Lelah

1344 Words
"Benar walaupun gigi kita sudah mau habis, Tapi kita masih butuh makan untuk terus hidup, walaupun hidup dalam kesusahan." jawab Heri seperti motivator yang baru menetas "Oh iya mau ke mana dan dari mana, kayaknya lagi berada di perjalanan?" tanya si nenek yang terus menatap wajah Heri yang terlihat sangat lusuh dan dekil. "Saya lagi berjalan dalam menyempurnakan ilmu, jadi nenek tidak usah khawatir dan tidak usah takut dengan keadaan saya yang sangat kusam seperti ini, karena sebenarnya Saya ini orang kaya yang sedang menyamar," jawab Heri mulai berbohong kembali. "Oh sedang menyempurnakan ilmu. kalau begitu Semoga saja ilmu yang sedang Mas dalami bisa mas miliki." "Amin....! Oh iya jadi totalnya berapa?" Tanya Heri mengalihkan pertanyaan Setelah dia merasa kenyang. "Apa aja yang dimakan?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Heri pun terdiam mengingat-ingat apa yang sudah masuk ke dalam perutnya, rasa lapar yang sudah sampai Ke puncaknya sehingga dia lupa kalau makanannya harus dibayar. "Aduh berapa ya...., bentar saya hitung dulu lontong yang sudah saya makan." ujar Heri sambil mengambil daun pembungkus lontong, kemudian dia menghitungnya. ternyata dia sudah menghabiskan tujuh lontong yang menjadi bingung dia tidak ingat berapa mengambil gorengannya. "Lontongnya tujuh tapi gorengannya saya lupa Nek." ujar Heri sambil menatap ke arah si nenek. "Aduh kenapa tadi kok nggak dihitung, bisa-bisa nenek nombok nih....!" Ujar si nenek yang terlihat raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Tenang nek....! perasaan saya makan lontong pakai satu gorengan, jadi mungkin gorengannya juga pasti tujuh. jadi total semuanya 14, kalau nenek takut rugi genapin saja 15." ujar Heri yang sedikit merasa kasihan. "Iya berarti totalnya Rp10.000!" jawab si nenek. Dengan segera Heri pun mengambil uang receh yang berada di kantong kemeja, namun setelah dihitung uang itu kurang dari 10.000, sehingga mau tidak mau Heri pun harus mengeluarkan uang yang berada di kantong, tasnya setelah genap dia pun menyerahkan uang itu ke si nenek. "Terima kasih Mas....! kalau begitu saya lanjut jualan karena masih ada sisa," ujar si nenek sambil bangkit dari tempat duduknya. "Sebentar Nek! Apa nenek nggak bawa air minum? soalnya tenggorokan saya terasa serat makan terus, tapi tidak minum." "Ada, tapi airnya air teh?" "Nggak apa-apa....! air teh juga saya suka minum." Si nenek pun mengambil botol air mineral yang sudah diisi dengan air teh, kemudian menyerahkannya sama Heri. dengan segera dia pun meneguk Minuman itu dengan begitu lahap, kalau tidak ingat Minuman itu adalah minuman orang lain, mungkin Heri sudah menghabiskannya. Setelah meminum air teh beberapa teguk, Heri pun mengembalikan botol air teh yang tinggal Tengah lagi kepada si nenek yang terlihat sudah siap untuk melanjutkan perjuangannya berjualan. Mata Heri terus menatap mengantarkan kepergian penjual gorengan, hingga si nenek tidak terlihat lagi ditelan oleh belokan Jalan. Heri menarik nafas dalam karena hasil dia mengemis tidak cukup untuk membeli makan, ditambah perutnya yang masih terasa lapar, gorengan dan lontong tidak cukup mampu untuk menenangkan perutnya yang biasa diisi oleh nasi. "Kalau begini terus bisa-bisa uangku habis, mana cuma tinggal Rp100.000 lagi, dipakai pulang ke Donorojo tidak akan cukup, dipakai diam di sini itu tidak membuat aku tenang." gumam Heri sambil menyandarkan punggungnya ke rolling door, kios tangannya terlihat merogoh kantong celana, untuk mengeluarkan bungkusan rok0k setelah diambil satu batang, dia pun meremas dan melemparkan bungkusannya. "Rok0k sudah habis, uang belum dapat. sial memang benar-benar sial, pergi bertakziah ke kuburan para wali bukannya mendapatkan info yang akurat, yang ada Hidup Malah semakin melarat." Gerutu Heri sambil menyalakan korek gas untuk membakar rok0knya. Heri terlihat menyedot rok0k itu dengan begitu dalam, lalu menghempaskannya berbarengan dengan suara mendesah, mengisyaratkan bahwa pikirannya sedang tidak baik-baik saja, khayalnya mulai kembali terbang memikirkan hal-hal yang belum pasti, membayangkan di mana Dirinya sudah duduk di sofa mewah yang berada di rumah yang megah. Membayangkan hal-hal yang indah kedua sudut bibir Heri pun mulai terangkat, persis seperti orang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Heri terus melamun sambil menikmati setiap hisapan rok0k yang ada di tangannya, asapnya terlihat mengepul di atas kepala lalu menghilang tertiup oleh angin. Selesai menghabiskan rok0knya, tiba-tiba rasa kantuk pun datang. Heri yang sedang berteduh di salah satu kios dia membenarkan posisi duduknya, dia membaringkan tubuh di teras yang penuh dengan Debu, kepalanya diganjal menggunakan tas yang selalu ia bawa, matanya menatap ke arah plafon kanopi kios. Heri yang merasa capek, akhirnya matanya pun perlahan mengatup, hingga lama-kelamaan mata itu tertutup dengan sempurna, dibarengi dengan suara dengkuran yang sangat keras. Heri meninggalkan kesusahan yang sedang ia hadapi, digantikan dengan impian-impian indah yang selalu menemani tidur lelapnya. Matahari semakin lama semakin turun ke ufuk Barat, menandakan waktu sudah masuk ke sore hari ditandai dengan suara adzan Ashar yang berkumandang dari arah masjid suara yang lumayan nyaring, namun itu tidak mampu membangunkan tidur lelap orang yang dibuahi oleh impian indah. "Mas, bangun mas...! bangun...! Ngapain tidur di sini?" ujar salah seorang sambil menggoyang-goyangkan tubuh Heri, namun orang yang dibangunkan tetap Acuh Bahkan dia membalikkan posisi tidurnya. "Kalau nggak bangun siram saja pakai air cucian piring." Timpal orang yang sedang menyiapkan jualan di gerobaknya. "Mas bangun mas...! ini sudah sore bangun. bangun," ujar orang yang berdiri di samping tubuh Heri, kalau dia tidak memiliki sopan santun mungkin dia sudah menggusur tubuh Heri agar menjauh dari kiosnya. Setelah beberapa kali dibangunkan, akhirnya mata Heri perlahan terbuka, kemudian dia mengucek kedua mata itu untuk memfokuskan pandangan. Alangkah terkejutnya dia karena kios yang tadi siang Tutup, sekarang sudah dibuka. di depan kios ada gerobak penjual nasi goreng, Sedangkan di dalam adalah tempat duduknya. "Mohon maaf Pak jangan tidur di sini, Soalnya kami mau berjualan." ujar pemuda yang membangunkan masih dengan sopan santun. "Oh maaf, maaf Mas...! saya tadi kecapean jadi saya tidur di sini." "Yah nggak apa-apa, tapi Tolong secepatnya tinggalkan tempat ini usir penjaga kios." Heri yang merasa keberadaannya mengganggu ketenangan orang lain, dengan segera dia pun mengambil tas yang digunakan sebagai bantal, lalu menggendongnya di belakang punggung, kemudian dia pun hendak pergi meninggalkan kios, tapi ketika mencium wangi bumbu yang sedang digoreng membuat perut Heri terasa melilit dengan segera dia pun membalikkan tubuh. "Mau ngapain lagi, Sudah sana pergi....!" ujar orang yang sedang memasak bumbu. "Saya lapar, Boleh saya beli nasi gorengnya. berapa harganya?" "Emang mampu beli?" jawab orang yang berada di gerobak dengan angkuhnya. "Hush....! kamu nggak boleh gitu bentak temannya yang tadi membangunkan Heri?" "Kenapa, lihat aja pakaiannya dekil seperti itu, mana mungkin dia punya uang untuk membeli nasi goreng Kita?" "Nggak boleh seperti itu, nanti kalau bos kita tahu dia bisa marah. Seburuk apapun pelanggan mereka tetap pelanggan," ujar temannya mengingatkan kemudian dia pun menghampiri Heri yang masih berdiri melihat perdebatannya. "Kalau yang biasa Rp10.000 Pak, kalau yang pakai telur dadar Rp13.000." "Ya sudah, saya mau yang Rp10.000 saja?" ujar Heri sambil mengambil tasnya, kemudian dia mengeluarkan uang receh untuk membeli nasi goreng. "Tuh kan uangnya juga receh, ngapain kita nggak butuh uang receh." "Eh Sarman mau uang receh, mau uang lembaran. itu sama-sama uang dan bisa dibelikan kebutuhan yang lainnya." "Kenapa sih kamu baik banget sama pengemis, Padahal mereka bau dan kotor." Mendapat pertanyaan seperti itu orang yang tadi membangunkan Heri Dia tidak menjawab. namun dengan segera Dia memasukkan bumbu nasi goreng ke dalam wajan,, tanpa ada pembicaraan dari kedua karyawan itu mereka fokus mengerjakan pekerjaan masing-masing. 10 menit berlalu, akhirnya nasi goreng pun selesai dibuat kemudian dibungkus menggunakan kertas nasi lalu dimasukkan ke dalam plastik, tak lupa air minumnya pun diikutkan. "Mohon maaf Pak, bukannya Bapak tidak boleh makan di sini tapi saya malas berdebat dengan teman saya?" ujar Pemuda baik hati itu sambil memberikan pesanan Heri. "Iya bapak ngerti kok! Terima kasih banyak ya." jawab Heri sambil mengambil nasi gorengnya, kemudian dia pun pergi meninggalkan kios. Heri terus berjalan menyusuri trotoar, Sampai akhirnya dia tiba di salah satu pintu gerbang yang terlihat sangat luas. di sekelilingnya banyak bunga-bunga yang ditanam, Sedangkan di dalam gerbang terlihat berjajar rapi rumah-rumah dengan ukuran dan bentuk yang sama. Melihat tempat serapih itu, membuat Heri memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil menikmati makanan yang baru ia beli, matanya menangkap ada sebuah bangku yang terbuat dari beton, sehingga tanpa berpikir panjang. dia pun menghampiri bangku itu kemudian duduk sambil menikmati waktu sore yang terlihat begitu terang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD