Cobaan Datang Kembali

1520 Words
Keadaan semakin malam, suasana pun mulai terasa sunyi karena kendaraan sudah tidak terlalu banyak yang berlalu Lalang, hanya sesekali terdengar suara truk yang melintasi jalan itu. Heri terus terlelap dalam mimpi indahnya tak memperdulikan keadaan sekitar yang terasa dingin dan dikerumuni oleh nyamuk. Lambat laun waktu pun terus melaju menuju ke waktu subuh, diawali dari cahaya kuning keemasan dari upuk Timur, diikuti dengan suara orang yang bersholawatan di masjid, membangunkan jiwa-jiwa yang terbiasa terpanggil oleh lantunannya, mereka pun bergegas bangkit dari tempat tidur, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan terlebih dahulu sebelum menyembah sang pencipta. Berbeda dengan Heri, Dia tetap terlelap dengan tidurnya, bahkan saking lelapnya dia tidak berubah posisi sedikitpun, padahal matahari sudah menunjukkan cahayanya. tapi lama kelamaan akhirnya dengan perlahan dia membuka mata, karena suasana di sekitar toko mulai terdengar riuh, di jalan sudah banyak mobil yang lewat yang mau pergi ke tempat kerjanya atau mengantarkan penumpang. Heri membangkitkan tubuh, kemudian duduk matanya yang terlihat masih mengantuk memindai keadaan sekitar yang sudah terlihat sangat sunyi, orang-orang yang tadi malam menginap di teras toko itu sudah pergi entah ke mana. merasa tidak enak dan takut diusir dengan segera dia pun merapikan barang bawaannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam tas, setelah itu dia berjalan menyusuri trotoar untuk mencari sarapan agar perutnya yang terasa dingin bisa berubah menjadi hangat. Beruntung ketika dia berjalan menuju ke lampu merah dia bertemu dengan penjual kopi keliling, dengan segera Heri pun memesan satu gelas kopi bersama jenang untuk memulai harinya yang terasa sangat, suram uang yang tadinya mau dihemat tapi sekarang uang itu sudah tinggal Rp10.000 lagi. Setelah kopinya selesau dibuat Heri pun melanjutkan perjalanannya menuju lampu merah dengan menenteng kopi dan plastik berisi jenang. Sesampainya di lampu merah terlihatlah orang-orang yang seperjuangan sudah berdiri di tepian menunggu lampu tanda berhenti itu menyala. Heri menyeruput kopinya terlebih dahulu, kemudian dia menyimpannya di bahu jalan, karena dia ingin segera memulai pekerjaannya agar dia cepat menghasilkan uang. "Bismillahirohmanirohim...! semoga saja Hari ini aku dapat uang lebih banyak dari yang kemarin." ujar Heri dengan melangkahkan kakinya menapaki aspal jalan. dengan segera dia pun menghampiri kaca pintu mobil dengan menadahkan tangan, wajahnya dibuat lesu seperti orang yang belum makan selama seminggu. Ada orang yang baik dan kelebihan rezeki Mereka pun dengan berbesar hati memberikan uang recehannya kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung, Ada pula yang terlihat cuek karena mungkin mereka beranggapan memberikan uang terhadap pengemis itu adalah pemberian yang salah, karena secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk hidup malas. Hari itu Heri terus bersemangat mengais rezeki dari mobil satu ke mobil yang lain, tidak ada yang mengganggu dari rekan sepekerjaannya, karena mungkin mereka pun merasakan hal yang sama, seperti yang sedang dialami oleh Heri. Mereka tidak bisa memilih kehidupan yang bisa mereka lakukan adalah menjalaninya dengan begitu ikhlas, karena tidak mungkin ada orang kaya Kalau tidak ada orang seperti mereka. Kira-kira pukul 09.00 malam, Heri pun kembali lagi ke ruko yang tadi malam ia gunakan untuk menginap. di tempat itu dia menghitung kembali uangnya dan ternyata hari itu sisa makan dan merok0k, Dia mendapat Rp150.000 membuat dia merasa bahagia karena kalau dia terus melakukan hal seperti itu, mungkin hutang sama Pak Ustad dan janjinya sama darmini bisa secepatnya diselesaikan. "Benar kalau terus-terusan seperti ini, aku bisa cepat kaya. ternyata kalau kita mau berusaha uang itu akan selalu ada," gumam Heri sambil memasukkan kembali uangnya ke dalam saku celana, dia simpan uang itu dengan begitu rapi agar tidak terjatuh. Malam itu Heri bisa tidur dengan cepat, sehingga ketika adzan subuh berkumandang dia sudah bangun, namun dia tidak sedikitpun memiliki niat untuk pergi ke masjid, karena dia merasa malu dengan tubuhnya yang kotor dan dekil, sehingga yang dia lakukan hanya mencari tukang kopi dan mencari sarapan untuk memulai hari yang begitu cerah. Matahari dari ufuk timur terlihat begitu cerah, secerah harapan Heri yang sudah mendapat jalan usaha yang ringan, hanya bermodalkan wajah lesu dan baju lesu dia bisa mengais pundi-pundi rupiah yang tidak bisa dianggap sedikit. Heri terus menjalani aktivitasnya seperti hari sebelumnya, Namun sayang hidupnya yang selalu ditimpa kesialan sehingga dia tidak mampu berlama-lama berada di dalam kebahagiaan. kira-kira pukul 11.00 siang tiba-tiba terdengar suara sirine mobil yang membuat teman-teman seperjuangannya berlari. "Ada apa, ada apa?" tanya Heri dengan panik "Kabur..., kabur ada Satpol PP....!" jawab salah seorang pengemis sambil berlar.i Meski Heri tidak tahu apa-apa, dengan segera dia pun bergegas berlari menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada, Dia menjauhi lampu merah masuk ke dalam ganggang sempit yang berada di sekitaran tempat itu. benar saja apa yang disampaikan oleh temannya Heri pun dikejar oleh dua orang yang berpakaian seragam, namun hari yang keadaannya sehat walafiat dia bisa berlari begitu cepat dan akhirnya dia pun bisa lolos. Setelah dirasa aman Heri pun menjatuhkan tubuh di salah satu tanah kosong, nafasnya terlihat memburu seperti baru saja dikejar oleh hantu, keringat terus bercucuran membasahi tubuh matanya memindai keadaan sekitar, takut masih ada orang yang mengejarnya. "Sial.....! sial.....! Kenapa hidupku selalu sial, baru saja mendapat kesenangan dan kebahagiaan sekarang sudah sirna, gara-gara ada satpol..!' Gerutu Heri sambil menyeka wajah yang dipenuhi oleh keringat. Semilir angin kecil menerpa rerumputan yang rimbun menimbulkan suara kemrosok kemresek, membuat tubuh Heri lebih cepat terasa segar. dari arah jauh terdengar suara sirine yang terus mengelilingi kota membuat Heri sedikit memasukkan tubuhnya ke dalam tanah kosong itu, bersembunyi di semak-semak belukar. "Kenapa harus ditangkap padahal kita tidak merugikan mereka, kita hanya memberikan peluang bagi orang-orang yang kelebihan uang untuk bersedekah. memang dasar orang-orang yang tidak mengerti, tidak berpendidikan, selalu tidak senang ketika ada kehidupan orang sedang senang." umpat Heri dalam hati, tubuhnya tidak terlihat dari Jalan Gang karena dia masih mendudukkan tubuhnya di bawah pohon rambutan yang terlihat rimbun. Untuk sementara waktu Heri tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya, karena dia takut ditangkap oleh orang-orang yang mengejarnya, meski dia belum tahu kalau ditangkap dia akan diapakan tapi itu tidak akan lucu kalau sampai dia tertangkap, begitulah pemikiran Heri sekarang. Waktu pun terus melaju, tak ada satu orang pun yang bisa menghentikan. dari arah Masjid terdengar suara adzan zuhur berkumandang, menandakan waktu menyembah Tuhannya sudah tiba, matahari terasa Begitu terik namun beruntung Heri tidak langsung terpapar oleh sinarnya, karena terhalang oleh rimbunnya daun pohon rambutan. Kira-kira pukul 02.00, Heri yang sudah merasa aman dia pun membangkitkan tubuhnya untuk melanjutkan pekerjaan, tapi dia duduk kembali karena merasa bingung, dia harus pergi ke mana, kalau dia memberanikan diri kembali ke lampu merah dia takut polisi-polisi itu masih menjaga tempat usahanya. "Kemana Aku harus pergi sekarang, kalau kembali ke lampu merah aku takut ditangkap mana perut sudah keroncongan lagi. apa aku harus mencari makan dulu agar otakku sedikit encer Siapa tahu saja kalau habis makan, aku bisa mendapatkan jalan untuk melanjutkan kehidupanku selanjutnya. tapi sebentar tadi dapat uang berapa ya?" tanya Heri terhadap dirinya sendiri dengan segera dia pun mengeluarkan hasil dari pekerjaannya terlihatlah uang lembaran 2000-an, dan uang recehan yang lumayan banyak Setelah dihitung uang itu tidak kurang dari Rp70.000. "Banyak juga ya kalau dikumpulkan dengan hasil hari kemarin, jumlahnya menjadi 210.000, karena yang Rp10.000 dipakai ngopi tadi pagi," ujar Heri sambil memisahkan uang receh dan uang lembaran. yang receh dimasukkan ke dalam kantong tas yang ia bawa, sedangkan yang lembaran dia masukkan ke dalam kantong celana. "Uang 210.000 kalau dipakai pulang ke kampung Donorojo ini akan cukup, tapi bagaimana membayar hutang sama Pak Ustad dan menepati janji terhadap si darmini yang mau mengasih uang lima juta buat tambahan usahanya di pasar." pikiran Heri menjadi Dilema antara tetap tinggal di kota Kudus atau kembali pulang ke kampung Donorojo. "Cobain saja dulu bekerja menjadi pengemis. karena itu tidak terlalu berat. Nanti kalau uangnya sudah terkumpul baru aku akan pulang dan memutuskan untuk tetap tinggal di sana, agar tidak malu ketika makan aku akan membaiki si Darmiini dengan membantunya berjualan di pasar. sekarang aku harus secepatnya mengisi perutku, nanti bisa-bisa aku Sawan." putus Heri sambil bangkit kembali dari tempat duduknya lalu dia keluar dari tempat persembunyiannya. Setelah berada di Gang, dia memindai keadaan yang terlihat sangat sepi m, hanya sesekali ada motor yang lewat. merasa tidak menemukan apa yang ia cari, akhirnya Heri pun berjalan tanpa tahu arah tujuan, entah dia berjalan ke sebelah barat atau ke sebelah utara, yang ada di pikirannya Secepatnya Dia harus menemukan orang yang menjual nasi. Kira-kira 10 menit berlalu, akhirnya dia tiba di salah satu warung yang berada di gang, terlihat di estalasenya berjejer lauk nasi yang tidak terlalu lengkap, namun Heri tidak memikirkan hal itu, dengan segera dia pun masuk ke dalam, kebetulan di warung itu terlihat sepi karena waktu makan siang sudah terlewat. "Selamat datang Mas, mau makan?: tanya seorang ibu-ibu yang menghampiri Dia, terlihat ramah tidak seperti ibu-ibu yang berjualan ketika malam itu. "Iya Bu, Saya mau makan nasi sama sayur dan goreng tempe." jawab Heri menyampaikan pesanannya. "Sebentar saya buatkan dulu mas," kemudian penjaga warung nasi pun mulai menyentuh nasi ke dalam piring lalu ditambahkan dengan lauk pauk sesuai dengan kemauan Heri. Tak lama diantaranya akhirnya pesanan pun datang dengan segera Heri pun mulai menyantap nasi itu dengan begitu lahap, rasa lapar sehabis bekerja dan dikejar-kejar Satpol PP membuat nasi itu terasa nikmat, meski hanya makan dengan sayur nangka ditambah tempe dan tahu goreng. Assalamualaikum!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD