Bukan Kasihan, Ini Peduli

1633 Words
“Bunda kepikiran apa deh sampe pingsan begitu? Sini cerita sama Kia.” Ujar Azkia keesokan harinya, setelah dengan telaten menyuapi ibunya dan mendampinginya meminum obat. Bu Hesti tersenyum tipis, “Bunda gak mikirin apa-apa kok Ki, beneran.” “Terus maksud Bunda, Bryan bohong sama aku?” “Dokter Bryan ngomong apa emangnya?” Azkia menghembuskan napas panjang. “Bryan bilang Bunda terlalu banyak pikiran. Bunda mikirin apa sih Bun? Udah Kia bilang Bunda jangan mikirin apa-apa.” “Maaf Ki.” “Bunda gak perlu minta maaf.” Azkia mengelus punggung tangan ibunya. “Kia paham apa yang membuat Bunda khawatir dan takutkan. Tapi Bunda percaya ya sama Kia? Gak akan terjadi apa-apa kok. Semuanya baik-baik saja. Percaya sama Kia.” “Kia… Bunda cuma—takut.” “Takut apa?” “Takut kalau—lelaki itu tidak serius sama kamu. Karena kalau dia serius, sebelum dia lamar kamu dia pasti akan menemui Ayah sama Bunda dulu. Dia pasti ada keinginan untuk berkenalan dengan kami. Apalagi kalian berpacaran sampai 10 tahun. Apa kamu gak merasa aneh Ki sama kepribadian pacar kamu itu?” Azkia tertegun, firasat seorang ibu memang tidak akan pernah kalah oleh siapapun. Firasat seorang ibu selalu tepat sasaran. Sayangnya, kemarin Azkia terlalu denial membenarkan hal itu, baru ketika ia merasakannya sendiri, ia menyadarinya. “Bunda… percaya sama Kia ya? Semuanya baik-baik aja kok. Tolong jangan pikirkan apapun, atau Kia lebih memilih selalu rawat Bunda daripada menikah?” “Jangan begitu.” “Yasudah.” Azkia tersenyum tipis. “Makanya Bunda jangan pikirin apa-apa. Serahkan semuanya sama Kia.” Tok tok! “Siapa itu?” “Sebentar Bun.” Azkia keluar dari ruang rawat tersebut, seorang suster datang dengan membawa dushbag di tangannya. “Ada apa sus?” “Ini ada titipan Bu.” Sebelah alis Azkia naik. “Dari?” “Dokter Bryan.” “Bryan? Bryan-nya mana?” “Beliau sedang melakukan pemeriksaan.” Suster itu memberikan dushbag kentangannya. “Kalau begitu saya permisi Bu.” Azkia mematung ditempat, seraya memandang dushbag di tangannya. Saat ia intip, ia melihat ada tiga tumpuk kotak makanan di dalamnya, lengkap dengan infused water lemon dan air mineral biasa. “Untuk apa Bryan mengirim makanan begini?” Pikir Azkia. “Ki ada apa? Kok lama?” “Ini Bun. Ada yang kirim makanan.” “Wah. Dari siapa? Coba Bunda liat.” “Dar—.” “Pasti dari pacar kamu ya? Perhatian banget dia sampai kirim makanan begini.” Seketika Azkia bungkam, terlebih saat melihat senyuman cerah sang Bunda dan rona di wajahnya yang mulai kembali. Hatinya meringis sakit, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya beliau saat tahu kalau ternyata calon menantunya berkhianat. “Maaf Bunda. Maafin aku.” Batin Azkia. “Dia pasti tau kamu semaleman jaga Bunda dan belum makan apa-apa sejak pagi.” Mata Bu Hesti semakin berbinar saat melihat menu makanan yang tampak sangat melezatkan. Tidak mewah, tapi terlihat jelas kalau makanan ini makanan buatan sendiri. “Bunda mau coba?” “Coba tanya Dokter Bryan, Bunda boleh gak nyobain makanan ini.” “Hm?” “Maksudnya makanan kayak gini Ki.” “Sebentar.” Sesuai intruksi, Azkia pun mengirim Bryan pesan. Me: Bryan, Bunda boleh makan makanannya gak? Bryan: Makanan apa Ki? Me: Makanan dari lo. Bryan: Oh udah sampe? Boleh kok. Semua makanannya aman. Me: Udah. Makasih ya. Lo gak perlu repot-repot kirim makanan kayak gini. Nanti repotin banyak orang. Bryan: Enggak kok. Gapapa. Dimakan ya. Me: Bukan gitu —delete Me: Gara-gara lo kirim gini Bunda jadi mikir yang enggak-enggak. —delete Me: Takutnya Bunda makin salah paham —delete Me: Bunda nyangkanya yang kirim tuh pacar gue. —dibaca Bryan: Ada apa Ki? Kok ngetiknya lama? Bryan: Pacar? “Astaga! Kenapa ke kirim.” Rutuk Azkia dalam hati. Me: Lupain. Intinya makasih. Buru-buru Azkia letakkan ponselnya terbalik di nakas. Ia tidak mau mengambil resiko sang ibu membaca chatnya dengan Bryan. “Katanya boleh. Tapi jangan banyak-banyak ya Bun?” “Kata Dokter Bryan juga?” “Enggak sih. Itu kata Azkia. Segala sesuatu yang berlebihankan gak baik bu. Jadi dikit aja.” “Yaudah iya, dikit. Bilang aja kamu gak mau berbagi. Huh dasar. Posesif juga ya kamu.” “Eh—Enggak begitu Bun.” Mata Azkia mengerjap. Gugup. “Gapapa, Bunda paham. Ayah kamu juga posesif kok. Wajar aja nurun ke anaknya.” Bu Hesti terkekeh kecil. Hatinya menghangat, rasanya benar-benar bahagia saat melihat senyuman itu lagi. Apa ibunya sebahagia itu melihatnya memiliki kekasih yang baik? Tapi… Bryan bukan kekasihnya. “Eh iya Ki… dimana ayah? Kok keluar lama banget? Bukannya tadi bilang mau beli minum aja?” Azkia menggeleng kecil. “Kia juga gak tau Bun. Harus Kia telpon?” Bu Hesti menggeleng kecil. “Gak usah, mungkin Ayah kamu ngadem dulu diluar. Biarin aja dulu.” *** “Diminum Pak.” Bryan memberikan sebotol air untuk Pak Anwar. Di sinilah Pak Anwar berada, bukan di kantin untuk membeli minum, tapi di ruangan pribadi Bryan yang beberapa menit lalu ia lihat sedang berbicara dengan suster, menitipkan makanan untuk anaknya. “Terima kasih.” Bryan tersenyum tipis. “Sama-sama Pak. Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada kejadian khusus yang terjadi pada Bu Hesti?” Pak Anwar tidak langsung menjawab, beliau menghela napas panjang terlebih dahulu kemudian menatapnya. “Bukan tentang Bunda-nya Kia. Tapi tentang Kia.” “Kia? Kenapa sama Kia Pak? Apakah Kia juga sakit?” “Bukan.” Bryan terdiam. Hanya memandang Pak Anwar dalam diam. “Saya ke sini bukan sebagai suami pasien, tapi sebagai ayah dari seorang anak perempuan.” Bryan semakin mematung. Apakah Pak Anwar akan mempermasalahkan kiriman makanan yang ia berikan untuk Azkia? “Kamu mencintai anak saya?” Bukannya menjawab, bibir Bryan terasa kelu, otaknya seperti tidak bekerja, kosong—bingung. Terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. “Oh. Tidak ya? Sepertinya saya sal—.” “Ya.” Jawab Bryan. “Ya. Saya mencintai Azkia. Saya mencintai anak Bapak.” “Tepat seperti dugaan saya.” “Bagaimana Pak?” “Sejak pertama kali saya melihat interaksi anda dengan anak saya, saya merasakan ada hal aneh, dan ternyata benar. Anda mencintai anak saya.” Bryan meneguk ludah kasar, membasahi bibir sebelum mengalihkan pandangan—menunduk. “Maaf Pak. Saya hanya berusaha untuk jujur.” “Apa kamu ada niatan menikahi anak saya?” Seketika Bryan mengangkat kepalanya. “Bapak serius bertanya seperti ini pada saya?” “Apa saya terlihat sedang bercanda?” Pak Anwar menatap Bryan dengan tatapan tajam. “Saya beri waktu kurang dari dua minggu, jika anda serius kalian harus menikah. Saya tidak ingin mendengar tengang harus pendekatan, ini dan itu. Menikah, atau tidak sama sekali.” “Baik.” Pak Anwar berdiri, “Saya tunggu kamu datang temui saya dan ibunya Azkia.” Bryan mengangguk tegas. Diam-diam tersenyum tipis. Jantungnya meletup-letup, penuh kegembiraan. Adrenalinnya sangat terpacu dengan tantangan yang diberikan Pak Anwar. Menikahi Azkia? Siapa yang tidak mau? Sejak awal itu yang ia inginkan. “Ternyata kalau memang sudah takdir tidak akan kemana ya?” Gumam Bryan. Bryan membuka ponsel, kemudian mengirimkan pesan lagi untuk Azkia. Me: Kia…. Me: Ayo kita menikah. *** Azkia mematung di tempat membaca pesan itu. Berulang kali ia melihat pesan itu, lalu nama pemilik kontaknya. Bryan. Bryan yang mengirimkan kalimat itu. Bryan yang mengirimnya pesan. Azkia melirik ibunya sesaat, lalu ditatap ponselnya lagi. Me: Bry lo ngelindur? Bryan: Enggak Ki, aku 100% sadar. Me: Kenapa? Bryan: Kita ketemu. Kita omongin langsung. Bryan: Aku tunggu kamu di taman belakang rumah sakit. Me: Mendingan lo istirahat Bry. Kayaknya lo kecapean. Bryan: Temui aku sekarang atau aku yang kesana? Me: Enggak Bry. Gue gak bisa. Bryan: Demi bunda kamu Ki. Bryan: Demi kesehatan dan keselamatan bunda kamu Azkia. Me: Oh. Jadi lo kasian sama gue? Me: Gak usah Bry. Gue gak perlu dikasihanin. Bryan: Aku gak kasian. Bryan: Aku peduli sama kamu Azkia. Me: Gak usah aku-kamu. Bryan: Aku jalan ke sana sekarang. Me: Gak Bryan: aku udah jalan. Me: Udah gue bilang gak usah Bry. Me: Gue bisa atasin masalah gue sendiri! Lo gak perlu ikut campur! Me: Gue gak perlu dikasihanin! Bryan: Azkia, harus berapa kali aku bilang kalau aku gak kasihan? Aku bukan kasihan Ki. Aku peduli. Aku serius mau nikah sama kamu. Bryan: Atau kamu mau aku bawa orangtua aku sekarang biar kamu sadar aku serius? Me: Enggak Bry. Tetap gue gak bisa. Bryan: Kenapa? Azkia menjauhkan jarinya sari ponsel itu, mengambil napas beberapa saat sebelum menghembuskannya lagi. Me: Lo gak akan ngerti Bryan. Bryan: Buat aku ngerti. Menikah itu bukan perkara gegabah yang bisa dilakukan hanya karena keimpulsifan seseorang. Apalagi hanya modal kasihan. Pernikahan itu sangat sakral. Pernikahan itu harus dengan dasar saling mencintai. Bisa-bisanya dia mengajaknya menikah semudah itu tanpa berpikir panjang. Apa yang dia pikirkan? Apa yang ada di dalam otaknya itu? “Kia… kenapa sayang?” Azkia mendongak menatap ibunya. “Bukan apa-apa Bun.” “Kok mukanya ditekuk gitu sambil liatin HP. Ada yang bikin kamu kesel?” “Ah itu… bukan apa-apa Bun.” “Calon suami kamu bikin kesel ya?” “Hm?!” Mata Azkia mengerjap. “Enggak Bun. Bukan.” Jawab Azkia gugup. Entahlah, ia mendadak takut saat membahas calon suami. Tok tok. Clek! “Ayah, darimana aja kok lama banget?” Bu Hesti menyambut. “Ini loh. Nemuin calon mantu.” Seketika Azkia terkesiap, matanya membesar, kepalanya menoleh cepat menatap ke arah ayahnya. “Hah?! Pacarnya Azkia dateng?” Ferdi? Dia datang? Ngapain? Seseorang masuk. Deg! “Bryan.” “Loh ini kan Dokter Bryan Yah.” “Ya iya.” Bryan tersenyum tipis. “Siang Bunda. Aku—memang calon suaminya Azkia. Maaf baru sempat menyapa.” Mata Azkia semakin membulat sempurna. Tunggu! Apa-apaan ini?! Siapa yang setuju menikah dengan pria itu?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD