Suara deru mesin mobil bis terus menderu memecah kepadatan jalan raya yang mulai terlihat padat, karena bus itu bergabung dengan kendaraan kendaraan lain yang hendak pergi ke tempat kerjanya, Ada pula yang hendak mengantarkan penumpang.
Matahari di ufuk timur sudah terlihat sedikit naik memberikan rasa hangat bagi jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya, Begitu juga dengan orang yang berada di dalam bis tak luput dari paparan Bintang terdekat dari bumi itu, karena cahayanya masuk menembus kaca.
Merasa tidak ada yang bisa dilakukan Heri pun memejamkan mata berharap bisa tertidur, agar tidak terlalu merasakan jauhnya perjalanan, namun semakin dia memejamkan mata semakin dia merasa tidak mengantuk, karena pikirannya terbang jauh ke mana-mana, menerka-nerka Apa yang akan terjadi dengan kehidupan selanjutnya setelah dia keluar kembali dari rumah. Karena keluar yang sekarang dia belum memiliki tujuan yang pasti, tak seperti Beberapa bulan yang lalu, di mana dia pergi ke Padepokan Kanjeng Dimas untuk menunggu hasil panen uangnya yang digandakan.
Kira-kira pukul 11.00 siang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Heri tiba di terminal bus Bintaro, dengan segera kondektur pun memberitahu bahwa para penumpang sudah sampai di tempat tujuan, sehingga mereka pun dengan segera keluar dari dalam angkutan umum itu.
Begitu juga dengan Heri yang membangkitkan tubuhnya yang terasa pegal, karena Duduk terlalu lama di dalam bis, dengan segera dia pun meregangkan otot-otot yang terasa kaku, sehingga terdengar suara kemretek dari tulang yang beradu. setelah ototnya terasa lemas Heri pun keluar dari dalam bis, disambut dengan para pedagang dan tukang ojek yang menawarkan jualan dan jasanya.
"Mau ke mana Pak?" tanya salah seorang tukang ojek dengan mengambil tas Heri yang berada di depan tubuhnya.
"Sebentar , sebentar...! Jangan narik-narik nanti tali tas saya putus!" jawab Heri yang memegang tasnya dengan begitu erat Mungkin dia takut kalau tasnya dibawa kabur.
"Ah, iya....! Bapak mau ke mana?" tanya tukang ojek gitu sambil melepaskan genggamannya.
"Saya mau ke makam Sunan Kalijaga," jawab Heri sambil berjalan seolah tidak peduli dengan ojek yang menawarkan jasanya.
"Ya sudah Ayo saya antar. Tunggu dulu Pak jangan pergi dulu!" ujar tukang ojek dari belakang.
"Gratis?" tanya Heri sambil membalikkan tubuh.
"Ya nggaklah Pak, kan ojek juga harus pakai bensin. masa iya gratis?" jawabnya dengan Ketus.
"Terus berapa kalau naik ojek ke sana?"
"Rp50.000 Pak!"
"Waduh....! itu hampir lebih dari setengah ongkos dari Donorojo ke Demak."
"Yah kan penumpang bis banyakan Pak, jadi ongkosnya bagi-bagi. Ya sudah deh saya turunin jadi Rp30.000."
"Nggak ah Pak, saya mau naik angkot saja."
"Nggak ada angkot jurusan ke sana, mending naik ojek saja." tawar tukang ojek itu yang terlihat tetap Kukuh memaksa, membuat Heri mengerutkan dahi merasa aneh masa iya di kota tidak ada angkutannya.
"Ayo mending Bapak saya antar, daripada jalan kaki nanti bapak capek." ajak tukang ojek sambil menarik tangan Heri.
"Sebentar dulu Pak, kalau segitu uangnya Saya tidak ada. kalau 20 saya ada."
"Rugi dong saya kalau 20 Pak, mana Bensin sudah naik lagi."
"Ya sudah 25 saja," ujar Heri menaikan tawarannya.
Tukang ojek pun terdiam sesaat, namun setelah itu dia pun mengajak Heri untuk menuju ke Pangkalan ojek. setelah sampai dengan segera dia menyalakan salah satu motor yang terparkir di tempat itu. setelah Heri naik dan memakai helmnya, motor pun mulai melaju meninggalkan terminal.
Keadaan waktu itu terasa panas, karena Matahari sebentar lagi berada di atas ubun-ubun, ditambah dengan polusi udara yang bertebaran sepanjang jalan raya, membuat perut Heri mulai terasa melilit karena tadi subuh dia hanya baru sarapan nasi goreng, itu pun tidak banyak, karena rasanya kurang selera aja kalau makan sepagi itu.
10 menit berlalu, akhirnya Heri pun tiba di jalan yang di samping kanan kirinya terlihat banyak mobil bis besar terparkir, mungkin itu adalah bis-bis orang yang mau bertakziah ke makam Sunan Kalijaga. Bahkan bukan hanya mobil bis, mobil-mobil minibus juga banyak yang terparkir membuat laju motor yang ditumpangi oleh Heri sedikit terganggu, karena banyak orang yang berlalu-lalang menyeberang.
Semakin masuk ke dalam, semakin banyak pula orang orang dengan berpakaian sopan, Mereka terlihat sangat kompak dengan memakai baju koko dan sarung sedangkan yang perempuan memakai baju gamis tak lupa kerudung menutup kepalanya. di samping kanan kiri jalan terlihat banyak kios-kios yang berjualan bermacam-macam kebutuhan, mulai dari warung nasi, penjual pakaian, penjual souvenir, penjual pernak-pernik yang biasa digunakan untuk beribadah seperti tasbih, buku-buku agama dan kitab-kitab kuning.
Motor yang ditumpangi oleh Heri akhirnya berhenti di salah satu gapura, mungkin itu adalah pintu gerbang menuju Komplek pemakaman, karena banyak orang yang keluar masuk dari sana.
"Sudah sampai pak!" ujar tukang ojek memberitahu.
Dengan segera Heri pun turun, kemudian dia melepaskan helm yang ia kenakan, lalu mengeluarkan uang Sesuai dengan kesepakatan awal. setelah mendapat bayarannya ojek itu pun berpamitan untuk kembali ke Pangkalan, sedangkan Heri Dia Masih Berdiri sambil memindai keadaan sekitar yang terlihat sangat ramai oleh orang-orang yang mencari nafkah. benar apa yang dikatakan oleh pak ustad, bahwa para wali walaupun mereka sudah wafat mereka tetap memberikan manfaat bagi orang-orang yang berada di sekitar makamnya.
Tak lama dia berdiri karena dari depan terlihat Ada rombongan orang yang berjalan menuju pintu gerbang, merasa belum ada pengalaman dan belum ada pengetahuan Heri pun berjalan mengikuti rombongan masuk ke dalam pintu, dan ternyata di jalan yang berbentuk Gang, di samping kanan kirinya dipenuhi penjual juga, jadi orang-orang yang berjualan bukan hanya di luar pemakaman, namun di Jalan Gang menuju Komplek pemakaman pun ternyata banyak juga.
Heri terus berjalan masuk ke dalam, semakin lama orang-orang pun semakin berjubel mengantri, untuk bisa masuk lebih dekat ke pemakaman, ada pula orang orang yang mengantri untuk keluar. Setelah lama berdesak-desakan Heri pun tiba di pertigaan Gang yang di atasnya bertuliskan bahwa ke samping kanan menuju ke masjid dan ke samping kiri adalah alternatif jalan keluar sedangkan jalan yang terus lurus adalah jalan menuju Makom.
Sebelum masuk ke pintu, di situ Heri pun menitipkan sandalnya kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju satu pintu yang di atasnya bertuliskan tulis Arab yang Heri tidak bisa membacanya, namun dia tidak memikirkan hal itu dia terus masuk hingga terlihatlah kuburan kuburan yang tertata rapih di samping kanan kirinya.
Heri terus berjalan mengikuti orang-orang Sampai akhirnya dia tiba di pintu gerbang Makom terlihat ada beberapa orang yang memegang atas pintu itu dan mulai terdengarlah orang yang melantunkan tahlil, Tahmid dan sholawat. membuat Heri merasa kagum dengan karomahnya para wali, sehingga sudah ratusan tahun mereka meninggal tapi masih banyak orang yang mendoakannya.
Heri memindai area sekitar memperhatikan orang-orang yang kebanyakan berpakaian rapih dan sopan, mencari-cari tempat duduk untuk memanjatkan doa, sehingga Dia pun melihat rombongan orang yang baru datang dan Mereka terlihat siap-siap untuk bertakziah ke makam wali itu, dengan segera Heri pun gabung dan mengikuti bacaan-bacaan yang dibaca oleh pemimpin rombongan.
Ketika membaca doa, otak Heri terus berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapat jawaban atas keinginannya yang tetap Kukuh ingin menggandakan uang, karena menurut keterangan yang ia dapat dari Pak Ustad bahwa salah satu Karomah para wali mereka bisa menggali emas dari tanah yang bukan tempatnya.
Selesai mengikuti doa bersama, orang-orang pun terlihat bangkit untuk pergi meninggalkan maqom itu, memberi waktu buat orang-orang yang baru datang. berbeda dengan Heri yang masih duduk termenung seperti orang yang sedang kebingungan, dalam pikirannya terus bertanya-tanya bagaimana caranya dia meminta tolong agar bisa menggandakan uangnya, tapi semakin lama dia berpikir semakin tidak terpikir, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk salat zuhur terlebih dahulu, karena sudah terdengar adzan yang berkumandang, dan setelah itu dia berencana mengisi perut yang sudah mulai terasa keroncongan.
Dengan perlahan sedikit malas, Heri pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pergi meninggalkan makam Sunan Kalijaga, namun ketika ada pertigaan dia pun berbelok ke sebelah kiri menuju ke masjid yang terlihat bersusun tiga.
Setelah sampai dia punn masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian melaksanakan salat berjamaah. selesai melaksanakan salat zuhur dia keluar dari Komplek pemakaman untuk mencari makan di pinggiran agar Harganya tidak terlalu mahal. Setelah memilah dan memilih makanan yang dia suka akhirnya Heri tiba di salah satu penjual nasi yang berada di gerobak, kebetulan tempat itu agak sepi, hanya ada dua pengunjung yang sedang jajan.
Setelah duduk Heri pun memesan makanan. sambil menunggu pesanannya tiba, Heri pun menganggukan kepala ke orang yang duduk di hadapannya, Karena orang itu terlihat 10 tahun lebih tua darinya.
"Ikut Duduk Pak!" ujar Heri sambil mengulum senyum.
"Silakan mas....!" jawab kakek-kakek yang berpakaian Koko putih dan peci hitam di kepalanya.
"Rame terus ya di sini?" ujar Heri yang memindai keadaan sekitar.
"Iya Mas, Ini adalah salah satu Karomah para wali yang terus didatangi orang dari berbagai daerah untuk mendoakannya." jawab kakek-kakek itu setelah mengunyah makanan yang ada di mulutnya.