Deru angin yang menderu masuk ke dalam gua seolah meniru kekacauan di dalam d**a Surya. Di hadapannya terhampar dua jalan yang sama-sama berbau maut: satu menuju Sekar yang terluka dan terjebak di terowongan runtuh, satu lagi mengejar pamannya yang sudah berlari menuju rumah utama untuk membakar seluruh masa depan keluarga Aditama. Darah dari luka di pahanya terus merembes, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan belati yang menyayat hatinya setiap detik yang berlalu adalah detik yang mempersempit peluang menyelamatkan salah satu dari dua hal yang paling ia lindungi di dunia ini. “Pergilah ke Sekar!” suara parau Dirga tiba-tiba terdengar pelan dari belakangnya. Surya menoleh cepat, melihat pria itu masih berusaha menahan nyawa yang meluruh, tangannya gemetar meraih lengan Surya. “Aku ta

