" bisa di bilang kamu itu orang yang sangat menjunjung martabat" gendis membuka percakapan setelah mereka sempat terdiam sementara.
.
Gendis kecil adalah gadis mengemaskan ia pertama kali melihat sosok kakak wanita berjarak usia tak jauh dengannya saat itu acara khitanan kakak lelaki mereka yang pertama, saat itulah gendis melihat Nirmala pertama kali di antara orang yang tengah menjamu para tamu kehormatan, Nirmala kecil tengah membaca beberapa buku terjemahan Belanda dari negri Holland tersebut. Wajah manis dengan tatapan serius membuat gendis kagum ia dengan polos berlari menghampiri gadis muda tersebut berucap sopan, sebelumnya mereka hampir tak pernah bertemu sekedar tahu bahwa mereka memiliki satu ayah yang sama.
" Mbak yu, lagi apa?" Senyum gendis mengembang lesung pipi tampak samar terlihat menambah kesan anggun
" Saya lagi belajar" singkatnya acuh dengan keberadaan anak tersebut tak menanggapi lebih.
Mendapatkan respon tak menyenangkan Gendis tertunduk lesu, belum sempat Nirmala berkata melihat satunya raut anak tersebut seseorang wanita menghampiri mereka meminta gendis segera undur diri dari sana, wanita asing bekerja sebagai bawahan keluarga mereka menyampaikan salam hormat sebelum undur diri, meminta maaf sebelum menjauhkan merek berdua.
Gendis kecil tengah di ajak menjauhi kakaknya sesekali menengok ke belakang mendapati Nirmala kembali fokus dengan bacaannya anak itu sama sekali tak membalas tatapan nya, apakah rumor karena mereka beda ibu Nirmala membenci dirinya.
.
Gendis menghampiri Wahyudi, pria itu tengah menghirup cerutu sembari melangkah keluar dari beranda rumah.
" Kangmas, saya mau tanya sesuatu"
Wahyudi keheranan melihatku terlihat akan mengajak ia berbicara hal serius namun ini kurasa adalah hal sepele, mungkin.
"Silakan nduk, kangmas akan mendengar kan" dengan sopan ia sedikit menunduk sebentar lalu menatap ku lagi dengan biasa, salam hormat.
" Kok, kangmas tiba-tiba dekat dengan mbak yu"
Pria itu terdiam sejenak dirasa aku tak melontarkan pertanyaan lainnya ia menghembuskan asap tembakau dari celah bibir.
" Semalam kangmas melihat mbakyu mu duduk di depan sendirian" aku mengangguk menghayati ceritanya, "jujur selama ini kangmas jarang bicara dengan anak itu, kau Taukan dia itu pendiam sekali" dalam hati aku membenarkan perkataan kangmas ku, dia juga sesekali sangat menyombong kan statusnya lebih tinggi dari ku yang hanya anak dari perempuan lain.
" Dalam waktu semalam mbak yu mu merubah cara pandang ku dengan nya, tiba-tiba dia punya pemikiran terbuka dan memikirkan orang lain bahkan dia bisa ke-pikiran tentang hak perempuan sama dengan pria"
" Aku juga pernah lihat mbak yu mengajar Surti dan Hesti"
Kakak ku terlihat terkejut, ku kira dia sudah tahu dengan apa yang terjadi
" Apa ini efek lupa ingatan nya ya"
Aku juga tak tahu, kata ku ikut penasaran, lalu sebelum kangmas Wahyudi berpamitan pergi aku bertanya dengannya meminta saran, apa mbak yu sudah berubah
Wahyudi menyarankan agar aku mengajak Nirmala berbicara berdua dan menilainya langsung dari kacamata ku sendiri, Engan sebenarnya aku bertegur sapa dengan kakak ku itu, terkadang kami suka bersaing secara terselubung, orang sekitar tahu kadang kami suka mengeluarkan aura permusuhan.
.
Dan di sinilah kemudian kami berbicara sekedar basa basi sebenarnya, tapi aku cukup kaget juga dari sedekat ini terasa sekali perbedaan Nirmala yang dulu serta sekarang.
" Aku tak tahu aku yang dulu seperti apa sampai orang selalu kaget dengan aku yang sekarang, tapi. Aku rasa itu sangatlah bukan hal yang menyenangkan" Nirmala berkata dengan nada bercanda serta di selingi tawa memecah kecangunan di rasakan oleh Gendis seorang.
"Kalau gitu aku mau nyari Surti dengan Hesti lagi, permisi"
Sebelum Nirmala beranjak pergi Gendis menahan Nirmala bertanya untuk apa mencari mereka
" Tadi aku bertanya dengan mereka masih mau belajar atau tidak tapi Surti terlihat belum bisa, jadi aku mau mencarinya lagi siapa tau dia berubah pikiran" Nirmala berlalu dari sana menjauhi Gendis.
.
" Aku masih pengen belajar baca, hes"
" Sama aku juga, aduh!. Mbak Ojo mukul aku sakit loh" punggung Hesti terasa sakit mendapat pukulan dari seseorang wanita tua di sana agar mereka tetap fokus pada pekerjaan mereka mengurus bahan bahan untuk membuat jamu, membersihkan antara jahe, kunyit dari lumpur yang menempel
Surti dan Hesti hanya melirik saling melempar pandang mengisyaratkan mereka ingin lepas sejenak dari rutinitas sebentar serta ingin belajar baca tulis, sekedar untuk menambah pengetahuan bukan sekedar selalu berkutat dengan dapur ataupun mengurus anak.
Melihat perempuan sepuh tadi telah pergi menjauh setelah puas mengomel memperingati pekerjaan kedua anak tersebut sukemi sedari tadi juga ikut membantu urusan dapur melihat mereka dari kejauhan, sukemi mengendap-endap mendekati kedua temannya dengan membawa tampah berisi bawang di kupas beserta pisaunya
Gadis kurus diketahui bernama sukemi menyapa mereka dengan suara sangat pelan hampir berbisik, bersukur Surti dapat menangkap maksud sukemi
"Aku dengar kalian dimarahi gara-gara di ajari oleh Ndoro ayu, ya?"
Surti serta Hesti kompak menoleh saling memandang mereka menampilkan mimik wajah bingung, " ngak, ngak ada cerita nya kita di marahi" sanggah Hesti juga di angguki oleh Surti membenarkan
" Katanya begitu" sukemi mulai melanjutkan aktivitas mengupas bawang-bawang miliknya.
" Gak dimarahi, hanya mendapatkan teguran. Katanya kita menganggu Ndoro ayu, jadi ibunya menyuruh kita jaga jarak dulu sekalian berfikir apa boleh Ndoro ayu mengajar kami lagi" dengan berbisik mendekat Surti kini menjelaskan pada teman karibnya sedang Hesti sesekali melirik pada perempuan yang sudah dianggap sepuh serta pengawasan di sana, mata keriput nya sama sekali tak luput memantau bawahnya selama di area dapur.
Perempuan tadi menatap kelompok Surti dengan sinis sedari tadi ia melihat anak-anak tersebut tengah beradu argument," Di sana bisa diam tidak!!" Teriaknya membuat orang di sana takut, sebagian besar mereka bahkan menyibukkan diri seperti orang rajin, takut. Siapa yang tak kenal wanita galak tersebut, si penguasa dapur.
.
Sedang Nirmala berputar putar mencari kedua sosok siswa nya mulai malas melangkah mengunakan kakinya, terasa lelah, memang. Dirinya akhirnya pergi kembali ke kamar miliknya menutup rapat pintu akses keluar tersebut.
Seperti diketahui nya, Nirmala adalah sosok penyendiri suka dengan buku, maka Nirmala baru tersebut membongkar lemari kecil berada dalam kamarnya, di sana terdapat beberapa buku Nirmala mulai membuka dan membaca buku berbahasa asing tersebut, awalnya ia hanya membuka buku terlihat lapuk tersebut ia juga tak tau cara membaca bahasa Belanda seumur hidupnya ia hanya tau bahasa asing yaitu inggris serta sedikit bahasa Jerman di kuasainya.
Secara ajaib ke-isengan Nirmala untuk membuka lembar buku-buku tersebut memberikan kilasan ingatan sosok Nirmala asli, ia dapat melihat sosok seperti dirinya tengah duduk di depan jendela di ruang kamar sembari membaca tumpukan buku berbahasa asing tersebut.
Nirmala meremas kuat helai rambut tertata rapi menjadikan sanggulnya berantakan sebab ulah nya.
Aku harus belajar, aku harus pintar supaya bapak liat aku seperi anaknya.
Kenapa semuanya jahat sama aku!!
Aku benci mereka!, Aku anak bupati di sini, kenapa aku harus peduli.
Ah! Tadi itu benar atau salah ya.
Dengungan terasa menggema di telinga Nirmala buku di pegangannya ia kembalikan ke tempatnya semula serta merebahkan tubuhnya di atas kasur, wajah nya seketika berubah pucat pasi keringat mengalir deras bercucuran membasahi sebagian baju biru mudanya.
Nirmala memejamkan matanya berharap ketika ia bangun pusing di dera nya akan hilang seketika.
.
Yang di lihat di depannya hanya gelap hawa nya terasa dingin mencekam, suara di kerongkongan Nirmala sama sekali tak dapat keluar sekedar berteriak bertanya siapa seseorang dapat memberitahu dimana keberadaan nya kini.
" Bagai mana, apa kau baik-baik saja" suara tersebut terasa berat, seperti jarang di gunakan berbicara.
" Siapa itu!" Balas Nirmala pada sosok di ujung kegelapan, ia tak gentar walaupun tubuhnya cukup bergetar, jikalau orang tersebut adalah orang jahat cukup ia lumpuhkan.
Sosok tersebut datang dari arah sebaliknya cahaya remang mulai menampakan wajah orang di hadapannya kini," Hai" Sapa nya ramah dengan senyuman.
Nirmala tercekat melihat sosok di depannya, perempuan tersebut persis dirinya, ah. Yang benar adalah sosok wanita tersebut adalah Nirmala yang asli.
Lalu kenapa tidak dia saja yang hidup dengan tubuhnya sendiri kenapa harus dia yang terjebak di tubuh orang asing itu.