Suasana di tengah lapangan terbuka terasa membeku, hanya dipecah oleh suara deru angin malam dan suara napas yang terengah-engah. Cahaya obor yang menyala-nyala menimbulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas tanah, seolah menyaksikan momen yang akan menentukan nasib semua orang yang hadir. Surya berdiri terpaku, kedua tangannya mengepal erat hingga kukunya menekan telapak tangan sampai terasa perih. Di hadapannya, Arjuna tersenyum sinis, ujung pisau tajamnya masih menempel di leher Sekar yang kini mulai terlihat pucat. Setiap gerakan kecil yang dilakukan Arjuna membuat jantung Surya berdegup lebih kencang, seolah siap melompat keluar dari rongga dadanya. “Kau diam saja?” ejek Arjuna, suaranya terdengar penuh kemenangan. “Aku kira pewaris keluarga Aditama itu memiliki nyali yang be

