Masalah selesai

1344 Words
Akhirnya pak ustad dan Heri pun mereka bangkit dari kursi masing-masing. kemudian Heri masuk ke dalam rumah untuk mematikan televisi. tak lama dia pun sudah keluar sebelum berangkat Heri menutup pintu rumahnya. Heri yang merasa malu sudah ditolong oleh pak ustad, dia mengikuti di belakang dia tidak banyak bicara namun hatinya saja yang merasa sedih, karena harus mengalami kejadian memalukan seperti sekarang. di mana hubungan keluarganya harus melibatkan orang lain, tapi Heri tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan kehidupan yang ia miliki, di mana dia tidak mampu menyelesaikan masalah rumah tangganya sendirian. "Assalamualaikum.....!" Ucap pak ustad ketika sampai di rumahnya. "Waalaikumsalam," jawab Bu Haji dan darmini dengan serempak. Dengan segera pak ustad pun masuk, kemudian duduk di samping istrinya. sedangkan Heri dia masih berdiri di ambang pintu, hatinya masih merasa kesal terhadap darmini, karena masalah sepele seperti ini harus melibatkan orang lain. "Silakan duduk Mas!" titah pak ustad mempersilahkan tamunya. Setelah mendapat sambutan seperti itu, Heri pun duduk di samping istrinya, namun dengan segera istrinya pun pindah ke kursi yang satunya, lagi membuat Heri sedikit mendelik, namun dia tidak bisa berkata banyak mengingat itu bukan rumahnya. Melihat kedua orang yang sedang bermusuhan, Pak ustad pun hanya mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah laku kedua manusia ini, padahal seharusnya mereka sudah saling menyayangi, karena rumah tangga Heri dan darmini sudah terjalin sekian lama. Namun itu tidak lama Pak ustad pun dengan segera berbicara untuk menyelesaikan masalah Kedua tamunya. "Sebelumnya saya mohon maaf...., Mbok darmini dan Mas Heri. Saya ingin memberikan sedikit ilmu yang saya miliki, bahwa berumah tangga itu seperti perahu, sedangkan kita adalah nahkoda dan awaknya, sedangkan anak-anak kita adalah penumpangnya. untuk menjaga perahu itu tetap berlayar, maka antara nakhoda dan awak harus bekerja sama, agar Perahu Layar itu tidak karam. ketika perahu itu berlayar keluar dari rute, maka secepatnya harus dikembalikan. ketika perahu itu ada yang bolong maka secepatnya harus di tambal, Begitu juga dengan rumah tangga ketika ada masalah yang menimpa, maka secepatnya harus segera diselesaikan, jangan sampai rumah tangga itu berakhir, karena sangat disayangkan rumah tangga yang sudah dibangun begitu lama, harus karam di tengah jalan." Mendengar penjelasan dari pak ustad, kedua orang itu tidak berbicara, mereka hanya menundukkan pandangan masing-masing, karena apa yang disampaikan oleh pak ustad memang begitu benar adanya. bahwa mereka yang sudah bertahun-tahun berumah tangga harus Kandas hanya dengan perselisihan paham, namun ego manusia kadang bisa melebihi akal sehat. "Mbok darmini sekarang bagaimana tanggapan mbok?" tanya Pak Ustad sambil menatap ke arah orang yang ia tanya. "Saya tetap mau bercerai pak ustad, memang kalau dipikirkan rasanya sangat sayang rumah tangga yang sudah sekian lama saya bangun, harus Kandas begitu saja. Tapi buat apa kita terus tinggal di perahu, kalau kita tidak nyaman, Bukankah menyakiti diri sendiri itu adalah salah satu perbuatan dosa?" "Benar...., tidak bisa dirubah pendirian Mbok itu?" "Benar pak ustad, karena saya sudah muak dengan suami saya yang kerjaannya hanya tidur." "Terus bagaimana tanggapan Mas Heri?" ujar Pak Ustad mengalihkan pertanyaannya. "Sebelum saya berbicara, Saya mau minta maaf terlebih dahulu sama istri saya karena memang selama ini saya akui saya adalah suami yang tidak bertanggung jawab, keseharian Saya hanya dihabiskan untuk tidur, tidak pernah mau membantu kesusahan istri, Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya dan saya berjanji mulai dari detik ini saya akan berubah." "Berubah Bagaimana Mas Heri?" "Sesuai dengan keinginan istri saya. bahwa saya akan berangkat ke tempat kerja besok pagi, saya tidak ingin berpisah dengan istri saya karena ketika saya mengucapkan Ijab Kabul, saya sudah berjanji terhadap diri saya sendiri bahwa saya akan berumah tangga dengan darmini seumur hidup saya, tidak ada yang memisahkan kecuali maut." jawab Heri bak penyair yang baru lahir. "Nah Ternyata begitu Mbok...! Mas Heri tidak mau berpisah dengan mbok." "Tidak mau, tahu, pokoknya Saya ingin berpisah dengan suami yang tidak bertanggung jawab ini." "Sudahlah Bu.....! Maafkan bapak...., bapak janji mulai saat ini bapak akan berubah....!" ujar Heri sambil menatap penuh harap terhadap istrinya, yang kebetulan darmini pun melirik ke arahnya, sehingga kedua mata mereka pun beradu terasa ada getaran getaran cinta yang terselimuti oleh amarah di dadanya. "Sudah sering kamu ucapkan kata maaf, sudah sering kamu lontarkan kata janji. tapi kamu terus mengulangi kesalahan, kamu sering melupakan janji kamu...., mau sampai kapan terus membohongiku?" "Untuk kali ini Bapak benar-benar berjanji....!" ujar Heri sambil mengambil tangan istrinya namun dengan segera Darmini pun menarik tangan itu, seolah dia tidak mau bersentuhan kembali dengan suaminya. "Aku tidak percaya dengan janji-janji palsumu...., sekarang daripada kamu terus menyakiti, mendingan kamu Ceraikan Saja Aku secara agama....., biar nanti aku akan mengurus perceraian kita di pengadilan," ujar darmini yang tetap Kukuh ingin berpisah dengan Heri. "Tolong maafkan bapak Bu.....! tolong kasih Bapak satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa bapak bisa berubah, kalau bukan ibu yang mau menolong bapak siapa lagi?" ujar Heri dengan sedikit suara parau membuat hati istrinya sedikit bergetar, karena Semenjak dia menikah dan ada pertengkaran Heri belum pernah berkata seserius itu. Mendapat permintaan suaminya, darmini pun tidak menjawab sehingga suasana di ruang tamu rumah pak ustad terasa sunyi, hanya terdengar sayup-sayup suara anak kecil yang sedang bermain di halaman masjid, di sahutii dengan suara gerapung yang terdengar dari arah kebun. Setelah lama terdiam darmini pun melirik ke arah pak ustad, seolah meminta pendapat karena dia tidak mampu memutuskan dengan sendirinya. "Benar apa yang dikatakan oleh Mas Heri. kalau bukan Mbok Darmi yang menolong rumah tangga Mbok sendiri, siapa lagi....? karena orang lain seperti saya tidak bisa menolong sepenuhnya, hanya sedikit memberi bantuan. Jadi sekarang Coba tolong pikirkan dengan matang, Karena Mas Heri sudah bilang bahwa besok dia akan pergi ke tempat kerjanya, sesuai dengan permintaan mbok." ujar pak ustad memberikan solusi. "Tapi buat apa Pak Ustad. Kalau hanya pergi tapi tidak membuahkan hasil." tanggapan darmini yang sudah menjadi kebiasaan suaminya Kalau pulang dari tempat kerja tidak pernah membawa uang. "Masalah hasil atau tidaknya itu bukan urusan kita. yang harus kita lakukan hanyalah berusaha semampu kita, sekuat kita, dengan sungguh-sungguh. karena keberhasilan itu bukan urusan kita, melainkan urusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. jadi selama masih mau berusaha, Selama masih mau berjuang, itu sudah cukup bagi manusia." "Terus saya harus bagaimana Pak Ustad, Saya bingung kalau seperti ini?" "Sekarang Mbok Darmi pulang ke rumah, berumah tangga lah seperti biasa. pertentangan, percekcokan, perselisihan paham di dalam rumah tangga itu adalah hal yang wajar. karena itu adalah bumbunya yang terpenting jangan sampai kebanyakan bumbu. karena kalau tidak pas, maka akan terasa hambar atau terasa asin." "Saya masih ragu dan saya masih takut kalau Mas Heri tidak benar-benar berubah." "Mbok nggak usah khawatir kalau Mas Heri sudah benar-benar keluar dari jalur yang sewajarnya, maka saya orang pertama yang akan memarahinya, Karena dia sudah berjanji sama saya, bahwa dia akan berubah, sehingga dia pun mau berangkat lagi ke tempat kerjanya." Mendengar penjelasan pak ustad darmini pun terdiam kembali, seolah sedang mencerna apa yang disampaikan gurunya. Setelah lama dipikir semakin terpikir, bahwa dia marah karena suaminya tidak mau berangkat Kembali ke tempat kerja, sekarang suaminya sudah mau, bahkan besok suaminya akan pergi ke Wonosari untuk melanjutkan usaha tambal bannya. "Ya sudah saya maafkan kesalahan Mas Heri, tapi saya ingin ada ikrar talak bilamana Mas Heri melakukan kesalahannya lagi, maka secara langsung setelah itu jatuh seperti apa yang sudah disampaikan oleh pak ustad." "Jangan berlebihan Mbok kalau orang sudah mau berubah, kalau orang sudah mau mengakui kesalahannya, jangan ditimpa lagi dengan masalah yang lain. sudah mendingan sekarang Mbok dan Mas Heri pulang dan kembalilah berumah tangga seperti biasanya, karena kita ini sudah pada tua, seharusnya kita memikirkan untuk bekal di kehidupan selanjutnya, bukan mengurusi hal-hal yang seperti ini." "Tapi saya takut, kalau suami Saya mengulangi kesalahannya lagi." "Bapak janji Bu, bapak akan sekuat tenaga untuk menepati janji-janji yang sudah Bapak ucapkan, sekali lagi Tolong maafkan bapak.....!" Timpal Heri yang sejak dari tadi kami yang terdiam memperhatikan. "Apakah perkataan bapak bisa dipegang?" tanya darmini sambil melirik ke arah suaminya. "Insya Allah bisa ibu....!" Akhirnya hati darmini yang Sekeras Batu, ketika melihat tatapan suaminya yang menembus Menghujam jantungnya, membuat hati itu sedikit bergetar, sehingga lama-kelamaan hati yang keras menjadi pecah, membuat Darmini mau menerima kembali suaminya, untuk melanjutkan petualangan rumah tangga mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD