Mulai Bekerja

1391 Words
Suasana semakin malam dan mulai terasa dingin, bercampur dengan keringat yang terus turun, karena belum diistirahatkan. suasana kota Kudus malam itu terlihat sangat hingar-bingar, lampu-lampu jalanan menerangi sekitar trotoar kadang pula lampu mobil ikut membantu. Heri terus berjalan menyusuri trotoar, namun ketika ada ruko yang sudah tutup dia pun berhenti, kemudian memindai area sekitar dan terlihatlah bahwa di tempat itu ada orang yag sedang tidur. merasa tertarik Heri pun berjalan masuk ke teras, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, matanya menatap ke arah depan yang sesekali terlihat masih ada mobil yang berlalu Lalang. "Nasib, nasib.....! memang sial nasibku sampai harus mengalami jadi pengemis. tapi nggak apa-apa Lagian aku nggak berniat menjadi pengemis, aku berniat menjadi orang kaya, mungkin ini adalah salah satu jalan untuk mencapai kejayaan itu," gumam hati Heri sambil memijat-mijat yang terasa pegal. "Untuk malam ini mungkin aku lebih baik tidur di tempat ini, besok aku akan kembali lagi ke lampu merah, Siapa tahu saja mendapat uang lebih agar aku bisa pulang ke rumah." lanjut Heri mengambil keputusan kemudian dia pun mengeluarkan uang dari saku bajunya, kebetulan lampu di depan ruko itu sangat terang, sehingga dengan segera Heri menghitung uang hasil mengemis hari itu. "Alhamdulillah ternyata aku mendapat Rp52.000 ini baru bekerja beberapa jam saja, hanya mulai dari waktu maghrib sampai jam 09.00. nanti kalau dari pagi mungkin uang hasil mengemis itu akan lebih banyak," gumam Heri sambil merapikan kembali uang 2000-an dan recehan itu ke dalam kantong celananya, kemudian dia memposisikan tubuh dengan menggunakan tasnya sebagai bantal, karena malam itu dia akan tidur di sana. Heri mulai memejamkan mata khayalannya terbang kembali ke masa-masa yang akan datang, masa-masa yang diciptakan dengan seindah mungkin, bahwa dia akan menjadi orang kaya. padahal kenyataannya sekarang tidur saja hanya di emperan toko, namun begitulah seorang pemalas mereka lebih mementingkan melamun daripada bekerja. Heri terus berusaha memejamkan mata, Namun sayang tiba-tiba terdengar perutnya berbunyi seperti meminta isi, karena tadi siang ketika makan pemberian dari restoran porsinya kurang banyak buat orang orang desa seperti Heri. karena kebiasaan mereka nggak apa-apa lauknya sedikit yang terpenting nasinya banyak, karena perut butuh isi Bukan butuh kenikmatan. Heri mencoba mengalihkan rasa lapar itu dengan membalikkan tubuhnya, karena dia ingin menghemat uangnya agar Secepatnya Dia bisa pulang ke kampung halaman, supaya tidak sengsara seperti sekarang. namun perut yang lapar dan uang yang ada membuat tidak kuat menahan, sehingga dia pun bangkit lalu duduk sambil memegangi perutnya. "Dasar perut kurang ajar....! perut tidak bisa diajak berdamai, Padahal kalau lagi susah seperti sekarang, kamu itu harusnya bisa kuat berpuasa....!" gerutu Heri sambil menundukkan pandangan menatap ke arah perutnya yang terasa bergejolak. Heri terus berperang dengan rasa lapar dan rasa ingin menghemat, namun sudah berbagai cara Iya lakukan untuk mengalihkan rasa lapar itu, namun Sayang lama berusaha tidak membuahkan hasil sehingga akhirnya Heri bangkit dari tempat duduknya, kemudian memindai area sekitar mencari-cari warung nasi yang masih buka, Namun sayang di tempat Heri menginap tidak ada warung, karena kalaupun ada mereka sudah pada tutup. "Ke mana aku harus mencari nasi, karena si perut kurang ajar ini tidak bisa dibawa berdamai." ujar Heri sambil mulai melangkahkan kakinya menuju keluar dari halaman ruko, kemudian dia berjalan kembali menyusuri trotoar hingga akhirnya dia tiba di salah satu penjual nasi yang berjualan di trotoar. "Nasinya masih ada Bu?" tanya Heri setelah berada di samping gerobak. "Masih, Emang kenapa?" Jawab penjaga warung sambil memindai sekujur tubuh Heri yang terlihat sangat dekil. "Mau beli Bu, karena kalau minta nggak mungkin Ibu kasih." Jawab Heri sedikit mencandai penjual nasi. "Ya iyalah...! kan saya juga jualan pakai modal bukan pakai minta," jawab ibu-ibu itu dengan sedikit Ketus kalau masih siang mungkin Heri ingin meninggalkannya, tapi kalau malam seperti ini dia bingung harus mencari makan di mana lagi. "Yah Tolong buatin saya nasi dengan ayam!" "Totalnya Rp15.000, Bayarnya di muka!" jawab si Ibu tanpa merubah raut wajahnya. "Buatkan saya nasi terlebih dahulu, Ibu jangan khawatir pasti saya akan bayar." "Alah.....! biasanya juga ngomong seperti itu, kalau sudah makan pasti kabur tanpa membayar seperserpun." "Ya ampun Ibu Emang ibu nggak lihat apa kalau saya ini tidak memiliki tampang penipu," umpat Heri yang sedikit mulai terpancing. "Yah kalau mau makan saja, kalau tidak mau ya sudah sana cari tempat yang lain. Maaf di sini bukan tempat mengemis....!" jawab si Ibu sambil kembali duduk di bangku panjang. Hati Heri merasa sedih bercampur kesal, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena keadaannya yang sedang tidak menguntungkan. dengan terpaksa dia pun mengeluarkan uang yang tadi ia kantongi, lalu diberikan sama si penjual nasi. "Makanya dibungkus aja ya mas, Soalnya saya mau tutup?" ujar si Ibu setelah menghitung uang yang diberikan oleh Heri. "Kok udah tutup, padahal jualan Ibu masih banyak." "Sudah kalau mau aja, kalau nggak Mau saya balikin nih uangnya!" Ancam penjaga warung dengan raut wajah yang sama, bahkan uang receh yang diberikan oleh Heri terlihat mau dikembalikan. Melihat sambutan yang kurang begitu baik, Heri hanya menggigit bibir mengempiskan amarah yang memenuhi d**a, kalau dia tidak berpikir panjang mungkin dia sudah menampar wanita yang kurang ajar itu. tapi Heri masih memiliki kendali penuh terhadap dirinya, sehingga dia masih bisa bersabar mungkin karena sudah sering terlatih diuji dengan darmini. Setelah membungkus makanan dan memasukkannya ke dalam plastik, dengan segera si Ibu pun memberikan makanan itu terhadap Heri, namun Heri tidak langsung berangkat karena dia membayangkan setelah makan dengan ayam diakhiri dengan sebatang rok0k 234 itu akan lebih sempurna. "Rok0k 234nya dikecar Bu?" "Ya enggaklah, Mana ada rokok mahal dikecer!" "Emang sebungkusnya berapa?" "Rp20.000," jawab si Ibu yang kurang antusias menanggapi obrolan Heri. "Eh ibu, kalau sama pembeli itu harus ramah karena Sebesar apapun warungnya,Sebesar apapun penghasilannya, Kalau tidak ada customer Warung Ibu akan bangkrut." "Yah, tapi customernya nggak kayak bapak yang mintanya paling murah dan minta ketengan." "Ampun deh nih orang belum pernah mati kelindes stum apa....? ya sudah rokok 234nya sebungkus Bu...!" Ujar Heri yang kepalang kesal dengan segera dia pun mengeluarkan uangnya lagi. Setelah mendapat barang yang diinginkan Heri pun keluar dari kanopi gerobak, namun setelah dipikir-pikir dia masih kesal dengan ibu-ibu itu lalu dia pun masuk kembali. "Dasar perempuan janc0k....!" umpat Heri sambil keluar kembali selalu berjalan dengan tergesa-gesa Kembali ke tempat tadi ia beristirahat. Sesampainya di halaman ruko dengan segera dia membuka bungkusan nasi yang baru ia beli, tanpa pikir panjang dia melahap semua nasi itu dengan begitu rakus karena Dia sangat lapar. Mulut seri sedikit mendesah, soalnya sambal yang diberikan si Ibu terasa pedas, namun beruntung walaupun si Ibu sedikit judes tapi dia tidak lupa memberikan teh hangat yang dibungkus oleh plastik. makan sambal ditemani dengan teh hangat membuat rasanya semakin luar biasa Setelah menghabiskan makanan dan memasukkan sampahnya ke dalam Tong, Heri mulai mengeluarkan rok0k 234 yang baru saja ia beli, kemudian mengambil satu batang lalu dibakarnya. Heri terlihat sangat menikmati momen itu, sampai-sampai dia menyandarkan punggungnya ke dinding ruko, mungkin dalam perasaannya Dia sedang duduk di sofa mewah di rumah yang begitu megah dengan cerutu di tangannya. "Nikmat, benar-benar nikmat hidupku, tapi uangku habis dirampok oleh penjual warung sialan itu. sekarang tinggal rp17.000 lagi, Bagaimana kalau seperti ini, aku tidak akan cepat sampai bisa pulang ke rumah. tapi kalau besok bekerja dari pagi Mungkin hasilnya akan lebih banyak karena tadi saja yang hanya 3 jam mengemis aku sudah mendapat uang Rp50.000. kalau dihitung dari pagi mungkin aku bisa mendapat Rp200.000. benar kalau sehari aku dapat 200.000 maka aku akan tetap tinggal dulu di sini sampai mengumpulkan uang buat bayar hutang sama Pak Ustad dan memenuhi janji terhadap si darmini." Begitulah yang ada di dalam pikiran Heri, matanya menatap ke arah halaman yang dilapisi oleh paving block, dari arah depan sesekali terlihat cahaya yang semerbak yang keluar dari lampu mobil yang melintas. Suasana pun semakin larut, Jalan Raya pun mulai terlihat sepi, hanya sesekali mobil-mobil besar yang mengantarkan barang yang melintas. Heri yang seharian itu terus berjalan mencari pekerjaan mulai merasa lelah hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk mulai tidur, Setelah menghabiskan rok0k yang ada di tangannya. Benar saja, ketika perut kenyang hati tenang rasa kantuk pun seolah hinggap, sehingga tak lama suara dengkuran pun terdengar keluar dari mulut Heri, Walaupun dia tidur di alam terbuka namun baginya itu tidak menjadi masalah, karena yang terpenting ketika tidur adalah nyenyaknya bukan di mana tempatnya. Nyamuk nyamuk yang berterbangan yang menyerang tidak Heri hiraukan, dia terlalut dalam impian indah yang selalu hadir dalam tidurnya, karena hanya kala itulah dia bisa mendapat kebahagiaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD