darmi, namun dengan bahasa yang lebih halus dan lebih mengenakkan di hati Heri, sehingga orang yang sedang diselesaikan masalahnya terlihat manggut-manggut seolah sangat mengerti dengan apa yang disampaikan. "nah begitulah Masalahnya Mas Heri. saya mau bertanya, apa Mas Heri masih mau melanjutkan berumah tangga dengan Mbok Darmi?" pungkas cerita Pak Ustad diakhiri dengan pertanyaan.
Mendapat pertanyaan seperti itu Heri terlihat menghela nafas dalam, seperti sedang berpikir mencari cara agar bisa keluar dari masalah yang sedang dia hadapi. Padahal dia sudah mendapat keputusan bahwa dia akan pura-pura pergi kembali ke tempat kerjanya, namun yang jadi permasalahan sekarang Dia tidak memiliki ongkos untuk menjalankan rencananya.
"Saya tidak akan memutuskan hubungan keluarga antara Mas Heri dan Mbok Darmi. saya datang ke sini untuk membantu Mas menyelesaikan masalah dengan baik, tanpa harus ada perceraian, karena meski perbuatan itu diperbolehkan tapi itu sangat dibenci. jadi sebisa mungkin kita harus menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin, tidak boleh terbawa emosi tidak boleh cepat mengambil keputusan yang nantinya merugikan diri sendiri. sekarang bagaimana tanggapan Mas Heri?"
"Begini pak ustad. sebenarnya kalau saya boleh jujur usaha saya sedang dilanda musibah, kemarin ketika mau pulang tempat usaha Saya mau digusur sehingga saya dan pengusaha-pengusaha yang lain berusaha agar tempat itu tidak jadi digusur, hingga setelah lama berjuang akhirnya kita pun mendapat kesepakatan, bahwa usaha Kami tidak akan digusur Kalau kami menyetorkan beberapa jumlah uang. sehingga uang yang saya kumpulkan selama 6 bulan bekerja, mau tidak mau harus diberikan hingga akhirnya saya pulang tidak membawa uang dan seperti yang Pak Ustad ketahui istri saya meminta agar saya memberikan uang terhadapnya. Saya tidak berani jujur karena kalau jujur istri saya tidak akan mau menerima keterangan dari saya." jelas Heri yang berbohong, meski diawali dengan kata Jujur. Memang begitulah sifat orang yang sudah menjadi kebiasaan, mereka akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya.
"Terus sekarang kemauan Mas Heri bagaimana?"
"Kemauannya saya tetap berumah tangga dengan istri saya."
"Kalau Mas Heri masih mau mempertahankan rumah tangganya, maka Mas Heri harus mengikuti salah satu permintaan Mbok Darmi. karena menurut saya permintaan Mbok Darmi tidak salah-salah amat, dia hanya menyuruh Mas Heri untuk berangkat kembali bekerja. sebenarnya kalau menurut saya Mbok Darmi itu adalah istri yang sangat baik, dia tidak mempermasalahkan keadaan Mas Heri yang pulang tidak membawa uang, dia masih mendukung Mas Heri untuk terus bekerja, Meski belum membuahkan hasil."
"Iya pak ustad! Sebenarnya saya mengerti tapi saya bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Pak Ustad sambil menatap lekat ke arah tuan rumah.
Mendapat pertanyaan seperti itu Heri pun menundukkan pandangannya, merasa bingung harus bagaimana cara menyampaikannya, dia yang sudah tidak memiliki uang. sehingga dia bingung mau pergi ke mana, karena pergi dari rumah itu membutuhkan ongkos.
"Kenapa diam Mas, Coba tolong ceritakan Siapa tahu saja saya bisa membantu."
Heri semakin menundukkan pandangannya, tidak berani beradu tetap dengan orang yang sangat ia kagumi tutur sapa dan tingkah lakunya.
"Emang berapa ongkos untuk pergi ke Wonosari?" tanya pak ustad yang seolah mengerti apa yang sedang berada di dalam pikiran Heri.
"Nggak pak ustad, Nggak....! terima kasih Saya malu.
"Kenapa harus malu, saya kan belum memberikan apa-apa, Coba tolong jawab Berapa ongkos ke Wono Sari?"
"Rp200.000 pak ustad."
"Ya sudah....! begini aja Mas. sekarang Kalau Mas masih mau bertahan berumah tangga dengan Mbok Darmi, Mas kembali lagi bekerja seperti biasa, untuk ongkos ke sana nanti saya akan kasih pinjam, karena kalau ngasih Untuk sekarang saya belum mampu Mas." jawab Pak Ustad membuat Heri semakin merasa malu dan merasa segan.
"Tidak usah pak ustad, Tidak usah, saya masih ada uang kok, meski tidak banyak."
"Ya sudah uang Mas, buat nanti mas makan di sana. uang dari saya buat ongkos."
"Tidak Pak Ustad, nggak apa-apa saya akan tetap pergi ke Wonosari," jawab Heri yang masih menolak namun pak ustad yang sudah bisa membaca raut wajahnya tetap memaksa.
Akhirnya Setelah lama berebut pendirian, Heri pun luluh dia mau menerima bantuan dari pak ustad. dalam hatinya Sebenarnya dia merasa sangat bahagia meski bercampur dengan rasa malu, karena sudah merepotkan orang yang Ia kagumi. harusnya ialah yang membantu pak ustad karena beliau mengajarkan ilmu tampak dibayar sepeserpun, bahkan beliau sampai mau menolong keluarganya dengan penuh perhatian.
"Ya sudah kalau begitu, Ayo kita jemput Mbok Darmi! kita Jelaskan bahwa Mas mau kembali lagi bekerja."