Setelah menghabiskan makanan dan meminum air teh hangat yang berada di dalam kantong plastik, Heri pun merapikan sampahnya dengan cara memasukkan kembali ke dalam plastik, kemudian dia mencari tong sampah untuk membuangnya.
"Kayaknya ini perumahan, soalnya dilihat dari bentuk rumahnya yang sama semua, kira-kira kalau aku mengemis di sana diperbolehkan nggak ya?" gumam Heri di dalam hati, matanya tetap menatap ke arah dalam yang ada gerbangnya namun tidak terlihat ada satpam.
"Ah nggak apa-apa, aku coba saja masuk terlebih dahulu, nanti kalau diusir tinggal balik lagi." pikir Heri sambil melangkahkan kakinya mendekat ke pintu gerbang perumahan, di atasnya tertulis dengan tulisan yang besar menggunakan stainless nama perumahan itu.
Setelah melewati pintu gerbang yang tidak dijaga oleh satpam, Heri pun terus berjalan mendekat ke arah rumah yang paling dekat dengan pintu. kebetulan di terasnya terlihat ada keluarga yang sedang mengobrol sambil memperhatikan anaknya yang sedang bermain. dengan segera Heri pun berjalan dengan gontai lalu mendekat ke arah pintu gerbang rumah itu.
"Assalamualaikum, Tolong kasiani saya! Assalamualaikum....," ujar Heri yang mengucapkan salam dengan suara parau agak sedikit bergetar, menirukan orang yang sangat kesusahan.
"Ibu...., ibu ada orang gil4 ibu.....! masuk ke rumah kita." adu anak kecil yang sedang bermain sambil berlari ke pangkuan ibunya, membuat hati Heri sedikit merasa sakit karena dia bukan orang seperti itu, dia hanya orang yang kurang beruntung dan membutuhkan belas kasihan orang lain.
"Adek nggak boleh ngomong seperti itu, karena orang itu bukan orang gil4." jawab ibunya sambil mengusap lembut Kepala Si anak kecil dengan penuh kasih sayang.
"Masa bukan orang gil4, tapi pakaiannya dekil kayak jarang mandi."
"Hush....! sudah bapak itu adalah orang baik, tolong Ayah kasih uang....!" seru wanita itu sambil menatap ke arah laki-laki yang duduk di hadapannya.
Dengan malas pria itu pun bangkit lalu mendekat ke arah Heri, tanpa berbicara dia pun melemparkan uang sebesar Rp2.000 ke wajahnya. setelah itu tanpa menunggu jawaban dia pun duduk kembali di kursi yang tadi ia tinggalkan, kemudian menyalakan rok0k yang baru ia keluarkan.
Mendapat perlakuan seperti itu, hati Heri sangat hancur, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya mengumpat dan mendoakan jelek terhadap keluarga yang sudah merendahkannya. tanpa berani berlama-lama setelah mengambil uang yang jatuh di kakinya, Heri pun pergi meninggalkan tempat itu.
Heri terus berjalan dari rumah yang satu, menuju ke rumah yang lain. ada orang yang mengasihaninya dengan memberikan uang recehan, ada pula orang yang cuek seolah tidak memperdulikan keberadaannya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Heri tidak Patah Arang dia terus berusaha untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, supaya dia bisa menghasilkan uang untuk membayar hutangnya terhadap pak ustad Dan menepati janjinya terhadap darmini. dia sudah berjanji dalam hati kalau semuanya sudah bisa Ia dapatkan, maka dia akan berhenti melakukan pekerjaan hina itu.
Heri yang berjalan gontai dan sedikit tertatih, akhirnya dia sampai ke salah satu rumah yang berada di pojok jalan, rumah yang lumayan sangat mewah berlantai 2, pintu rumah itu terlihat terbuka sehingga Heri pun berdiri di pintu pagar teralis besi untuk meminta belas Kasihannya.
"Assalamualaikum, assalamualaikum....!" ujar Heri sambil menatap ke arah pintu rumah yang terbuka, namun beberapa kali dia mengucapkan salam dia tidak mendapat jawaban.
Heri tidak menyerah, dia pun mengucapkan salam sambil menekan bel yang berada di tembok pagar, dia berharap lebih dari rumah mewah itu, semoga saja dia bisa menghasilkan uang yang cukup besar.
Ceklek!
Gug....! gug.....! Gug....!
Tiba-tiba pintu garasi terbuka, lalu terdengar suara gonggongan anjing yang terlihat sangat besar, dengan wajah yang tembem berlari menuju ke pintu pagar melihat anjing bulldog yang sangat besar, Heri yang merasa kaget dengan segera dia pun berlari menyelamatkan diri, merasa ngeri dengan anjing sebesar itu.
Heri berlari dengan keadaan normal, seperti ketika dia dikejar oleh Satpol PP waktu mengemis di lampu merah. ketakutan yang merasuki jiwanya membuat dia lupa kalau dia sedang menyamar menjadi tua renta.
"Hahaha dasar pengemis licik, kalau mau duit bekerja dong....!" terdengar teriakan orang di belakang Heri, namun Ia tetap acuh dengan berlari menyelamatkan diri, karena dia takut digigit oleh anjing besar itu.
Setelah berada di luar gerbang, perumahan Heri terus berjalan menjauh dari perumahan itu menuju ke sebelah timur, setelah dirasa aman dia pun menjatuhkan tubuhnya di atas trotoar, nafasnya terlihat memburu keringatnya membasahi tubuh.
Keadaan semakin lama semakin sore, matahari sebentar lagi akan bersembunyi ke balik gunung, suara burung gereja yang sedang mencari penginapan terdengar gemericit dari atas pohon yang tumbuh di samping kanan kiri jalan. mobil tidak terlalu berlalu-lalang karena mungkin itu adalah jalan kecil, yang tidak banyak dilalui oleh kendaraan, yang terdengar hanyalah suara gerapung yang bersuara dari arah Tanah kosong.
"Kurang ajar....! Kalau tidak mau memberi minimal tidak usah menyakiti dengan cara mengusirku menggunakan anjing yang sangat besar.....!" gerutu Heri sambil mengatur nafas yang tersenggal-senggal.
"Ngemis di lampu merah dikejar-kejar Satpol PP, ngemis dari rumah ke rumah pendapatannya hanya sedikit dan waktunya sangat lama, ditambah dikejar-kejar anjing. sekarang aku harus bagaimana Uang sudah semakin menipis, sedangkan hasil dari mengemis tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan." gumam hati Heri yang merasa bingung dengan apa yang harus dia kerjakan selanjutnya.
Heri terus terdiam sambil mencari cara agar dia cepat mendapatkan uang, namun sayang itu tidak membuahkan hasil, yang ada kepalanya terasa pening. hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya karena dia takut kalau orang yang tadi mengejarnya menggunakan anjing melewati tempat itu.
Heri terus berjalan menuju ke sebelah timur, matahari sekarang sudah tidak terlihat lagi, digantikan dengan Lembayung senja yang terlihat sangat indah, seperti Hendak memberikan keindahan sebelum datang gelapnya malam, bahkan dari saluran air sudah terdengar suara jangkrik yang terdengar nyaring, menandakan waktu malam sebentar lagi akan tiba.
Dari arah Masjid terdengar anak kecil yang bersholawatan, suaranya sangat merdu membangkitkan jiwa-jiwa yang sedang Menikmati keindahan sore, untuk segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid untuk salat berjamaah. berbeda dengan Heri yang masih berjalan tanpa arah dan tujuan, namun ketika dia sampai di salah satu kios yang terlihat kosong, dia pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.
Dari arah samping kanan kirinya, tidak jauh dari Heri banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanannya. ada yang menjual nasi goreng, bubur ayam, sate kambing dan jajanan-jajanan lainnya, mulai dari yang ringan sampai yang berat.
Dari arah depan terlihat mobil yang berlalu Lalang, karena Sekarang heri sudah kembali ke jalur utama, sehingga sesekali wajahnya yang dekil terlihat sangat kusam ketika ada mobil yang melewati kios gitu.
"Kalau sudah malam seperti ini, aku bingung harus mencari uang di mana. karena kalau mengemis di rumah pasti mereka sudah beristirahat dengan menonton TV, atau berkumpul bersama keluarga, tapi kalau aku harus kembali lagi ke lampu merah, aku takut ditangkap, Mending kalau sudah ditangkap tidak dipenjara. Bagaimana kalau dipenjara maka reputasiku akan semakin hancur?" pikir Heri sambil menyandarkan punggungnya ke pintu kios, khayalnya mulai terbang menerka-nerka Apa yang akan terjadi kepadanya.
"Coba saja kalau aku bisa bertemu dengan wali seperti yang dijelaskan oleh pak ustad. mungkin kehidupanku tidak akan seblang saat ini, karena mereka bisa menolong dengan karomahnya bisa memberiku sebutir emas. jangan besar-besar cukup sebesar ibu jari saja itu akan mampu mengubah kehidupanku," gumam Heri yang masih terobsesi untuk mendapatkan kekayaan dengan kemudahan, sehingga akhirnya dia pun terlarut dalam khayalan khayalan semu, yang diciptakan oleh pemikiran seorang pemalas.
Merasa lelah duduk, Heri pun mulai memposisikan tasnya untuk dijadikan bantal, kemudian dia pun membaringkan tubuh di teras ruko yang terlihat berdebu, sehingga membuat tubuhnya yang sudah sangat dekil dan bau menjadi semakin parah, kalau tidak tahu awal mulanya mungkin orang-orang akan mengira bahwa Heri adalah seorang gelandangan atau orang yang kurang waras.
Meski Dalam keadaan susah, Heri tetap diberi kenikmatan untuk tidur nyenyak, sehingga Meski waktu Belum memasuki waktu Isya dia Sudah terlelap terbuai oleh mimpi-mimpi Indah yang ia ciptakan sendiri.
Keesokan paginya Heri dibangunkan oleh penjaga kios untuk segera pergi dari tempat usahanya, karena ternyata ruko yang dipakai menginap oleh Heri itu buka dari jam 08.00 pagi sampai jam 04.00 sore. sehingga ketika melihat ada orang yang menumpang tidur di terasnya, dengan segera dia pun mengusir karena takut mengganggu jalan usahanya.
Heri yang tersadar dengan segera memindai keadaan sekitar yang sudah berubah, keadaan matahari sudah Terlihat agak tinggi, jalan-jalan sudah dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu Lalang. namun ketika melihat tempat tidurnya mata Heri pun tiba-tiba terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Dikemanakan tas saya, kamu ambil ya?" tanya Heri sambil menatap tajam perempuan yang sedang berdiri setelah membangunkannya.