Kumpul Bersama Pak Ustadz

1323 Words
Setelah mengobrol dan menghabiskan kopinya Karsa pun berpamitan, karena dia mau mencari rumput buat pakan hewan ternaknya, biasanya para petani memanfaatkan waktu siang bekerja di ladang, waktu sorenya mereka mengurusi hewan ternak. Sepeninggal Karsa, Heri pun bangkit dari tempat duduknya kemudian dia masuk ke kamar lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur yang sudah lepek, khayalnya terbang membayangkan kalau uang yang sudah ia lipat gandakan berhasil dan sudah dipegang, dalam lamunannya dia memberikan uang istrinya sebesar 100 juta, namun semenjak ia memberikan uang itu dia tidak pernah mau mengobrol lagi dengan istrinya, dia akan berfoya-foya untuk menghabiskan uang satu miliar itu, sehingga kedua sudut bibirnya mulai terangkat. terlarut dalam buaian khayalan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Khayalan pun berpindah kedalam impian, di mana dalam impian itu Heri menjadi orang kaya memiliki istri muda. sedangkan darmini tetap menjadi istrinya namun dia sama sekali tidak menyentuhnya, walaupun istrinya itu mengemis-ngemis untuk meminta jatah. tapi Heri lebih memilih istrinya yang baru, rumahnya yang reyot sudah berubah menjadi istana yang begitu megah, di mana diisi dengan perabotan-perabotan yang mewah dan lengkap, ditambah ada dua Bidadari yang melengkapi keindahan rumah itu. Sedangkan istrinya dia Jadikan pembantu untuk melayani kebutuhan lahirnya. "Bangun, bangun....! kebiasaan setiap pulang kerjaannya molor terus, bukannya rapi-rapih rumah apa. sudah tahu rumahnya udah butut tapi tidak diurus. genteng bocor, halaman penuh dengan rumput bukannya dibersihin malah molor aja!" gerutu Darmi yang membangunkan suaminya membuat Heri terbangun dari mimpi indahnya. Heri duduk di tepian kasur, kemudian mengucek kedua matanya lalu menatap tajam ke arah darmini yang berdiri sambil bertolak pinggang, dengan mata yang merah membulat sempurna. "Kalau Mau ngomong gitu jangan asal nguap Darmini, masih mending kamu masih aku biarkan tinggal di tempat ini!" "Eh Heri.....! kamu mau mengusir aku dari rumah...? ingat Heri Ini rumahku dan tanahnya adalah pemberian orang tuaku, Enak aja kamu mau mengusirku dari rumah, Bukannya kamu yang harusnya pergi dari rumah ini?" jawab darmini tidak kalah garang. "Astagfirullah, ternyata aku cuma mimpi," gumam Heri yang sudah tersadar kembali dengan keadaan, matanya memindai area sekitar. kamar yang mewah sekarang sudah berubah menjadi kamar yang berantakan, dengan pakaian-pakaian butut yang menggantung di atasnya. "Nah Begitu istighfar...., biar sadar! bisa nggak kalau pulang ke rumah itu jangan molor terus, gimana mau sukses Kalau kerjaannya hanya merem?" "Sabarlah Bu! Jangan marah-marah terus, lama-lama bapak bisa TBC kalau dimarahin terus seperti ini." "Ya lagian enak amat kerjanya hanya tidur...!" "Bukan hanya Tidur Bu, Baru kali ini bapak tidur. Lagian bapak masih ngantuk karena Bapak baru pulang, Bukannya tadi siang Ibu menyuruh bapak untuk tidur kembali setelah makan?" tanya Heri membalikkan perkataan istrinya. "Ya sudah bangun, terus salat! tadi Pak Wisman datang ke sini mengundang bapak untuk hadir udah lama acara selamatan anaknya." "Ya Ini juga mau bangun. nggak pakai marah-marah bisa kali....," jawab Heri yang merasa kesal namun dia tidak berani menunjukkan terhadap istrinya. Setelah itu dia pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, lalu berangkat ke masjid karena sudah terdengar azan Ashar berkumandang. Sampainya ke masjid dia disambut baik oleh warga kampungnya karena walaupun mengikuti ajaran Kanjeng Dimas, sebelumnya Heri selalu aktif untuk melaksanakan salat berjamaah di Masjid, sehingga ketika ada acara di warga Kampung Donorojo dia akan diundang. Selesai melaksanakan salat asar, para jamaah pun bergegas menuju rumah Pak Wisman, untuk mengadakan acara syukuran anaknya yang baru saja disunat, acara itu terbilang sangat lancar karena tidak ada gangguan sedikitpun. Setelah membaca tahlil, Tahmid, Al Quran, diakhiri dengan mendoakan anaknya Pak Wisman. para jamaah pun sebelum pulang Mereka di jamu terlebih dahulu sambil mengobrol membahas hal-hal baik yang tidak penting ataupun penting. salah satu dari obrolan itu menanyakan kabar Heri. "Bagaimana usahanya lancar Mas?" tanya Wisman sambil menatap ke arah orang yang baru mudik. "Alhamdulillah lancar. tapi kalau di kota besar kebutuhannya lebih besar, sehingga tidak cukup mampu untuk menghidupi kehidupan sehari-hari." "Yah namanya juga berusaha tidak mungkin akan langsung menjadi besar, pasti akan bertahap terlebih dahulu, namun meski begitu kita tidak boleh menyerah karena perjuangan yang kita lakukan untuk keluarga akan dibalas oleh pahala yang berlipat-lipat ganda oleh Allah, bahkan ketika kita meninggal dalam rangka mencari nafkah buat anak dan istri, kita termasuk Syuhada di akhirat," jelas Pak Ustad menimpali. "Mati syahid Bagaimana pak ustad, kan kita tidak perang?" Tanya Karsa yang menatap penuh penasaran. "Jadi meninggal Sahid itu terbagi ketiga. ada Syahid akhirat, ada Sahid dunia, ada Sahid dunia dan akhirat." "Maksudnya?" "Jadi orang yang meninggal Syahid itu ada yang disebut dengan syahid akhirat, yaitu orang-orang yang meninggal dalam keadaan berjuang. seperti contoh orang yang meninggal dalam perjuangan mencari nafkah, atau seorang perempuan yang berjuang ketika melahirkan, atau orang orang yang berjuang untuk mempertahankan hidupnya ketika tenggelam atau terbakar. Jadi mereka di dunia diurus seperti jenazah pada umumnya, yaitu dimandikan, dikafani, disholatkan serta dikuburkan. namun di akhirat mereka seperti orang yang Syahid mereka tidak akan bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan alam kubur, seperti orang-orang Syahid ketika berperang," jelas Pak Ustad panjang lebar. "Oh jadi berarti, kalau Sahid dunia dan akhirat adalah orang-orang yang tidak harus diurus jenazahnya, seperti jenazah pada umumnya. hanya dikuburkan saja tidak harus dimandikan, tidak harus dikafani dan di akhirat langsung memiliki tiket masuk surga?" Timpal Heri yang sedikit mengerti. "Emang begitu pak ustad?" tanya Karsa salah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh temannya. "Benar begitu...! tidak harus dimandikan, tidak harus dikafani. biarkan lukanya menganga dan terbuka. kalau untuk disalatkan ada dua pendapat, ada yang bilang harus. ada juga pendapat yang tidak harus disalatkan. jadi yang paling wajib untuk orang Syahid hanya menguburkan saja," jawab Pak Ustad. "Terus kalau Sahid dunia itu orang seperti apa?" "Orang-orang yang ikut berperang dalam menegakkan agama. maksudnya ketika ada orang yang mengganggu ketentraman ibadah agama kita, sampai kita tidak nyaman untuk melakukan salat, untuk nafkah, bahkan nyawa kita terancam, maka kita wajib melawan, dan ketika meninggal kita akan Syahid dunia dan akhirat, tapi kalau kita hanya ikut-ikutan saja, tidak memiliki jiwa pembela, hanya malu dengan tetangga atau orang lain, maka orang itu bisa dikatakan matinya mati syahid dunia." "Jadi sama pengurusannya seperti mati syahid dunia dan akhirat?" tanya Karsa yang semakin penasaran. "Yah seperti itu, tapi di akhirat wallahualam tidak bisa dijamin dia akan mendapatkan kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta'ala." "Terus bagaimana kalau kita sedang mencari nafkah, terus kita sakit lalu pulang ke rumah, dan setelah sampai di rumah kita meninggal. apakah itu masih termasuk orang yang meninggal dalam keadaan syahid?" tanya Heri yang sejak dari tadi menyimak penjelasan dari pak ustad. "Orang yang bisa dikatakan meninggal dalam keadaan Syahid yaitu ketika meninggal dalam keadaan di medan perang, Tapi kalau keadaan meninggal sudah pulang ke rumah itu tidak bisa disebut dengan mati syahid. tapi walaupun begitu apapun yang kita kerjakan apapun yang sudah kita korbankan, maka Allah akan membalas sesuai dengan apa yang sudah kita lakukan dalam Alquran surat al-zalzalah dijelaskan. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." "Terima kasih banyak Pak Ustad, Kalau mengobrol dengan orang yang berilmu, isinya daging semua. tapi sambil mengobrol Silakan dinikmati jamuannya, yang begini adanya." tawar Wisman mengingatkan. "Ini sudah luar biasa pak Wisman, kalau biasanya kan kita jarang makan makanan seperti ini, paling kita hanya memakan singkong atau umbi-umbian hasil dari ladang," jawab Pak Ustad sambil mengambil salah satu makanan yang berada di hadapannya. Para warga Kampung Donorojo itu terlarut dalam obrolan obrolan yang menyangkut dengan ilmu agama, baik masalah ubudiyah atau muamalah. memang benar apa yang dikatakan oleh Wisman, berbicara dengan ahlinya membuat pembicaraan itu terasa mengasikkan, sampai akhirnya mereka tiba dalam pembahasan tentang kejadian yang sangat viral, kejadian di mana ada seolah satu guru Padepokan yang ditangkap oleh Polisi akibat penipuan terhadap para pengikutnya. "Mohon maaf Pak Ustad, Apakah benar ada orang yang bisa menggandakan uang kita menjadi berlipat ganda?" Tanya Heri yang masih merasa penasaran tentang gurunya yang mengaku-ngaku bisa melipatgandakan uang para murid-muridnya. "Mungkin saja ada, karena dunia ini banyak keanehan dan Allah lah yang memberikan keanehan, ke luarbiasaan itu. Ini adalah salah satu tanda kekuasaanNya." "Jadi bener, ada orang pintar yang bisa menggandakan uang?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD