Pengemis Sukses

1385 Words
Sudut mata Heri melirik ke arah orang yang mengucapkan salam,terlihatlah ada dua orang yang sedang berdiri di dekat pintu. yang satu ibu-ibu dengan baju lusuh di belakangnya ada seorang laki-laki yang memegang pundaknya, sekilas Heri sudah bisa menebak kalau kedua orang itu adalah orang yang seprofesi dengannya, namun alirannya saja yang berbeda dia berada. Dia di lampu merah sedangkan kedua orang itu bekerja dari door to door. "Assalamualaikum!" ujarnya lagi setelah tidak mendapat tanggapan. "Waalaikumsalam...!" jawab ibu-ibu penjaga warung namun dia tidak beranjak dari tempat duduknya. "Assalamualaikum." ulang Orang yang berdiri di ambang pintu. "Waalaikumsalam, maaf Pak Bu warung Saya lagi sepi." "Bukannya dari tadi, Kalau tidak mau ngasih bilang jangan diam terus....!" gerutu ibu-ibu yang berdiri di ambang pintu sambil membalikkan tubuh dan berjalan menjauh meninggalkan warung penjual nasi. "Saya kadang heran sama mereka, Padahal mereka itu kalau dibandingkan dengan saya umurnya masih muda, tubuhnya terlihat sangat sehat. daripada mengemis menggadaikan harga diri, mendingan mencari pekerjaan yang layak. mereka pasti kuat kalau jadi buruh cuci atau jadi asisten rumah tangga," ujar ibu penjual warung mengajak ngobrol Heri yang masih asik menyantap makanannya. "Mungkin mereka sudah keenakan Bu, karena hanya modal Muka Tebal dan wajah lesu, ditambah pakaian yang lusuh, sudah bisa mengais pundi-pundi rupiah. hanya tinggal menadahkan tangan maka uang pun akan berdatangan," jawab Heri dengan raut wajah yang datar Padahal dia juga melakukan pekerjaan yang sama. "Iya Benar daripada membuka usaha atau menjadi pembantu itu membutuhkan modal dan tenaga tapi hasilnya hanya sedikit. jualan untungnya tidak seberapa menjadi pembantu paling uangnya cuma satu jutaan, itu pun bayarannya di bulankan." "Benar Bu, mereka sehari bisa mendapat uang berkisar antara 200 sampai Rp300.000, Kalau sebulan saja udah 6 jutaan. gaji UMR saja tidak seperti itu, makanya mereka lebih memilih berprofesi menjadi pengemis, dari pada bekerja yang lain." sahut Heri setelah mengunyah makanan yang ada di mulutnya dia meladeni perkataan si Ibu untuk menyembunyikan profesi aslinya. "Benar....., kadang saya juga suka merasa kesal, padahal uang mereka sudah memenuhi tas, Tapi masih saja meminta-minta, Bahkan sering keciduk dan diberitakan di televisi mereka memiliki tabungan berpuluh-puluh juta, bahkan ada yang sampai miliaran." "Ah yang benar Bu...?" ujar Heri yang terlihat terkaget kaget. "Ya benar, kalau sehari saja dapat uang Rp200.000, sebulan sudah 6 juta. Coba kalau bayangkan kalau sehari mendapat 500.000 sebulan sudah 15 juta, kalau dia bekerja selama 10 tahun saja sudah mendapat uang 1,8 miliar." "Hebat Ibu.....!' ujar Heri sambil mengangkat jempol kirinya, karena tangan kanan sedang digunakan memegang gelas untuk meminum airnya. "Hebat Apaan Mas?" "Ya hebat Ibu bisa menghitung sampai ke sana." "Yah namanya juga perempuan mas, Kalau masalah duit kita paling ngerti deh....!" jawab ibu warung sambil mengulum senyum. "Emang rata-rata perempuan seperti itu ya?" "Seperti itu bagaimana?" tanya penjual nasi sambil mengerutkan dahi. "Ya Kalau masalah uang mereka paling pintar." "Yah tapi nggak usah disebutkan lah mas, masalah seperti itu sudah menjadi rahasia umum. Oh iya Mas dari mana, Kok saya baru lihat?" "Saya kerja kuli bangunan di Kampung Sebelah, kebetulan di sana warung nasi langganan saya sedang tutup." "Warung nasi mbok Yuyun?" "Iya itu, kok ibu tahu?" jawab Heri yang sedikit terkaget karena tidak menyangka kalau pembahasannya akan jauh. "Tahu lah mas, karena itu adalah saudara sepupu saya. dia dulu belajar masak sama saya, tapi kalau sekarang udah sukses jangankan berterima kasih, menjenguk pun tidak pernah dia lakukan." "Itu Sudah menjadi kebiasaan manusia Bu, kalau dia lagi miskin mereka akan menganggap kita saudara. tapi kalau sebaliknya, mereka jangankan mengaku saudara, mengaku kenal saja kayaknya mereka tidak mau. "Hehehe, Memang begitulah sifat tamak manusia. Oh iya sudah lama kerja di sana?" Tanya si Ibu seolah ingin lebih jauh mengetahui pribadi Heri. "Baru seminggu Bu. maklum orang susah kerja apapun harus saya lakoni." "Memang harusnya seperti itu, kita Jangan melihat gaji besar kecilnya, tapi lihatlah pekerjaannya! yang terpenting pekerjaan itu baik dan halal, tidak merugikan orang lain, maka kita harus kerjakan. "Benar Bu, tapi kalau kita terus mengobrol Kayaknya tidak akan selesai. total makanan saya jadi berapa?" ujar Heri yang ingin segera pergi meninggalkan tempat itu. "Totalnya Rp10.000 Mas." Setelah mendapat totalan dari makanan yang sudah dia makan, Heri pun mengeluarkan uang dari tasnya uang receh yang dia kumpulkan hasil dari mengemis di lampu merah. "Maaf Bu Bayarnya pakai receh, soalnya kemarin ketika saya belanja di warung dekat tempat kerja tidak ada kembalian uang lembaran," ujar Heri agar penjaga warung tidak curiga. C"Nggak apa-apa Mas...! receh juga masih uang." jawab penjaga warung sambil mengulum senyum. Setelah membayar makanannya Heri pun keluar dari warung itu, kemudian dia menyusuri Gang untuk mencari jalan raya, karena dia bertujuan untuk kembali ke tempat kerjanya, dia ingin mengetahui kondisinya seperti apa sekarang setelah tempat kerjanya di obrak-abrik oleh petugas. "Apa aku harus mandi dulu agar ketika ada Satpol PP, aku tidak dicuriga sebagai pengemis." pikir Heri sambil terus berjalan, sesekali dia bertanya ke mana jalan keluar dari gang. "Iya benar aku harus mandi dulu, tapi mandi di mana?" putus Heri sambil menghentikan langkah, matanya memindai keadaan sekitar mencari-cari toilet umum, namun setelah lama dia mencari dia tidak menemukan, tapi beruntung dia melihat mushola. "Kayaknya di mushola itu ada toiletnya. Iya benar, aku harus menumpang mandi di sana, kalau harus bayar akan ku bayar paling cuma Rp2.000," gumam hati Heri sambil terus mendekat ke arah mushola beruntung mushola itu terlihat sepi, karena belum tiba waktunya untuk melaksanakan salat. Sesampainya di mushola dengan segera Heri masuk ke dalam toilet lalu membuka pakaiannya untuk membersihkan tubuh yang sudah hampir dua hari tidak tersentuh oleh air, beruntung di kamar mandi itu ada sabun colek mungkin biasa digunakan untuk menyikat lantai, tanpa berpikir kegunaannya untuk apa Heri pun menggunakan sabun colek itu sebagai sabun mandi. Selesai membersihkan tubuh, dia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih, sedangkan pakaian yang kotor dia masukkan ke dalam tasnya. setelah dirasa rapi dia pun keluar dari WC dan bergegas pergi meninggalkan mushola, takut ketahuan warga karena dia menumpang mandi di sana. Heri terus berjalan menyusuri Gang, hingga akhirnya dia sampai di jalan raya. Heri terus menyusuri trotoar menuju ke arah utara kearah lampu merah yang biasa digunakan untuk bekerja. suara deru mobil tidak sedikitpun berhenti, di sahuti dengan suara klakson yang sesekali dibunyikan ketika ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya. matahari sudah mulai turun ke sebelah barat, cahayanya tidak seterik tadi siang, membuat Heri tidak merasa kepanasan, dengan santai dan gagahnya Ia terus berjalan menyusuri trotoar. Kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya dia tiba di perempatan jalan yang di setiap sudutnya berdiri lampu yang selalu berganti. kalau tidak merah berarti hijau dan ketika lampu merah menyala itu adalah waktu yang tepat untuk mengambil uang yang akan diberikan oleh pengguna jalan. Mata Heri memindai keadaan sekitar yang terlihat ramai, namun Heri sedikit merasa aneh karena di setiap pemberhentian, Biasanya banyak orang-orang yang berdiri di tepian jalan menunggu lampu merah menyala. tapi kala itu tidak ada seorangpun yang bekerja, tidak ada pengamen, tidak ada pengemis, tidak ada yang berjualan Asongan. Hati Heri merasa sedih menerima kenyataan itu karena secara tidak langsung tempat mencari uangnya sudah tidak nyaman lagi di gunakan, karena mungkin kalau dia tetap ngeyel pengemis di lampu merah, maka dia akan diangkut menggunakan mobil losbak di bawah ke tempat penampungan. Melihat kenyataan pahit seperti itu, Heri pun mendudukan tubuhnya di tembok pagar yang berada di samping trotoar, matanya terus memperhatikan kendaraan-kendaraan yang beralur Lalang seolah tidak capek untuk terus bergerak, untuk terus beraktivitas. Heri merasa bingung harus sebagaimana lagi, dengan cara apa lagi dia mencari uang untuk pulang ke kampung halamannya, sehingga yang bisa dia lakukan hanya termenung meratapi nasib sial yang selalu menimpanya. "Haduh bagaimana kalau sudah seperti ini, Apa aku harus pulang ke kampung Donorojo. tapi kalau pulang ke sana berarti aku kalah, benar aku harus tetap bekerja dan menghasilkan uang di tempat ini, agar kehidupanku bisa berharga di mata istri, jangan sampai dia menggugat cerai kembali.' gumam Heri sambil memijat keningnya yang mulai terasa menggendut, merasa pusing dengan apa yang harus dia lakukan. "Apa sebaiknya aku menunggu sampai besok pagi, kalau besok pagi tidak ada perubahan, maka mau tidak mau aku harus pulang ke kampung Donorojo." akhirnya Heri pun mengambil keputusan di mana dia akan mencoba bertahan sampai besok pagi, kalau besok dia tidak mendapat halangan ketika bekerja, maka kejadian hari ini hanyalah kejadian yang kebetulan saja. untuk ke depannya tinggal dianya yang harus lebih pintar mengatur siasat, agar tidak tertangkap oleh Polisi Pamong Praja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD