chapter 15- Tak punya murid

1034 Words
Kantung mata sangat ketara menghiasi wajah manis Nirmala di pagi hari, dia tak bisa tidur dengan tenang setelah merasa membuang perkataan sampah dari mulut nya pada Wahyudi, berharap saja pria itu menghilang di culik alien atau tertabrak kereta kuda langsung amnesia, jika ibunya tau kalau anaknya banyak tingkah sok bicara bijak pasti akan di ter-tawakan habis-habisan Tok.. tokk.. tok Ku dengar ketukan dari luar pintu dugaan ku pasti itu Surti gadis tinggi dengan kulit eksotis nya, segera aku bukakan pintu dengan malas namun pertama kali ku lihat adalah sosok wanita sekitar tiga puluh awal tersenyum sopan terhadap ku, oh. Tentu saja aku anak pemilik rumah dengan tanah berhektar-hektar ini, sudut alis ku terangkat mendapati orang lain yang menghadap ku, segera aku bergegas pergi ke ruang makan di sana sudah di isi oleh tiga saudara ku lainnya, aku terdiam malas untuk berbicara. Bicara soal kedua orang tua kami, mereka tengah ada kunjungan dinas entah kemana sebagai seorang punya jabatan di daerah tentunya sangat sibuk. Hanya ada suara dentingan piring memeriahkan acara makan saat itu, Wahyudi telah usai dengan makanan nya menyapa Nirmala dengan hangat sontak pemandangan asing tersebut membuat mereka terdiam termasuk Nirmala yang tentunya kaget sekali ia tak akan mengira kalau pria semalam ia ceramahi dengan sok tersebut malah menyapanya ramah, " saya baik kang mas, kalau begitu saya permisi dulu, njih" balas Nirmala sopan ia memilih undur diri setelah menuntaskan sepiring sarapan " Mas, sampean Ndak papa tho?" Suryadi menatap saudaranya dengan keheranan bahkan ia sempat mendelikkan bola mata nya, gendis sempat menghentikan tangganya untuk sekedar mengambil minum, dirinya terdiam masih mendengar percakapan kedua kakak laki-laki nya, Wahyudi malah menganggap adik nya aneh untuk sekedar ber reaksi berlebihan. Dalam hati gendis mendengus kesal jawaban si Abang kurang memuaskan rasa herannya, mereka tak se-akrab itu satu sama lain terutama dengan Nirmala, anak itu jarang sekali bertegur sapa jikalau tak terpaksa sebagai formalitas. . " Mbak, liat Surti sama Hesti Ndak?" Nirmala mencegat seseorang di temui nya di dapur menanyakan keberadaan kedua temannya Wajah wanita itu terlihat ragu namun ia tetap menjawab " Mereka di minta bantu-bantu di gudang Ndoro ayu" Langkah kaki Nirmala cukup lebar menapaki jalan agar cepat sampai, sedari pagi batang hidung Surti serta Hesti menghilang lenyap membuat Nirmala khawatir semenjak dirinya tak di ijinkan oleh ibunya mengajar lagi, tapi dirinya pun tak tau keputusan ibunya semenjak kemari pertemuan mereka sempat memicu perdebatan ibu dari sosok suami sibuk tersebut harus ikut mengabdi pada suami untuk ikut pergi, dan sampai sekarang Nirmala tak melanjutkan percakapan mereka yang terakhir sedang Wahyudi, dirasa pagi hari mereka bertemu Wahyudi terlihat tak punya kesan buruk terhadap nya Kini Nirmala berdecak pinggang melihat beberapa wanita serta pria tengah membawa karung beras secara bergilir untuk di simpan dalam gudang, untuk persediaan Kademangan dirasa nya. Nirmala menghampiri sosok yang di hafal nya, " ngapain kamu bisa nyasar ke sini" tuduh ku padanya, bukankah anak ini adalah gadis yang khusus menuruti semua keinginanku sebagai Nirmala. Surti menghadap Nirmala hormat segera Surti melipir dari barisan orang tengah bekerja mengajak Nirmala menyisih sejenak "Kamu mau bolos dari belajar ya? Katanya mau bisa baca tulis, ayok pergi"dengan penuh selidik Nirmala menaikan sebelah alisnya memandang Surti dengan selidik seperti guru yang menemui muridnya makan di tengah jam pelajaran. Surti berucap maaf berkali kali ketika dirinya mangkir namun dia juga menjelaskan bahwa mangkirnya dari acara mengajar di lakukan Nirmala semata-mata di pinta oleh istri dari Raden Kusumo, dengan perasaan berat hati Nirmala membiarkan Surti berlalu dari hadapannya bergabung dengan barisan orang di sana, Surti tadi juga menjelaskan bahwa tugasnya dapat di gantikan oleh orang lain jika Nirmala mau mempunyai pesuruh pribadi. Nirmala memandangi deretan orang berbaris membawa karung beras bergantian dari beberapa kereta kuda khusus mengangkut barang persediaan Kademangan, wajah kuyu Surti dan orang lain di sana membuat Nirmala sedih dari kejauhan Hesti berlari kecil menghampiri Surti, entah apa yang di bicarakan mereka lalu mereka berlalu dari sana di susul bubarnya orang-orang lain setelah tugas mereka usai. Nirmala yang sebenarnya adalah Tiffanny cewek metro politan dengan tingkat tomboy nya tentu bersedia melakukan protes serta demo jika di perlukan sekedar menunjukkan protes masa untuk segera di dengar seperti tingkah bar-barnya ketika menjadi demonstran, ketika masih mahasiswa. Bak orang kehilangan arah Nirmala duduk santai di teras dengan sebelah kaki naik ke atas kursi, tak sopan. Entah siapa yang peduli toh dia juga bukan gadis dengan tingkat ke anggunan seorang putri keraton. " Kamu ngapain di sini" Nirmala memandangi tak senang wajah gendis, anak itu selalu mengeluarkan aura permusuhan kepada dirinya atau bisa di bilang kepada Nirmala asli. " Kamu yang kenapa Muncul di sini" protes Nirmala tak terima, dengan masa bodohnya Nirmala mendiamkan Gendis, Gendis tak terima di cuekin dirinya ikut serta duduk di atas bangku panjang bersama saudarinya. "Bukannya kamu gak suka aku" katanya seolah menyudutkan Gending, anak itu malah menautkan alis, heran dengan perkataan kakaknya " Kamu yang gak suka sama aku" Pernyataan Gendis membuat Nirmala membuat reaksi aneh dnegan wajahnya seolah wajahnya berkata, yang - benar saja- aku- begitu. Gendis menghela nafasnya memandang barisan semut berjalan di bawah kakinya, mata bulatnya memandang Nirmala kesal, dia memang tak suka dengan gadis di sebelahnya ini namun beberapa kali ia mendapati Nirmala bertingkah di luar kebiasaan dirinya sebagai orang yang suka menarik diri. " Aku lupa kau kan hilang ingatan" Jujur perkataan gendis seperti sindiran padanya walaupun bisa dibilang seperti itu jika orang lain melihat melalui kacamata Gendis " Kita ngak akrab" jelasnya pendek namun Nirmala mengangguki ucapan gadis tersebut, awal dirinya bertemu dengan gendis pun bukan hal yang menyenangkan baginya " Tapi kamu berubah belakangan ini, aku jadi heran" Gendis terdiam menunggu jawaban, " kamu seperti bukan Nirmala yang aku kenal" lanjut gendis ketika ia samasekali tak mendapat respon dari Nirmala. Dalam hati Nirmala tentu bersorak frustasi membenarkan bahwa dia memang bukan Nirmala, saudara dari perempuan tersebut, entah kenapa sosok Nirmala seolah adalah seorang yang memiliki sifat tabu karena sangat berbanding terbalik dengan dirinya, jadi. Nirmala yang asli ini seperti apa, membuat kesenjangan sifat mereka cukup jauh. " Maaf ya, bukannya aku bermaksud bertindak berbeda, tapi. Memang kita sedekat apa dulu sampai kamu bisa mengecap ku begitu" " Kita tidak dekat juga sebenarnya tapi kau sangatlah menyebalkan" " Kalau boleh tau semenyebalkan apa aku dulu" tanyanya hati-hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD