"Kurang tahu Mas, mungkin ini akibat dari mencari lapangan pekerjaan yang susah, sehingga mereka mengambil jalan pintas. tapi bukannya keuntungan yang didapat melainkan hanya buntungnya saja." Jawab Heri sebagai salah satu korban penipuan.
"Yah memang......! jangankan bekerja di tempat lain bekerja narik angkot saja sekarang sepi dulu penghasilan Supir itu bisa dibanggakan, tapi sekarang hanya cukup buat makan itupun kebanyakan kurangnya. tapi menurut berita bukan hanya orang miskin saja yang tertipu, ada banyak orang-orang kaya yang ikut terjerumus terbuai dengan kebohongan penipuan itu."
"Iya kalau sudah masalah uang. tidak miskin, tidak kaya, mereka tetap menginginkan. saya juga bingung kenapa bisa seperti itu?" jawab Heri sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok mobil, matanya terus menatap ke arah jalan yang tersinari oleh lampu angkot.
Mereka berdua pun terus mengobrol membahas kejadian yang terjadi di daerah Wonosari, di mana kejadian itu sangat menggemparkan seluruh warga negara, karena banyaknya korban yang tertipu, bahkan korban itu bukan dari kalangan orang biasa-biasa saja, ada banyak orang-orang kaya dan berpendidikan ikut menjadi korban.
Setelah sampai ke tempat tujuan, Heri pun meminta sopir untuk berhenti, kemudian dia mengeluarkan uang untuk membayar ongkosnya. setelah itu dia berjalan menyusuri Gang yang terlihat terbang-remang karena penerangan yang kurang memadai.
Hatinya terasa berdebar, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, karena dia merasa khawatir kalau istrinya tidak mau mendengarkan penjelasan bahwa uang yang dia bawa sudah habis tak tersisa. dia merasa takut kalau istrinya akan tega mengusirnya dari rumah, kalau itu yang terjadi dia merasa bingung dia harus tinggal di mana. Karena semenjak menikah Dia tidak memiliki harta apapun, dan setelah menikah dia belum bisa memberikan kebahagiaan terhadap istrinya.
Sambil berjalan Heri terus berpikir, mencari cara agar dia bisa menghindari pertengkaran dengan istrinya, meski dia bersalah tapi dia tidak mau kalau semua kesalahan dilimpahkan terhadapnya.
Suara jangkrik terdengar dari samping kanan kiri jalan, di Sahuti dengan suara kodok dari arah sawah. suara hewan-hewan malam itu terdengar begitu nyaring, karena jalan menuju rumah Heri banyak tempat yang kosong meski berada di dekat pusat kota. Semilir angin kecil menerpa dedaunan menimbulkan suara kemerosok dan kemresek.
Heri terus berjalan melewati jalan besar, namun sayang jalan itu tidak dilalui oleh jalur angkot sehingga dia harus berjalan ketika menuju ke rumahnya. semakin lama berjalan semakin dekat pula ke rumah reot berbentuk gubuk, membuat hati Heri semakin tak karuan, rasa bersalah, Rasa Sesal. rasa kesal bercampur menjadi satu.
Sesampainya di halaman rumah, terlihat Heri menarik napas dalam seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi istrinya yang sangat cerewet, padahal sebenarnya istrinya sangat baik terhadapnya, hanya dirinya saja yang tingkah lakunya yang keras kepala. sehingga wanita mana yang tidak akan kesal melihat suami pemalas namun masih suka makan.
Mata heri sedikit berkaca-kaca, ketika melihat suasana rumah yang terlihat sepi seperti tidak ada pengisinya, karena semenjak anak satu-satunya meninggal, Heri hanya tinggal berdua bersama istri, itupun dikala dia belum pergi berguru di padepokan Dimas Kanjeng.
Ceklek!
Terdengar suara pintu rumah yang dibuka kemudian keluarlah sosok wanita paruh baya menggunakan baju yang sudah rapi dengan balutan hijab instan di kepalanya, dia terlihat terkejut ketika melihat ada orang yang sedang berdiri di hadapannya, membuat Heri keberanian Heri semakin menciut, merasa sedih melihat istrinya yang masih semangat berjuang dengan berjualan di pasar.
Heri mengingat kembali dengan kejadian sebelum dia pergi meninggalkan rumah, di mana istrinya akan bangun lebih awal untuk berangkat berjualan di pasar, sedangkan dia masih tertidur lelap bahkan tidak jarang dia bangun kesiangan. Meliihat kejadian itu, hati Heri semakin terasa teriris dan tercabik ketika mengingat uang yang diminta oleh istrinya untuk menambah modal berjualan di pasar sekarang sudah hilang disetorkan sama gurunya.
"Bapak, itu bapak bukan?" tanya darmini sambil terus memperhatikan ke arah orang yang tetap berdiri mematung.
"Iya Bu....!" jawab Heri dengan pelan rasa haru mulai menyeruak memenuhi rongga hidung.
"Kenapa Masih Berdiri, Ayo masuk....!" ajak darmini sambil membuka lebar pintu rumahnya.
Dengan sedikit ragu-ragu, heri pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang udah reot, bahkan gentengnya sudah banyak yang jatuh. setelah masuk ke dalam dia pun duduk di lantai beralaskan tikar daun pandan yang sudah dekil, baju-baju yang sudah butut bergantung di dinding, ada pula yang menumpuk di depan TV.
Darmini masuk ke dalam dapur namun itu tak lama karena dia sudah kembali dengan membawa satu gelas kopi lalu disimpan di hadapan suaminya. setelah itu dia pun mengulurkan tangan mencium punggung tangan suaminya, meski darmini termasuk orang yang sangat cerewet tapi dia sangat tahu Mana hak dan kewajibannya yang sebagai seorang istri.
"Kok Bapak pulangnya malam?" tanya darmini Setelah dia duduk di hadapan suaminya
"Iya Bu, kebetulan tambal ban bapak kemarin sangat ramai, jadi baru sore hari bapak bisa tutup, Bapak mau istirahat dulu di rumah boleh kan?" jawab Heri sambil menundukkan kepala, wajahnya terlihat sangat tusuk.
"Sudah nggak apa-apa Bapak jangan banyak pikiran, mendingan Sekarang bapak minum dulu kopinya...! Ibu mau buatkan nasi goreng untuk sarapan, Soalnya Darmi mau pergi ke pasar, Sayang kalau ditinggalkan." ujarnya sambil bangkit, kemudian masuk kembali ke dalam dapur diantar oleh tatapan suaminya.
Melihat istrinya tetap menghormati, membuat hati Heri semakin merasa bersedih, merasa berdosa sudah menipu istrinya yang begitu perhatian. dia menarik nafas dalam kemudian mengambil kopi yang masih terlihat mengepul mengeluarkan asap.
Setelah menyeruput kopi itu dengan begitu mendalam, Heri pun mengeluarkan rokok dari dalam kantong bajunya kemudian dia menyalakan satu batang, asapnya pun mengepul memenuhi ruang tamu, sedangkan istrinya terdengar sibuk menggoreng nasi untuk menyambut kepulangan sang suami yang baru pulang bekerja, dia tidak tahu kalau suaminya baru pulang berguru.
Setelah selesai menggoreng nasi, dia pun membawa ke ruang tamu lalu disuguhkan sama suaminya, tak lupa darmini menuangkan air putih untuk minum Heri. setelah itu dia masuk ke kamar untuk merapikan tempat tidur untuk suaminya beristirahat, karena dia tahu kalau suaminya pasti akan lelah sehabis Perjalanan yang sangat jauh.
"Bapak kalau mau istirahat kamarnya Sudah dirapihkan, Darmi mau ke pasar dulu," ujar darmini setelah selesai.
"Iya Bu...., hati-hati!" jawab Heri singkat karena mulutnya dipenuhi oleh nasi.
"Ya sudah kalau begitu Darmi pergi dulu ya pak!" ucap Darmini sambil mencium punggung tangan suaminya, kemudian dia pun keluar dari rumah meninggalkan Heri yang sedang makan.
Selesai makan, heri pun merapikan piring bekas makan dengan membawanya ke dapur, kemudian dia menghabiskan kopi yang masih tersisa sambil ditemani sebatang rokok. Setelah semuanya habis dia masuk ke dalam kamar yang tercium bau apek, namun rasa kantuk karena semalam suntuk dia tidak bisa tidur, Akhirnya memaksakan diri untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah lepek, matanya menatap ke arah langit-langit yang menghitam akibat bocor yang menimpanya, khayalnya kembali terbang mengingat nasibnya yang sangat buruk Karena dia sudah ditipu.
Terlarut dalam khayalan, akhirnya khayalan itu pindah ke alam impian. dia bermimpi bahwa uang yang dilipatgandakan sudah berada di tangannya, dia merasa bahagia karena melihat istrinya yang tersenyum bangga terhadapnya, Namun sayang kebahagiaan itu tidak lama karena darmini yang baru selesai masak membangunkannya untuk makan bersama.
"Emang ini jam berapa Bu?" tanya Heri sambil duduk mulutnya masih menguap.
"Jam 11.00 Pak sebentar lagi dzuhur, Ayo makan dulu sebelum mandi!"
"Iya tadi malam Bapak tidak bisa tidur, sehingga sekarang masih ngantuk.
"Ya sudah mending makan dulu, nanti setelah makan bapak salat lalu tidur lagi."
Dengan malas Heri pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu dia pun duduk di ruang tengah sambil menghadapi goreng ikan mas kesukaannya.
Selesai makan, mereka berdua pun duduk sambil menonton televisi yang di mana acaranya sedang menunjukkan guru Heri yang masih menjadi topik hangat pemberitaan di media-media televisi, membuat Heri semakin yakin bahwa dirinya sekarang sudah tertipu dan dia semakin merasa bingung harus bagaimana menjelaskan terhadap istrinya.
"Kasihan ya para korbannya, sampai puluhan ribu seperti itu. apa mereka tidak sayang kalau uang yang disetorkan tidak membuahkan hasil," ujar darmini di sela-sela menontonnya.
"Iya Bu namanya orang sudah dibutakan dengan kekayaan, Jadi mereka tidak bisa memilah dan memilih pekerjaan mana yang halal dan yang haram, mereka sudah terbuai dengan janji-janji manis dukun itu, sampai rela menuturkan uang hasil jerih payahnya." jawab Heri seperti yang menyesalkan para korban yang sudah tertipu padahal dia termasuk salah satunya.
"Iya kalau kita punya duit mendingan pakai usaha sendiri dan hasilnya bisa dinikmati sendiri, daripada mengharapkan yang belum pasti."
"Benar Bu, tapi kalau orang sudah terhipnotis mereka lupa dengan semuanya."
"Oh iya, Bagaimana usaha Bapak di kota lancar?"
"Lancar bu, Alhamdulillah....!" jawab Heri yang terlihat sedikit ragu-ragu.
"Terus Bapak bawa uang berapa, soalnya Ibu mau menambah jualan ibu di pasar."
"Bapak bawa uang sedikit Bu, soalnya kemarin sudah dipakai bayar sewa kios," jawab Heri berbohong.
"Bukannya kios itu dibeli Pak, kok bayar sewa?" tanya darmini sambil mengerutkan dahi.
"Iya sudah dibayar, tapi kalau tetap harus bayar lapak di kota besar tidak ada yang gratis Bu, meski lapak itu milik kita."
"Kok aneh sih! masa iya Ibu aja Yang memiliki lapak di pasar tidak bayar sewa, yang ada hanya bayar kebersihan dan keamanan, meski tidak aman dan tidak bersih."
"Nggak tahu lah Bu, bapak juga pusing."
"Terus bapak bawa uang berapa?" tanya darmini sambil menatap lekat ke arah suaminya.
"
Bapak bawa uang sedikit Bu, Hanya cukup buat ongkos."
"Apa kamu bilang, terus uang hasil kerja kamu ke mana, Apa jangan-jangan kamu memiliki istri lain?" darmini mulai menaikkan intonasi suaranya.
"Kalau ngomong itu dijaga Bu, mana mungkin Bapak memiliki istri lain, Bapak di sana kerja banting tulang untuk menghidupi keluarga."
"Menghidupi keluarga apaan, yang jelas Bapak pulang tidak membawa uang. kenapa harus pulang sih kalau tidak bawa apa-apa?"