"Oh begitu ya! kalau Bapak dari mana, Kayaknya bukan orang Jawa?" tanya Heri yang semakin berani.
"Saya dari Bandung mas, Nama saya wiranta!" jawab kakek-kakek itu yang Mangaku nama wiranta.
"Saya Heri...!" ujar Heri sambil mengeluarkan tangan mengajak orang itu berkenalan.
"Dari mana?"
"Dari Donorojo?"
"Oh jauh juga, sama rombongan ke sini?"
"Enggak, saya sendirian. Saya ingin bertafakur mengagumi Karomah para Kekasih Allah."
"Iya benar, kita harus mendatangi tempat-tempat seperti ini selain bertafakur ini juga bisa jadi pengingat bagi kita."
"Pengingat Apa itu Pak?"
"Pengingat tempat satu-satunya yang akan menjadi tujuan akhir kita, adalah tempat seperti ini."
"Maksudnya?" tanya Heri sambil mengerutkan dahi, dia tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh orang yang di hadapannya.
"Iya tempat kita kalau sudah meninggal tidak ada lagi selain kuburan. namun yang berbeda antara kuburan kita dan kuburan para Wali. Kalau kuburan para wali sering bahkan tidak pernah berhenti dikunjungi peziarah, tapi kalau kuburan kita hanya setahun sekali, itupun kalau ada keluarga yang ingat. hehehe," ujar Pak Wiranta yang diakhiri dengan tersenyum.
"Iya benar juga pak! terus siapa sebenarnya Sunan Kalijaga ini, kenapa Makom beliau banyak di ziarahi oleh orang orang?"
"Oh Sunan Kalijaga itu adalah salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, berkisar tahun 1450-an. beliau adalah anak dari Adipati Tuban yang bernama Raden sahur dan Sunan Kalijaga juga memiliki banyak sebutan diantaranya Pangeran Tuban, Raden Abdurrahman, Loka Jaya dan Syekh Malaya. jadi sangat wajar ketika banyak orang yang mendatangi makamnya, karena secara tidak langsung cikal bakal Islam di tanah kita lahir dari beliau." jelas wiranta sesuai dengan apa yang ia ketahui, karena banyak sumber yang mengatakan berbeda.
Heri pun terlihat menarik nafas seperti mau bertanya kembali, namun itu tidak jadi karena makanan Pesanannya sudah terhidang di meja, akhirnya kedua orang itu pun makan bersama sesekali diselingi obrolan ringan, namun pembahasannya tidak jauh dari kisah Sunan Kalijaga, karena Pak wiranta seperti sangat mengetahui sejarah-sejarah para wali, membuat Heri semakin tertarik dengan kisah-kisahnya.
"Apakah orang-orang seperti kita bisa menjadi wali?" Tanya Heri setelah menghabiskan makanannya.
"Mungkin saja bisa, kalau kita mau membelinya, karena dulu juga Sunan Kalijaga sebelum diangkat menjadi wali menurut kisahnya beliau adalah perampok, namun yang berbeda dengan rampok-rampok yang sekarang. kalau pencuri yang sekarang Mereka mencuri hanya untuk memperkaya diri masing-masing, sedangkan Sunan Kalijaga beliau mencuri untuk dibagikan ke faqir miskin." jelas wiranta.
"Oh begitu, Terus bagaimana ceritanya sampai bisa menjadi wali?" tanya Heri yang terlihat semakin antusias menyimak.
"Suatu saat, ketika dia mau merampok, dia melihat seorang kakek-kakek yang memakai tongkat dan tongkatnya itu terlihat seperti emas. dengan segera Syekh Said menghentikan orang tua itu, untuk mengambil tongkatnya. beliau tidak tahu bahwa orang yang dihentikan itu adalah Sunan Bonang."
"Lanjutnya bagaimana?"
"Akhirnya ketika Sunan Kalijaga mau mengambil tongkatnya, Sunan Bonang dengan segera menghentikan, karena meski tujuannya baik tapi kalau pekerjaannya yang salah, Maka hasilnya juga akan salah, walaupun Sunan Kalijaga mau membagikan hasil perampokannya kepada orang miskin. tapi namanya merampok itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam, sehingga akhirnya menurut salah satu Kisah Lainnya Sunan Bonang mengambil buah Aren lalu dengan segera buah itu berubah menjadi emas, untuk menunjukkan ketika kita mau kekayaan tidak harus mencuri atau merampok."
"Berubah menjadi emas?" tanya Heri seolah tidak percaya, tapi dia sedikit senang karena tujuannya sudah sedikit ada penerangan.
"Iya namanya juga Karomah para wali, apapun yang mereka inginkan pasti akan di qobul. hingga akhirnya Syekh Said kala itu tertarik, ingin belajar bagaimana caranya merubah buah Aren menjadi emas. dan Sunan Bonang pun menyanggupi keinginannya dengan diuji terlebih dahulu, yaitu menjaga tongkatnya di tepian sungai atau di tepian kali. Makanya beliau termasyhur dengan nama Sunan Kalijaga, artinya Sunan yang penjaga sungai."
Mendengar penjelasan buah Aren berubah menjadi emas, khayalan Heri terbang membayangkan bagaimana kalau dirinya bisa melakukan hal seperti itu, mungkin kekayaannya akan cepat naik karena sudah bisa dibayangkan memiliki emas sebesar buah Aren, sudah bisa dipastikan uang yang akan diterima akan sangat banyak, mengingat hal itu kedua sudut bibir Heri pun terangkat kembali, seolah dia sudah bisa melakukan hal yang di luar Nalar itu.
"Sekarang kira-kira masih ada nggak orang yang bisa merubah buah pohon aren menjadi emas?" Tanya Heri yang keluar dari pembahasan.
"Buat apa Mas?" jawab wiranta yang terlihat kaget.
"Ya nggak buat apa-apa, kalau kita bisa kenal dengan orang seperti itu, mungkin kehidupan kita tidak akan susah-susah amat, karena haliyah dunia sudah ada di genggaman tangan kita."
"Istighfar Mas.....! karena kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk mencari kesenangan dunia, tapi kita hidup di dunia ini kita sedang bertani untuk dipanen di akhirat. jadi buat apa di dunia kaya raya tapi di akhirat menderita?"
"Iya sih! tapi buat apa kita mengharapkan yang belum pasti, mendingan kita berusaha agar kehidupan yang sudah pasti sekarang untuk lebih baik, karena akan sangat rugi kalau di dunia kehidupan kita susah, di akhirat lebih susah. mendingan di dunia kaya, di akhirat juga kaya," jawab Heri seperti orang yang tidak memiliki keimanan.
"Maksudnya belum pasti, itu belum pasti apa Mas?"
"Ya belum pasti kita mendapat kenikmatan, mendingan kita pastikan dulu di dunia hidup dengan penuh kebahagiaan, kecukupan dan kekayaan."
Mendengar jawaban Heri, wiranta pun hanya menarik nafas dalam seperti tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya, tapi meski begitu Mungkin dia menganggap bahwa Heri adalah orang yang kurang waras, maka dengan segera dia pun menghabiskan minumannya lalu berpamitan sama Heri untuk segera pergi dari tempat itu.
Sedangkan orang yang ditinggalkan dia hanya mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan sifat wiranta yang buru-buru pergi, namun dia tidak berani bertanya dan tidak berani menyusul, karena rokok yang sedang dihisapnya belum habis. Dan merasa tidak enak kalau mengganggu ketenangan orang lain.
Suasana di pedagang kaki lima semakin lama semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang yang hendak mengisi perutnya, matahari yang terasa terik namun itu tidak mengalahkan niat sehingga dengan segera Heri pun menghabiskan minum lalu membayar jajanannya, kemudian dia berjalan menuju ke pintu gerbang Komplek pemakaman. dia terus berjalan ketika ada pertigaan dia belok ke kanan untuk beristirahat di masjid.
Sesampainya di teras, Heri pun melepaskan tas yang digendongnya, kemudian dia menyandarkan tubuh ke tiang Masjid, matanya menatap kosong ke arah depan, khayalannya kembali teringat dengan Karomah yang dimiliki oleh Sunan Bonang yang bisa merubah buah Aren menjadi emas.
"Aku harus ke mana sekarang, apa aku harus tetap di sini atau melanjutkan tujuan awal yang hendak pergi ke Kudus, tapi kalau pergi ke Kudus Aku belum tahu pasti di sana bisa menemukan jejak seperti di sini yang sedikit ada penerangan. sekarang aku semakin yakin bahwa orang yang bisa menggandakan uang itu benar adanya, tapi yang jadi permasalahan sama siapa aku harus bertanya di mana keberadaan para wali itu, Coba kalau ada satu orang saja yang tahu mungkin kekayaan akan segera menghampiri," gumam hati Heri yang merasa bingung ke mana dia harus berjalan, karena tujuannya mendatangi makam wali bukan untuk bertafakur melainkan mencari orang yang bisa menggandakan uangnya.
Merasa tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaannya, Heri yang menyandarkan tubuh ke tiang masjid lama-lama matanya pun terkatup. rasa capek setelah seharian di bis hingga akhirnya rasa kantuk mengalahkan semuanya, Heri tidur dengan begitu lelap, bahkan terdengar mendengkur meski dengan posisi duduk.
Orang-orang yang berlalu Lalang di halaman masjid tidak terlalu memperhatikan Heri, mereka mencuekkannya karena mungkin kejadian seperti itu sudah biasa. Heri terus tertidur hingga suara adzan Ashar membangunkannya, dengan malas dia mengangkat kepala lalu memindai area sekitar, mengingat-ingat sekarang dia berada di mana. setelah roh halusnya berkumpul Heri pun mengusap wajah dengan perlahan, dia pun bangkit dari tempat duduknya karena kakinya terasa sangat pegal setelah lama terduduk.
Selesai melaksanakan salat asar, Heri pun duduk kembali Merenung memikirkan Langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Setelah lama berpikir akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali ke makam, dia akan berdoa dengan bersungguh-sungguh agar mendapat petunjuk Di mana orang yang memiliki kesaktian untuk menggandakan uang.
Setelah mendapat keputusan, Heri pun bangkit kemudian keluar dari area masjid menuju kembali ke area makam. Sesampainya di area makam dia pun duduk lalu membaca wirid yang dia hafal ketika belajar di Padepokan Kanjeng Dimas, Heri terlihat bersungguh-sungguh ketika memanjatkan doa, karena dia ingin segera bertemu dengan orang yang ia cari.
Heri terus terduduk di sekitar area makam Sunan Kalijaga sampai adzan maghrib berkumandang, setelah melaksanakan salat isya Heri pun kembali ke area makam untuk meminta petunjuk ke mana dia harus berjalan.
Awalnya Heri mau menginap di sekitar area makam, tapi ternyata area makam ditutup di jam tertentu, sehingga Heri pun keluar dan memilih tidur di teras masjid, karena dia merasa Sayang kalau uangnya harus dipakai untuk menginap di penginapan.