Petunjuk Cerdas

1448 Words
Matahari terus turun ke sebelah barat, panasnya tidak terlalu terik seperti tadi siang. suara mobil tidak pernah berhenti yang melewati perempatan itu, ada yang masih mengantarkan penumpang, ada pula yang baru pulang dari tempat kerjanya karena waktu itu mereka sudah waktunya pulang, ada pula yang hanya jalan-jalan Menikmati keindahan kota di sore hari. Heri terus termenung dengan menyandarkan tubuhnya ke pagar bangunan, matanya menatap kosong ke arah jalan, lamunannya terbang keluar dari raga membayangkan apa yang akan terjadi dalam kehidupan selanjutnya. untuk menemani Lamunan itu dia pun membeli kopi ditambah sebungkus rok0k agar melamunnya lebih nikmat. Keadaan pun semakin lama semakin menuju ke arah waktu maghrib, ditandai dengan menghilangnya matahari lalu disambung dengan Lembayung senja yang warnanya terlihat sangat indah, warna kuning keemasan merubah warna warna yang tersinari oleh sinarnya. lampu-lampu jalan mulai terlihat menyala menandakan sebentar lagi siang akan digantikan oleh sang malam. Heri masih belum beranjak dari tempat duduknya, karena dia tidak memiliki tempat tinggal sehingga dia bingung harus pergi ke mana. Suara bedug yang dipukul terdengar dari arah Masjid, diikuti oleh suara Adzan yang suaranya Terdengar sangat merdu, menandakan manusia harus menghentikan aktivitasnya karena sudah waktunya untuk mengingat sang pencipta. orang-orang yang hatinya selembut kain sutra dan mengerti tentang kewajiban, dengan segera Mereka pun bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. berbeda dengan Heri yang tidak sedikitpun bergeming hanya tangannya saja yang sibuk menepuk pipi dan kulit yang terbuka, karena dikerumuni oleh nyamuk yang sudah mulai keluar mencari kehidupan. "Sial....., memang sial hidupku ini, sudah tidak memiliki tempat tinggal ditambah nyamuk kurang ajar ini terus menyerangku. kayaknya aku harus secepatnya kembali ke penginapan, agar aku bisa berbaring untuk melepaskan lelah." putus Heri setelah tidak mendapat jawaban dari semua kerisauan hatinya. Heri bangkit dari tempat duduknya, sebelum pergi dia menepuk-nepuk celananya yang kotor karena Debu. Setelah semuanya dirasa rapi dia pun pergi dengan langkah gontai dan hati yang tak karuan, menyusuri trotoar menuju ruko yang biasa dia gunakan untuk beristirahat. Mata Heri terlihat tercengang ketika sampai di pintu masuk halaman parkir ruko, karena di tempat itu masih terlihat ramai, soalnya Para pemilik belum menutup tokonya. melihat kenyataan seperti itu Heri sedikit merasa menyesal namun dia yang tidak tahu harus menginap di mana, akhirnya dia duduk kembali di trotoar dekat pintu keluar. Untuk mengusir kebosanan, dia pun mengeluarkan rok0k yang tadi ia beli, kemudian dia menyalakan satu batang Lalu dihisap dengan begitu dalam, menggambarkan waktu itu dia sangat frustasi. matanya menatap ke arah mobil yang lewat di jalan, pikirannya yang hanya bisa digunakan untuk melamun membayangkan bagaimana nantinya kalau dia sudah menjadi orang kaya, dia bisa membawa salah satu mobil seperti yang terlihat oleh matanya, di kursi kanan duduk seorang wanita muda istri barunya. Membayangkan keindahan seperti itu, kedua sudut bibir Heri pun terangkat persis seperti orang yang kabur dari rumah sakit jiwa. begitulah kebiasaan orang pemalas mereka lebih mementingkan melamun daripada memikirkan hal yang nyata. Kira-kira pukul 09.00 lewat, Toko yang sejak jam 08.00 malam sudah tutup, sekarang sudah benar-benar sepi. bahkan teman yang senasib dengan Heri mereka sudah terlihat ada yang datang dengan pakaian yang lusuh, wajah yang dekil mengisyaratkan kehidupan yang sangat susah. Heri yang sudah merasa mengantuk dia pun mengikuti Masuk ke halaman parkir, kemudian dia duduk di teras ruko, meski sudah malam ketiga mereka tidur di tempat yang sama tapi mereka tidak pernah mengobrol, karena mungkin rasa capek setelah mencari kehidupan sehari-hari. Setelah merapikan tempat tidurnya, dengan segera Heri pun Menutup Mata, ditemani dengan Lamunan Indah agar segera masuk ke alam mimpi. benar saja beberapa menit berlalu terdengar suara dengkuran yang keluar dari mulut Heri, nyamuk nyamuk yang menyerang dia tidak pedulikan terlena oleh keindahan mimpi yang ia ciptakan sendiri. Keesokan paginya, setelah menyantap sarapan Heri memutuskan untuk kembali mendatangi lampu merah, dia berpikir bahwa penggerebekan seperti kemarin hanya sesekali dilakukan oleh para petugas. jadi hari itu mungkin tidak akan terjadi lagi, sehingga dia pun membulatkan tekad bahwa dia akan bekerja kembali seperti biasa. Sesampainya di tempat kerja terlihat di tempat itu masih sepi, mungkin para pekerja yang bernasib sama seperti Heri mereka masih trauma atas penangkapan kemarin atau benar-benar mereka tertangkap. tapi meski tidak ada teman Heri tetap menjalankan usahanya dia mulai turun ke jalan ketika lampu merah menyala, mendatangi mobil satu pindah ke mobil yang lain untuk meminta belas kasihan orang-orang yang dermawan. Kira-kira pukul 07.00 teman-teman seperjuangan Heri mulai mengikuti, namun tak sebanyak hari-hari sebelumnya, karena sebagian dari mereka hari kemarin ada yang tertangkap, sehingga suasana di lampu merah itu kembali normal seperti hari-hari biasa, di mana ketika lampu merah menyala akan banyak orang yang mendatangi mobil. Petaka itu terjadi kembali, kira-kira pukul 08.30 teman Heri tiba-tiba berteriak karena dia ada yang memegangi. Heri yang berdiri lumayan jauh melihat kejadian itu tanpa berpikir panjang dia pun pergi dengan berlari, ada beberapa petugas yang mengejarnya namun mereka kalah cepat dengan Heri, karena dia berlari dipenuhi ketakutan sehingga sebentar saja Heri sudah menghilang. "Haduh Kenapa petugas itu pada datang kembali, padahal kita nggak merugikan negara seperti para koruptor dan tidak merugikan orang lain, karena orang-orang yang mengasih itu adalah keikhlasan Mereka. kami para pengemis tidak pernah memaksa mereka untuk membagi uangnya, tapi kenapa kita dikejar-kejar seperti pencuri yang maling uang ratusan miliar." Gerutu Heri yang sedang berjalan di gang sempit, nafasnya terlihat memburuk tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat, jantungnya terus berdetak begitu kencang merasa takut kalau dirinya ditangkap. Ketika melewati Tanah kosong Heri pun memutuskan untuk masuk ke dalam, kebetulan tanah itu rumputnya sangat rimbun seperti tidak terurus, Heri memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sambil berpikir bagaimana menjalani hidup kedepannya, karena bekerja di lampu merah sekarang tidak aman. Setelah nafasnya normal kembali, keringat yang membasahi tubuh sudah mulai kering terbawa oleh uapan sinar matahari yang menyorot tubuhnya. untuk mendapat inspirasi Heri pun mengambil r0kok sisa tadi malam, kemudian dia membakarnya untuk menemani melamun, pekerjaan yang sudah biasa dia lakukan. Lama melamun bahkan puntung rok0k yang dibakarnya sudah Dia buang, Namun sayang dia belum bisa memutuskan harus ke mana dia pergi untuk melanjutkan kehidupannya, karena uang yang didapat hari kemarin hanya cukup digunakan untuk ongkos pulang saja, sedangkan Dia memiliki hutang sama Pak Ustad orang yang selalu ia hormati. "Bisa saja sih aku pulang ke rumah dengan uang yang aku miliki sekarang, tapi itu akan sia-sia kalau aku pulang ke rumah tanpa membawa uang. sudah bisa dipastikan kalau si darmini akan mengusirku dari rumahnya," gumam Heri yang terus mempertimbangkan antara pulang ke rumah atau tetap tinggal di Kudus. Semakin lama berpikir, bukannya mendapat solusi yang ada kepalanya terasa pening, pandangan matanya sedikit berkunang-kunang, perutnya mulai terasa mual ingin muntah, membuat Heri semakin merasa sedih dengan kehidupan yang ia jalani sekarang, kesusahan yang dibuat oleh dirinya sendiri. "Iya benar! daripada aku diam terus seperti ini, Mendingan aku jalan saja siapa tahu aku mendapat solusi terbaik. tapi sebelum itu aku harus mengganti pakaianku dengan pakaian yang rapi, agar ketika bertemu dengan para petugas aku tidak dicurigai." akhirnya Heri pun memutuskan pilihan, dengan segera dia pun melepaskan pakaian dekilnya lalu diganti dengan pakaian yang agak bersih. Setelah semuanya rapi, dia pun keluar dari tanah kosong yang ditumbuhi rerumputan, yang rimbun seperti maling yang baru keluar dari tempat persembunyian. setelah berada di jalan gang Heri mulai melangkahkan kakinya menyusuri Gang itu, namun baru saja beberapa langkah dia melihat kedua orang yang tidak asing baginya, karena hari kemarin dia bertemu. "Itu kayaknya pasangan pengemis yang meminta-minta di warung nasi si ibu." ujar Heri sambil menghentikan langkah, matanya memindai orang yang baru keluar dari sebuah warung, tangan perempuan yang menuntun orang yang buta terlihat memasukkan sesuatu ke dalam kantongnya. "Mau ke mana lagi mereka? Awas akan aku ikut ke kalian!" gumam Heri dengan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya mengikuti kedua orang itu dari jauh. Tak lama berjalan, kedua pengemis pun masuk kembali ke salah satu halaman rumah, lalu mengucapkan salam karena pintu rumahnya terbuka. dari arah dalam terlihat ada seorang anak kecil yang keluar kemudian memberikan sesuatu, setelah mendapat yang mereka cari kedua pengemis itu keluar kembali. Heri Terus mengikuti dan memperhatikan gerak-gerik mereka yang mendatangi dari rumah satu ke rumah yang lain, dari penjual yang satu ke penjual yang lain, terlihat ada orang yang memberi, ada pula orang yang mencaci. tidak sedikit pula ada orang yang cuek seperti tidak memperhatikan kedatangan mereka. Sejam berlalu Heri terus mengikuti kedua pengemis itu, namun Alangkah terkejutnya ketika berada di jalan yang sepi tangan yang menempel ke bahu perempuan yang berjalan di depan dilepaskan begitu saja, pria buta yang di belakangnya bisa berjalan dengan begitu baik, seperti orang yang memiliki penglihatan pada umumnya. "Hei......! ternyata dia bisa melihat. tapi kenapa mereka masih mengemis padahal tubuh mereka normal?"gumam Heri yang berhenti di balik tembok, namun setelah melihat kejadian itu dia pun mengulum senyum seolah mendapat satu jalan untuk tetap bertahan hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD