"Sudah Kan, masalahnya sudah beres?" tanya Pak Ustad sambil membagi tatap ke arah kedua tamunya.
"Sudah Pak Ustad, Terima kasih banyak atas bantuannya. maaf kalau kami merepotkan," jawab Heri dengan menundukkan pandangan, begitu pula dengan istrinya yang tak berani menatap ke arah tuan rumah.
"Ya sudah kalau semuanya sudah beres, mohon maaf bukan saya mengusir, tapi kebetulan sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang, mendingan kalian berdua pulang ke rumah masing-masing dan jaga perahu rumah tangga Mas Heri dan Mbok Darmi agar tidak karam."
"Yah Pak Ustad, Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."
Akhirnya Heri pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menyalami Pak Ustad dan Bu Hajah, diikuti oleh darmini yang sudah terlihat agak sumringah. Karena dia sudah mendengar secara langsung bahwa suaminya akan kembali bekerja.
Pasangan suami istri itu setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan rumah pak ustad, untuk menuju ke rumahnya. matahari sudah tidak terlihat lagi digantikan oleh Lembayung senja yang terlihat begitu kuning keemasan, seperti Hendak memberikan keindahan sebelum datangnya gelap malam, dari arah Masjid terdengar suara anak kecil yang bersholawatan, untuk menyambut waktu salat magrib tiba.
Sesampainya di rumah, darmini Pun masuk ke dalam lalu menyalakan lampu dan menutup jendela. sedangkan Heri bergegas masuk ke dalam kamar, untuk mengambil baju Kokonya, kemudian dia pergi ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah.
Tak lama setelah itu, suara adzan magrib pun berkumandang memecah keindahan alam yang nampak luar biasa, suara gerapung sudah tidak terdengar lagi. digantikan dengan suara jangkrik yang sesekali di Saudi oleh kodok dari arah sawah.
Selesai melaksanakan salat. Sebelum melaksanakan kewajibannya mengajar ngaji anak-anak Kampung Donorojo, pak ustad pun memberikan uang pinjaman sebesar Rp200.000, sesuai dengan apa yang sudah Ia janjikan tadi sore, awalnya Heri menolak namun setelah dipaksa dia pun menerima dan dia berjanji akan segera mengembalikan uang itu.
Keesokan paginya, darmini yang sudah bangun lebih awal, karena dia disibukkan menyiapkan sarapan untuk suaminya yang hendak berangkat kembali ke kota Wonosari untuk menjalankan usaha tambal bannya, ditambah dia tidak mau kesiangan pergi ke pasar.
"Mau berangkat jam berapa Pak?" tanya dari Mini sambil menyuguhkan kopi yang terlihat masih mengepul.
"Nanti setelah melaksanakan salat subuh Bu, biar tenang dijalannya," jawab Heri sambil mengambil gelas yang ada di hadapannya. kemudian menempelkan Gelas itu ke bibir. lalu menyeruput sedikit demi sedikit kopi yang masih terasa panas.
"Kalau begitu Ibu berangkat duluan, nanti kalau bapak mau sarapan Ibu sudah bikinkan nasi goreng dan untuk kunci, bapak bisa simpan di bawah pot seperti biasa," ujar darmini memberikan pengarahan terhadap suaminya.
"Emang ibu mau berangkat kapan?"
"Sekarang Pak! nanti salat subuhnya seperti biasa di pasar."
"Oh, ya sudah hati-hati Bu!" jawab Heri sambil menghempaskan asap dari mulutnya.
Setelah itu, darmini pun bergegas dengan mengganti pakaian yang layak, lalu dia berpamitan untuk pergi menjalankan rutinitasnya seperti hari-hari biasa.
Heri hanya mengantar istrinya sampai ke halaman rumah, setelah istrinya tidak terlihat lagi dia pun menarik nafas dalam seperti merasa berat ditinggalkan oleh sang istri.
"Terima kasih banyak Bu, maaf kalau selama ini Bapak belum bisa menjadi yang terbaik buat ibu, belum bisa membahagiakan ib,"u gumam Heri sambil melihat uang pemberian dari istrinya karena sebelum pergi darmini yang mengetahui suaminya tidak memiliki uang, dia pun Memberikan sebagian tabungannya untuk ongkos.
Sayup-sayup orang yang bersholawatan terdengar begitu menusuk hati Sanubari, membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam tidurnya. dengan segera orang-orang yang memiliki tanggung jawab atas kewajibannya, Mereka pun membangkitkan tubuh lalu pergi ke WC untuk mencuci muka atau membersihkan tubuh, Kemudian mereka pun berlarian menuju ke arah Masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
Begitu juga dengan Heri, setelah merapikan semua baju yang akan dia bawa, dengan segera dia pun keluar dari rumahnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang manusia, setelah melaksanakan salat subuh dia pun kembali ke rumah.
Kalau boleh jujur, Heri sebenarnya merasa malas untuk keluar dari rumahnya, karena dia tidak memiliki tujuan harus pergi ke mana, karena tambal ban yang suka diceritakan sama istrinya, itu hanya karangannya saja, agar dia tidak dimintai pertanggungjawaban atas uang hasil penjualan sawah, Tapi meskia begitu Heri harus tetap pergi dari rumah untuk mempertahankan keluarganya yang serba kekurangan.
Setelah menarik napas dalam, Heri pun mengambil tas yang sejak dari tadi sudah dia siapkan kemudian keluar dari rumah, tak lupa Pintunya dikunci. sebelum pergi dia menatap kembali rumahnya yang terlihat sangat berantakan halaman yang dipenuhi rumput liar, ditambah dengan tembok yang sudah mulai terkelupas, Begitu juga dengan genteng yang sebagian sudah pada jatuh.
"Iya aku harus tetap pergi, aku harus tetap mencari guru yang bisa menggandakan uang, agar kehidupanku bisa berubah, agar si darmini tidak terus mengomel," gumam Heri menguatkan hatinya.
Dengan gontai dia pun berjalan keluar dari halaman rumah, lalu menyusuri jalan besar untuk menuju ke jalur angkot. dari sebelah timur terlihat cahaya kuning sudah menyebar, menandakan sang surya sebentar lagi akan menjalankan tugasnya.
Burung-burung Kutilang sudah terdengar bernyanyi dari rumpun bambu, di sahuti dengan burung-burung yang lainnya, suaranya terdengar sangat riang seperti sangat bahagia melihat sang surya yang datang kembali.
Setelah sampai di jalur angkot, tak lama menunggu karena sehabis subuh angkot yang menuju ke kota sudah lumayan banyak, sehingga dengan segera Heri pun naik ke dalam mobil angkutan kota itu terus melaju membelah dinginnya pagi, namun ketika melewati Terminal dengan segera Heri pun menghentikannya. Sesudah membayar ongkosnya dia pun berjalan masuk ke dalam Terminal yang terlihat sudah ramai meski keadaan waktu masih pagi.
Mata Heri memindai area sekitar, memperhatikan keadaan sekitar terminal bus, suara Deru mesin dan suara kendetur yang menerangkan tujuan mobil angkutannya terdengar begitu nyaring menggambarkan suasana keseharian di terminal.
Setelah agak lama berdiri, dengan segera Heri pun berjalan mendekati loket penjualan tiket, kebetulan di tempat itu tidak banyak yang ngantri, sehingga dengan segera Heri pun menyampaikan tujuannya, Namun sayang penyampaiannya berbeda dengan yang lain.
"Saya mau pergi ke makam wali yang berada di Kudus." jawab Heri ketika ditanya oleh penjaga loket.
"Mau ke Kudus, apa mau ke makam wali?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Heri mengerutkan dahi.
"Karena di Demak juga ada Makom Wali, daripada jauh-jauh ke Kudus kalau tujuannya mau ke makam, Mendingan ke Demak saja."
"Emang siapa yang berada di sana?"
"Sunan Kalijaga?"
"Ya sudah ke Demak saja," Jawab hari seperti orang tidak memiliki pendirian, membuat penjaga loket itupun mengulum senyum namun dengan segera dia pun melaksanakan tugasnya untuk mencetak tiket buat hari.
"Mau yang AC, apa yang ekonomi?"
"Emang yang AC berapa, Terus yang ekonomi berapa?"
"Yang AC Rp120.000, yang ekonomi Rp80.000."
"Kalau begitu yang ekonomi saja," Jawab Heri memutuskan.
Akhirnya penjaga loket penjualan karcis pun mencetak tiket bus untuk Heri, kemudian setelah selesai dari pun membayar sesuai dengan apa yang tertera di loket itu.
Setelah mendapatkan tiket, dia pun memperhatikan jadwal keberangkatannya yang ternyata sebentar lagi bis yang akan ditumpanginya akan segera pergi, dengan segera Heri pun mencari bis sesuai dengan yang tertera di tiket.
Setelah menemukan dia pun masuk tercium bau asap kendaraan yang memenuhi hidung, Memang begitulah ketika naik mobil tidak ber-ac meski di atas atapnya banyak tergantung pewangi ruangan, tapi tidak mampu mengusir bau khas, ketika menaiki mobil yang kelas ekonomi. namun meski begitu Heri tetap duduk dengan tenang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dia bukan tidak mengerti tentang kenyamanan, tapi dia harus berhemat agar uangnya cukup mendatangi ketiga makam yang sudah dijelaskan oleh pak ustad.
Mata Heri menatap ke arah jendela yang terlihat di luar banyak orang yang berlalu Lalang, ada yang baru turun dari bis, ada pula yang mau naik. suasana pagi itu terlihat sangat cerah, matahari Sudah terbit dari upuk Timur, siap menjalankan tugasnya untuk menerangi Buana Panca Tengah.
Setelah menunggu agak lama mobil yang ditumpangi oleh Heri perlahan mulai meninggalkan terminal, untuk menjalankan tugasnya yang hendak mengantar penumpang sampai ke tujuan.