Setelah mendapatkan ide, Heri pun berbalik arah tidak terus mengikuti kedua pengemis yang dia ikuti, Heri terus berjalan menyusuri Gang hingga akhirnya sampai di Jalan Raya, kebetulan di trotoar ada pohon yang begitu Rindang, tanpa berpikir panjang Heri pun berhenti lalu duduk di bangku yang berada di bawah pohon itu.
"Tapi bagaimana caranya agar aku bisa mengikuti mereka, karena kalau pura-pura buta harus ada dua orang harus ada yang menuntun, tapi kalau orang buta tidak harus ada yang menuntun mereka cukup menggunakan tongkat untuk berjalan, tapi di mana aku harus mendapat tongkat itu. Eh bagaimana kalau orang buta Mana mungkin bisa berjalan jauh tanpa ada orang yang membimbing," otak Heri mulai jalan kembali namun sayang otak itu berjalan dalam pemikiran yang salah.
"Kenapa harus pura-pura Buta Karena orang yang harus dikasihani itu bukan orang buta saja, orang yang lemah kakek-kakek yang sudah tua renta, itu juga bisa dijadikan cara agar aku bisa mendapat pundi-pundi rupiah, meski hanya 2000-an. benar aku harus pura-pura menjadi kakek-kakek penyakitan, agar orang-orang bisa mengasihani ketika melihatku." lanjut pikiran Heri yang tiba-tiba berubah menjadi encer, jalan yang akan ia lalui seolah menjadi terang benderang.
Setelah mendapat keputusan, akhirnya Heri pun berdiri dari tempat duduknya, matanya memindai keadaan sekitar mencari-cari tempat orang yang berjualan aksesoris untuk menunjang pekerjaannya. Namun sayang di tempat itu dia tidak menemukan yang ia cari, sehingga Heri mulai berjalan kembali menyusuri trotoar sambil memindai toko-toko yang berjejer rapih di samping jalan, Berharap ada sesuatu yang Iya cari.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Heri berhenti di salah satu toko penjual perabotan, setelah puas memindai halaman depan toko, Heri pun masuk ke dalam.
"Mau cari apa Pak?" sambut seorang pramuniaga yang terlihat ramah.
"Bapak ini sudah tua, pinggang Bapak terasa sakit. Apakah di sini menjual tongkat?"
"Tongkat buat berjalan Pak?"
"Iya itu, soalnya kalau tidak berjalan, bapak bosan di rumah terus."
"Kebetulan tongkat di tempat kami sudah habis Pak, coba Bapak datangi toko perabotan yang berada di ujung jalan, biasanya di tempat itu juga ada," jawab pramuniaga.
"Aduh...., jauh nggak ya?" jawab Heri yang terlihat kecewa, padahal dalam hatinya merasa bahagia karena dia sudah mendapat titik terang di mana dia mendapatkan aksesoris pekerjaannya.
"Nggak jauh Pak...., Bapak terus berjalan nanti kalau ada pohon besar yang rindang, Bapak tanya aja di situ Tempat perabotan rumah tangga!"
"Ya sudah kalau begitu terima kasih banyak, kamu ternyata baik sampai mau mempromosikan usaha orang lain."
"Bukan itu bukan seorang lain, tapi itu usaha ibu saya. Hehehe," jawab pramuniaga sambil mengulum senyum membuat Heri sedikit mencibir.
Setelah tidak menemukan jejak barang yang dia cari, Heri pun melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pramuniaga, dia menyusuri trotoar menuju ke salah satu pohon rindang.
Sesampainya edit tempat yang ia tuju, dengan segera dia pun menghampiri tukang parkir yang berada di pinggir jalan, dengan manggut dia pun mulai menyapa.
"Mohon maaf Mas mengganggu, Di sini toko perabotan yang mana ya?"
"Perabotan.... tuh itu!" jawab pemuda itu sambil menunjuk ke arah dalam. dan ternyata benar saja di situ ada ruko yang berjualan kebutuhan rumah tangga.
"Ternyata dekat juga ya. terima kasih!" jawab Heri yang sedikit malu kemudian dia pun berjalan Masuk ke halaman langsung ke dalam toko, meninggalkan penjaga parkir yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Mau cari apa Mas?" tanya seorang ibu-ibu yang umurnya tidak jauh beda dengan Heri.
"Saya mau cari tongkat buat berjalan Bu."
"Buat siapa?" tanya si Ibu yang mengurutkan dari matanya memindai tubuh Her.i
"Buat saya karena pinggang saya terasa sakit kalau berjalan. Kayaknya harus dibantu dengan menggunakan tongkat."
"Hati-hati Mas! sudah dicek belum Nanti saraf kejepit loh."
"Amit-amit jangan sampai lah Bu, Gimana ada nggak Soalnya menurut anak ibu yang berjualan di ruko sana. Di sini ada."
"Ada mau yang dari apa mau yang dari rotan atau dari stainless?"
"Yang murah dari apa Bu?"
"Dari stainless, karena kalau rotan menunggu panennya sangat lama, jadi harganya lumayan."
"Yang dari stainless berapa?"
"Rp75.000."
"Wah itu bukan murah Bu, itu sangat mahal kalau harganya segitu."
"Dibandingkan dengan tongkat rotan, itu murah Mas. soalnya yang rotan harganya Rp200.000."
"Waduh mahal juga ya, nggak bisa kurang itu?"
"Yang mana, yang gak bisa kurang."
"Yang stainless Bu."
"Bisa tapi nggak banyak."
"Berapa kurangnya?"
"Paling lurus."
"Rp50.000 begitu?"
"Ya enggaklah Mas, bisa bangkrut usaha saya kalau dijual segitu. paling Rp70.000 saya ngambil untung kecil kok."
"Nggak kurang lagi itu?"
"Nggak Mas, harga ini adalah harga paling murah. kalau nggak percaya coba cek toko lain Mereka jual 100 ribuan," ujar pemilik toko menjelaskan.
"Coba mana saya lihat tongkatnya!" pinta Heri yang tidak mau berdebat terlalu panjang.
"Imron Tolong bawa ke sini tongkat yang terbuat dari stainless!" teriak pemilik toko menyeru anak buahnya.
Orang yang disuruh pun tidak menolak, dengan segera dia mengambil tongkat yang berada di pojok toko, lalu mengambil beberapa kemudian diserahkan kepada atasannya.
Dengan segera Heri pun mengambil salah satu dari tongkat itu, kemudian dia memperhatikan dengan teliti, memilah dan memilih tongkat mana yang terbaik. setelah menemukan pilihannya, dia pun memegang tongkat itu lalu menatap kembali ke penjaga toko.
"Beneran tidak kurang lagi ini?"
"Nggak Mas, itu sudah murah!"
"Rp65.000 aja ya, soalnya saya hanya segitu uangnya. Siapa tahu saja nanti saya bisa langganan."
"Tongkat itu jarang ada yang rusak Mas, jarang ada yang ganti kecuali perabotan yang lainnya."
"Ya nggak apa-apa dong, namanya juga berusaha." ujar Heri sambil mengulum senyum.
Mendapat permintaan dari customernya, pemilik toko pun terdiam sesaat, seperti sedang menghitung keuntungan yang ia dapat ketika dia jual dengan harga Rp65.000. tidak lama berpikir Akhirnya dia pun menyetujui harga yang diusulkan oleh Heri.
"Ya sudah nggak apa-apa."
"Nah begitu dong, Terima kasih banyak sebelumnya!" ujar Heri sambil meletakkan kembali tongkatnya kemudian merogoh saku celana dengan segera dia pun mengeluarkan uang 2000-an membuat pemilik toko menatap heran ke arah Heri, karena memiliki uang receh sebanyak itu.
Heri tidak memperdulikan tatapan aneh itu, dia terus terfokus menghitung uangnya. setelah sesuai dengan harga tongkat dengan segera dia pun memberikan uang itu.
"Dihitung kembali! Maaf uangnya receh, soalnya tadi ketika belanja rok0k di warung tidak ada kembalian uang biasa," pinta Heri menyembunyikan rasa malu.
Dengan segera pemilik toko pun menghitung kembali uang yang diberikan oleh Heri, setelah selesai dia pun menyuruh bawahannya untuk membungkus tongkat yang baru dibeli oleh Heri dengan menggunakan koran bekas.
Setelah mendapat barang yang ia cari, Heri pun keluar dari toko penjual perabotan, lalu berjalan menyusuri trotoar tanpa arah dan tujuan. sehingga semakin lama dia berjalan semakin jauh dari kota, dia tidak tahu sekarang dia berada di daerah mana, karena jalan yang ia susuri berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Heri pun kembali beristirahat di bawah pohon Rindang yang tumbuh di samping jalan, matanya menatap ke arah tangan yang sedang memegang tongkat yang masih terbungkus oleh kertas koran. Dengan perlahan Heri pun mulai membuka bungkusan itu, terlihatlah tongkat yang baru ia beli masih mengkilap.
"Sebelum bekerja Kayaknya aku harus latihan terlebih dahulu untuk menirukan kakek-kakek yang sangat lemah dan membutuhkan pertolongan, agar orang-orang yang melihat merasa iba dan mau Memberikan sebagian rezekinya untukku. benar aku harus latihan, tapi latihannya di mana Soalnya di sini sangat ramai?"