Cahaya senter menyilaukan mata Surya dan Sekar, membuat mereka tertegun sejenak. Di ambang mulut gua itu berdiri Pak Harun, dengan lengan kanannya terbalut perban yang sudah memerah darah, namun tatapannya tetap tajam dan penuh kebencian yang tak pernah padam. Di belakangnya, dua orang pengawal bersenjata siap menembak kapan saja. "Kalian terlihat sangat terkejut melihatku masih bernapas," ucap Pak Harun sambil tertawa sinis, suaranya menggema di dinding gua sempit itu. "Memang menyedihkan melihat betapa mudahnya kalian percaya bahwa seseorang bisa mati hanya dengan satu tembakan di bahu. Dalam dunia ini, nyawa tidak semudah itu lepas apalagi bagi mereka yang punya banyak hutang nyawa." Surya segera berdiri tegak, memposisikan tubuhnya sedikit menutupi Sekar di belakangnya, tangannya per

