Heri pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian membungkukkan punggungnya dengan bertumpu menggunakan tongkat, menirukan kakek-kakek yang sudah Renta atau menirukan orang yang sedang memiliki penyakit. dengan perlahan dia pun mulai mencoba melangkahkan kakinya, namun langkahnya diatur dengan perlahan-lahan, bahkan terlihat sangat gontai seperti orang yang sangat kepayahan.
"Kayaknya begini sudah cocok untuk dikasihani oleh orang lain. Hahaha, ternyata mencari uang itu sangat mudah, yang penting ada kemauan. hanya bermodalkan wajah lusuh dan tongkat ini, aku bisa mengais pundi-pundi rupiah." gumam Heri yang sudah percaya diri bahwa dengan berpura-pura menjadi tua Renta dia akan bisa bertahan hidup di kota.
Heri terus mengulangi latihan, menirukan seorang kakek-kakek yang sudah Rentak, dia tidak memperdulikan terik matahari yang begitu menyengat membakar kulitnya. dia terus beremangat sehingga akhirnya dia pun merasa bahwa dia sudah bisa menjiwai seorang yang sangat lemah, seorang yang pantas dikasihani dan diberi uang recehan.
"Kayaknya aku sudah bisa mencari uang sekarang." gumam Heri sambil duduk kembali di bawah pohon untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, semilir angin kecil menerpa membuat tubuhnya terasa segar. keringat yang bercucuran tidak ia pedulikan, karena sudah mendapat jawaban dari segala kegelisahan.
Setelah beberapa saat beristirahat, Heri pun mulai bangkit meninggalkan bawah pohon, diiringi dengan suara Deru mobil yang terdengar dari arah jalan, yang sesekali di selingi suara klakson. kebetulan tidak jauh dari arah pohon ada rumah kosong yang terbengkalai dengan segera Heri pun masuk ke dalam area itu untuk mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang sudah dekil. selesai mengganti pakaian dia pun keluar kembali lalu berjalan menuju ke sebelah barat.
Heri yang berjalan dengan terpincang-pinjang, dia terus menyusuri trotoar hingga dia masuk ke jalan kecil yang entah jalan apa namanya, karena baru pertama kali dia memasuki daerah itu, matanya terus memindai keadaan sekitar Jalan yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan, hanya Sesekali aja kendaraan yang lewat itupun mobil pribadi bukan angkutan umum.
Mata Heri terhenti ketika dia melihat warung yang buka, dia yang sudah tidak sabar ingin mencoba peruntungannya. dengan segera menghampiri warung sembako itu setelah berada di terasnya dengan segera Heri pun mengucapkan salam, persis seperti yang pernah dilakukan kedua pengemis yang mendatanginya ketika dia makan di warung nasi.
"Assalamualaikum.....!" ujar Heri dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar seperti orang yang sangat lemah dan lelah.
Tak Ada Jawaban dari orang-orang yang sedang berbelanja, seolah mereka tidak memperdulikan keberadaan Heri. Namun itu tidak membuatnya menyerah dengan segera Heri pun mengulang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, assalamualaikum....!" dengan suara yang lebih memelas, namun sekarang suara itu intonasinya dinaikkan agar orang-orang yang sedang berbelanja mengetahui keberadaannya.
Benar saja ketika Heri sudah mengulangi ucapan salamnya, ada seorang wanita cantik yang keluar dari dalam warung, kemudian dia memberikan uang receh sebesar Rp500. Tanpa berbasa-basi lagi dia pun masuk kembali ke dalam.
Heri yang menerima kenyataan seperti itu, dia tertegun karena dia tidak menyangka kalau dia hanya mendapat uang sebesar Rp500, membuat para pengunjung toko sedikit menatap jijik ke arahnya.
"Mau apa lagi mas, kan sudah dikasih uang sudah sana pergi....! masih kuat malah jadi pengemis, bukannya bekerja Dasar pemalas....!" usir salah seorang pemuda yang terlihat di tangannya memegang minuman.
Mendapat pengusiran yang menyakitkan hati, Heri Hanya bisa menarik nafas dalam menyembunyikan kekesalan yang memenuhi d**a, dia tidak berani membalas perkataan pemuda itu, karena kenyataannya Dia sedang menyamar. dengan langkah gontai dan dibuat-buat Heri pun keluar dari teras warung.
Setelah keluar dari area warung. Heri pun mendatangi warung atau penjual makanan yang lain yang berada di samping kanan jalan untuk melakukan hal yang sama. ada orang yang mengasihani, ada pula orang yang tidak menghiraukan, Mereka terlihat Acuh seolah tidak memperdulikan keberadaan Heri.
Meski banyak penolakan, Heri tidak Patah Arang. dia terus berjalan mendatangi warung yang satu pindah ke penjual yang lain, dia menadahkan tangan meminta belas kasihan, Berharap ada orang Dermawan yang mau membagikan rezekinya.
Suara adzan Dhuhur berkumandang dari arah masjid yang terdekat, Heri yang sudah sangat kelelahan karena harus terus berjalan, Akhirnya dia pun memutuskan beristirahat di salah satu teras kios kosong, dia duduk dengan menyandarkan punggungnya ke rolling door.
"Capek juga bekerja jadi pengemis seperti ini, berbeda ketika mengemis di lampu merah, hanya tinggal turun lalu mendatangi mobil yang berhenti, maka uang pun akan datang....!" gumam Heri yang terlihat sangat kelelahan, wajahnya dipenuhi keringat begitu juga bajunya yang terlihat basah karena berjalan di tengah terik matahari.
"Penasaran....! kira-kira aku dapat berapa duit sudah berjalan sekian jauh ini?" ungkap Heri sambil mengambil uang dari saku kemejanya, kemudian dia menghitung uang recehan yang diberikan oleh para pedagang yang memiliki hati dermawan
"Haduh kok cuma dapat Rp7.500, apa ini nggak salah?" ungkap Heri sambil menghitung ulang uang penghasilan mengemis kala itu, seolah tidak percaya perjuangan yang begitu melelahkan hanya menghasilkan uang recehan.
"Benar, benar memang.....! kalau di lampu merah tidak ada Satpol PP, mending aku mengemis di sana, karena kalau mengemis di sana dalam waktu 1 jam saja aku bisa menghasilkan uang sebesar Rp20.000, ditambah aku tidak harus berjalan jauh seperti sekarang. tapi nasib memang sudah terjadi, aku harus rela menjalani kehidupan seperti ini, sambil nunggu situasi di lampu merah aman." gumam hati Heri sambil kembali memasukkan uang recehan ke dalam kantong bajunya
Suara adzan terus terdengar berbarengan dengan suara perut Heri yang sudah keroncongan, karena tadi pagi dia hanya sarapan kopi saja, merasa lapar dia pun membangkitkan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanan sambil mencari warung nasi.
Tak selang Berapa lama, akhirnya Heri pun menemukan penjual nasi. dengan segera dia pun masuk ke warung itu, terlihatlah banyak orang yang sedang istirahat sambil menyantap makan siang.
Sebelum Heri masuk ke warung, terlihat dari arah dalam ada seorang pria yang menghampiri, kemudian dia memberikan uang receh membuat Heri menatap Aneh ke arah orang itu.
"Saya mau makan Pak, bukan mau mengemis."
"Cari tempat makan yang lain saja. di sini sudah penuh!" tolak penjaga warung dengan wajah kusam.
"Saya tidak akan makan di sini Pak, nasi saya mau Dibungkus saja." ujar Heri mencoba meluluhkan hati pemilik warung nasi.
"Nggak...., nggak ada Pak, makanan di sini sudah habis, silakan Bapak cari tempat yang lain saja....!"
Dengan perasaan yang sangat hancur, Heri pun membalikkan tubuh lalu keluar dari teras warung nasi, berjalan kembali menyusuri trotoar ditemani dengan teriknya matahari.
"Susah memang kalau menjadi orang susah, jangankan meminta makanan, membelinya saja pun dipersulit...!" ungkap hati Heri yang diliputi kekecewaan.
Dari arah depan terlihat seorang nenek-nenek yang membawa keranjang, yang di dalamnya berisi makanan. ketika Heri berpapasan Dia pun menghentikan nenek-nenek penjual itu membuat si nenek sedikit kaget.
"Mau apa?" tanya si nenek yang terlihat ketakutan.
"Jangan takut seperti itu Bu, Ibu jualan apa?" tanya Heri dengan suara pelan.
"Oh mau beli, nenek jualan gorengan. ada Goreng bakwan jagung, goreng tempe, lontong. kalau goreng gehunya sudah habis," Jawab si nenek yang terlihat sumringah.
"Coba saya lihat....!" pinta Heri yang sudah sangat lapar.
Dengan segera si nenek pun membuka penutup keranjang jualannya, membuat jakun Heri terlihat turun naik, Sepertinya dia sudah merasakan rasa gorengan itu di tenggorokannya.
"Mau beli apa aja Mas?"
"Kayaknya saya beli banyak Bu, tapi jangan di sini kita duduk di sana aja biar gak panas." ujar Heri sambil menunjuk salah satu kios kosong.
Mendapat ajakan Heri, si nenek pun memperhatikan keadaan sekitar tempat yang ditunjukkan oleh Heri, yang ternyata tidak terlalu sepi, Membuat hati Si nenek agak sedikit tenang karena kalau Heri berbuat macam-macam dia bisa berteriak.
Akhirnya kedua orang yang sudah lanjut usia itu berjalan mendekat ke arah kios yang tidak terlalu terpapar oleh sinar matahari, setelah sampai Heri pun membuka penutup keranjang gorengan, kemudian dia mengambil lontong dan Goreng bakwan jagung. rasa lapar yang sudah memenuhi jiwanya sehingga dia terlihat sangat rakus ketika memakan jualan si nenek.
"Berapaan ini Nek?" Tanya Heri sambil mengunyah makanan.
"Rp2.000 dapat tiga."
"Oh masih murah, kalau di kota seperti ini harganya sudah seribuan. ini buat sendiri atau ngambil di orang?" tanya Heri yang berbahasa basi.
"Ngambil di orang nenek, cuma dapat 200 perak dari satu gorengan."
"Kecil amat ngambil untungnya."
"Yah daripada diam di rumah tidak ada kerjaan, mendingan jalan-jalan sambil mencari uang, karena walaupun sudah tua kita tetap Butuh makan."