Darmini Menuntut

1358 Words
"Ibu Bapak Pengen istirahat di rumah, bapak capek kalau harus kerja terus, coba sambut suami dengan baik jangan pakai urat le.her." pinta Heri dengan memelankan intonasi suara. "Ya terus kenapa pulang, kalau Bapak belum mendapat uang? Ibu heran deh, masak bekerja enam bulan tidak pulang tidak membawa uang sedikitpun. kalau seperti itu mendingan uang yang dulu digunakan untuk tambahan modal usaha di pasar," jawab darmini yang tidak menerima penjelasan dari suaminya. "Emang salah kalau bapak ingin beristirahat di rumah, bapak kangen dengan kamu!" "Kangennya sih nggak salah, tapi nggak bawa uangnya itu yang salah. Lagian Kenapa pulang kalau tidak bawa hasil, ingat Pak hidup itu Butuh makan, butuh pakaian, kalau bapak tidak bisa menghasilkan uang, kita mau makan apa?" "Untuk sementara waktu pakai dulu saja uang kamu, )agian Uang istri kan uang suami." "Kalau ngomong jangan asal nguap Heri, dari mana dasarnya Uang istri adalah uang suami. yang ada sebaliknya uang suami lah yang harusnya sepenuhnya menjadi milik istri, tapi sayang suaminya tidak bisa berguna, tidak memiliki uang." "Sudahlah jangan diteruskan, bukannya menyambut kepulangan suami dengan baik, yang ada kamu malah ngajak perang." "Wanita mana yang tidak geram, kalau melihat suaminya setiap pulang tidak pernah membawa uang. ngomongnya buka usaha, tapi sudah hampir setahun tidak pernah menghasilkan apapun, yang ada uang yang di rumah terus terpakai untuk menambah modal usaha, yang sama sekali belum membuahkan hasil. Kalau begitu mendingan jualan di pasar, meski hasilnya tidak besar tapi itu bisa cukup untuk makan. Jadi kalau usaha bapak tidak ada perkembangan, mendingan Bapak jual saja alat-alat tambal ban itu, Nanti uangnya buat tambahan jualan di pasar!" pinta darmini yang menganggap bahwa suaminya pergi dari rumah untuk menjalankan usaha tambal ban, dia tidak tahu kalau suaminya sudah menyerahkan seluruh uangnya untuk dilipatgandakan, yang sekarang kenyataannya sudah jelas bahwa gurunya Heri itu hanyalah seorang penipu. Mendengar ocehan istrinya, Heri tidak menjawab Dia bangkit dari tempat duduk kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk, membuat Marni semakin merasa jengkel dengan tingkah laku suaminya dengan segera dia pun bangkit untuk menyusul, namun ketika dia masuk ke kamar suaminya pun keluar kembali. "Kenapa malah pergi, kita belum selesai berbicara?" "Mau menyelesaikan apa lagi Darmini, Bapak capek pulang bekerja, Bapak pulang ke rumah ingin beristirahat kamu malah ngomel-ngomel tidak jelas. Mana mungkin Bapak mau menjual usaha tambal ban Karena itu adalah usaha satu-satunya pegangan Bapak, sekarang Apa kamu tidak berpikir kalau tambal ban itu dijual, kita mau makan apa ke depannya?" "Bukan kita kali, bapak yang mau makan apa? sekarang begini aja daripada Bapak terus mempertahankan usaha yang tidak membuahkan hasil, mendingan bapak jual alat-alat tambal bannya, kemudian uang pembayarannya serahkan sama Ibu! biar nanti untuk makan, bapak boleh membantu ibu di pasar!" ujar Darmi memberikan saran. "Sayang Darmi, kalau dijual! karena usaha itu sudah banyak pelanggan." "Banyak pelanggan dari mana, bapak aja setiap pulang tidak pernah membawa uang sepeserpun. Yang ada uang ibu dipakai untuk ngonkosin bapak." "Ya sabarlah! semuanya butuh proses. "Proses apa?" tanya darmini yang menatap tajam ke arah suaminya. "Ya proses menuju sukseslah, sudah Bapak mau mandi dulu, Bapak mau salat!" ujar Heri sambil mendorong tubuh istrinya agar tidak menghalangi jalan keluar, namun darmini dengan segera menahan membuat Heri membulatkan mata. "Bentar dulu.....! kita belum selesai mengobrol." "Mau apa lagi darmini, ini sebentar lagi mau dzuhur, Sudah Bapak mau mandi dulu...!" "Eh Heri....! kita belum selesai ngomong, jangan main ngeloyor aja, kita selesaikan dulu masalah kita, baru kamu boleh pergi!" jawab darmini yang sudah tidak memakai sopan santun. "Mau ngobrol apa lagi sih, Sudah jelas Bapak tidak mau menjual usaha tambal ban itu." "Oke kalau kamu tidak mau menjual usahanya, Saya minta uang untuk modal tambahan berjualan di pasar." "Minta uang berapa sih!" "Lima juta saja cukup, karena Saya cuma mau menambahkan beberapa sayuran saja yang belum komplit." "Ya sudah Gampang itu, nanti kita bicarakan lagi." jawab Heri menyepelekan. "Gampang itu, gampang kapan?" "Ya kasih tenggang waktu dulu lah, kan sekarang kamu tahu bapak tidak punya uang?" "Mau berapa bulan?" "Bulan depan, Bapak kasih uangnya!" "Beneran....?" tanya darmini yang terdengar melunak. "Benarlah! masa Bapak bohong." "Terus kalau bulan depan tidak dapat uang, maka usaha tambal ban Bapak harus dijual dan uangnya serahkan sama Darmi." "Iya...!" jawab Heri singkat kemudian dia pun melanjutkan tujuannya yang hendak membersihkan tubuh, sekarang Darmini tidak menahan, dia membiarkan suaminya karena dia sudah mendapat keputusan. Heri yang berada di kamar mandi sebelum dia membersihkan tubuhnya dia melamun sambil menatap wajahnya yang kusam di cermin, karena sesuai dengan apa yang dia prediksi dari awal bahwa istrinya akan meminta uang yang dulu pernah dia bawa untuk digandakan di tempat gurunya .dia merasa bingung karena walaupun sekarang dia bisa terbebas dari omelan darmini tapi ke depannya dia belum menemukan cara untuk menutup mulut istrinya, karena jangankan untuk mengadakan uang 5 juta untuk mengadakan uang 100.000 saja dia sudah kalang kabut, Bahkan dia bisa pulang ke kampung halamannya itu gara-gara bantuan pemerintah yang mau menambah ongkosnya. Heri bukan tidak mau menjual usaha tambal bannya, tapi dia bingung harus menjual Apa, karena usaha tambal ban itu hanya fiktif belaka untuk menutupi niatnya yang pemalas. Heri terus berpikir mencari cara agar dia bisa terbebas dari tekanan istrinya, yang pasti akan terus menagih janjinya karena dia sangat paham dengan sikap sang istri yang sangat keras kepala. "Haduh.....! biarkan sajalah, ngapain harus dipikirkan dari sekarang, toh waktunya masih sebulan lagi, tapi aku harus mencari alasan apalagi, agar aku tidak diusir dari rumah ini." gumam Heri sambil mengambil air menggunakan gayung untuk menyiram tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat. Selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk, Heri pun mengganti pakaiannya dengan memakai sarung dan baju koko hitam, tak lupa kepalanya ditempelkan peci rajut, lalu dia duduk di depan rumah sambil merokok. "Sudah salat Pak?" tanya darmini sambil meletakkan kopi di meja kayu yang sudah lapuk, dia sudah kembali tenang karena sudah mendapat kejelasan dari sang suami. "Sudahlah Bu, buktinya Bapak sudah pakai Koko," jawab Heri berbohong. "Syukur deh kalau sudah salat, Ya sudah ibu masuk lagi ke dalam!" jawab Marni sambil ngeloyor pergi meninggalkan suaminya yang terlihat acuh, matanya menatap kosong ke arah halaman yang tidak terurus, rumput-rumput liar tumbuh memenuhi halaman, namun tak ada sedikitpun niat Heri untuk membersihkannya, khayalannya malah terbang jauh memikirkan cara mencari uang, untuk menutupi permintaan istrinya. "Selamat siang Mas Heri, kapan pulang?" tiba-tiba terdengar ada orang yang menyapa membuat Heri sedikit terkejut, karena sedang terlarut dalam lamunannya. "Eh kamu Karsa, tadi subuh Mas...., ayo mampir dulu!" jawab Heri sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia berjalan ke halaman, untuk menghampiri orang yang baru menyapanya. Karsa dan Heri pun berjabat tangan selayaknya orang yang sudah lama tidak bertemu, kemudian Heri memaksa Karsa untuk mampir ke rumahnya, agar dia memiliki teman untuk mengobrol karena Karsa adalah teman dekatnya. "Mbok Darmi ke man?:a tanya Karsa setelah duduk di kursi yang berada di teras. "Ada, mungkin lagi salat, mau ngopi?" tawar Heri berbasa-basi "Enggak cuma nanya aja, Lagian saya tadi sebelum berangkat ke masjid saya sudah ngopi." "Saya dong yang hebat...! Ini adalah kopi Ketiga saya semenjak dari pagi." "Waduh....! jangan kebanyakan Ngopi Mas, nanti atimu Peteng loh!" "Biarin Ati Peteng, yang penting rezekinya tetap terang." "Amin....!" oh iya Kayaknya Mas Heri Sudah lama tidak pulang, hampir berapa bulan ya?" "Kayaknya 6 bulan Karsa, maklum orang susah, jadi untuk pulang saja harus nabung terlebih dahulu." "Lama juga ya! bagaimana usahanya lancar?" "Alhamdulillah lancar, namun Begitulah kalau kerja di tempat orang antara pemasukan dan pengeluaran tidak sinkron, lebih besar pengeluaran dari pemasukan." "Jadi bagaimana, mendingan usaha di kampung sendiri atau di kampung orang?" "Kalau ada jalan usahanya mendingan di kampung sendiri Karsa, soalnya kita tidak membutuhkan ongkos yang lumayan banyak. contohnya ketika mau pulang ke rumah kita hanya cukup mengeluarkan ongkos Rp6.000 sudah sampai di rumah, terus makan tidak harus beli kita bisa bawa bekal sendiri atau bisa makan pulang dulu ke rumah, Jadi uang yang kita dapat bisa ditabung seutuhnya." "Tapi kalau usaha di rumah, lapangannya sangat sempit, bahkan nyaris seperti tidak ada." "Nah itulah kekurangannya, hehehe." Akhirnya kedua teman itu terus mengobrol ngalor ngidul membahas hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan sehari-hari. mulai dari bertani, bekerja dan yang lain-lainnya. meski Karsa menolak akhirnya kopi pun dibuatkan sehingga menambah keseruan obrolan kedua sahabat Lama itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD