Cinta yang Terluka

1607 Words
Bagi Bryan, tidak ada hal yang paling menyakitkan hatinya selain melihat orang yang ia cintai menangis, terluka. Seperti saat ini, dibalik pintu ia hanya bisa mematung saat mendengar bagaimana isak tangis itu menggema, ia hanya mematung saat menyaksikan bagaimana punggung sempit dan rapuh itu bergetar hebat. Suara lirihnya terdengar putus asa, permohonan terus diucapkan, harapan terus di mohonkan. Semakin lama semakin menyayat hatinya. Semakin melukai perasaannya. Azkia… perempuan yang ia cintai. Mengapa dia harus menanggung rasa sakit sebesar itu? Kenapa dia harus terluka sedalam itu? Bryan memang berharap hubungan Azkia dengan kekasihnya itu kandas, ia berharap mereka putus. Namun… Bryan tidak menyangka Azkia akan terluka sedalam ini, Azkia akan sesakit ini. Beberapa saat kemudian tangisan itu reda, Azkia bangkit kemudian berbalik, mematung menatapnya beberapa waktu. “Bryan.” “Ki.” Azkia terkekeh sengau, ia palingkan wajah ke arah lain sebelum menatap Bryan lagi. “Sejak kapan di sini?” “Tadi.” “Lo denger semuanya Bry?” Bryan tak langsung menjawab, ia tatap intens mata itu beberapa saat lalu dengan ragu ia mengangguk. Azkia tersenyum masam. “Menyedihkan ya Bry?” “Siapa bilang?” Azkia mematung, kedua matanya kini saling bertatapan. “Jangan natap gue kayak gitu. Gue gapapa.” Bryan tak tahan lagi, ditariknya lengan Azkia kemudian ia peluk tubuh ringkih itu dengan erat. Beberapa waktu pelukan itu bertahan dengan lengan Azkia menggantung di sisi kiri dan kanan tubuhnya, tidak membalas pelukan itu. Bryan pikir, Azkia mungkin akan menangis lagi, dua kali ia elus punggung dan kepalanya, ia pikir Azkia akan menumpahkan kesedihannya lagi. Tidak berselang lama dari itu Bryan melepaskan pelukannya, menatap Azkia kembali yang memberinya tatapan kosong—tatapan putus asa. “Ki… jangan ditahan. Kalau mau nangis lo tinggal nangis.” Azkia terkekeh sengau. “Haruskah? Apa gue harus nangisin cowok b******k kayak gitu Bry? Apakah gue harus menyia-nyiakan air mata gue buat cowok b******n kayak dia?” Bryan terdiam. “Lo bener. Tangisan lo terlalu berharga buat dia.” “Ayo masuk lagi.” Ajak Azkia. Namun baru saja dua langkah ia meninggalkan Bryan, ponselnya berdering. Ayah memanggil… Ponsel Bryan pun berdering nyaring. Suster Kristina Memanggil… “Hallo Sus.” “Hallo Yah.” “Dok. Bu Hesti pingsan.” “Bunda tiba-tiba pingsan Ki, cepat ke sini.” Seketika Bryan menatap punggung Azkia. “Saya ke rumah sakit sekarang.” Ujarnya seraya mematikan ponsel, setelah itu tanpa berpikir dua kali ia tarik tangan Azkia menuju ke area parkir tempat dimana kendaraannya diparkirkan. “Bry… Bunda. Gimana kalau sesuatu terjadi sama Bunda?” Bryan tak sanggup menjawab ucapan itu. Ia hanya bisa menggenggam tangan Azkia seraya menginjak pedal gas, bergegas menuju rumah sakit. Dalam hati Bryan pun merasa khawatir, panik. Ia tidak bisa memberikan diagnosisnya tanpa melihat pasien secara langsung. Ia tak ingin menduga-duga. Ia tidak mau membuat Azkia semakin khawatir dan sedih. Sementara itu ditempat acara, menjadi sedikit kacau karena kepergian Azkia yang tiba-tiba. Beruntung Ajeng tahu sedikit banyaknya tentang produk yang Azkia miliki, jika tidak semuanya akan semakin berantakkan, karir Azkia di sini akan sangat dipertaruhkan. Ketika ia bergerak ke arah jendela besar, ia lihat Azkia berjalan cepat bersama Bryan. Seketika panik melanda perasaan Ajeng, pikirannya mendadak buruk. Ia kemudian raih ponselnya, segera menghubungi Azkia. “Ki Hallo. Ada apa? Kenapa lo mendadak pergi?” “Jeng….” Suara Azkia tercekat. “Ada apa? Bilang sama gue.” “Bunda pingsan. Jadi gue harus ke rumah sakit. Sorry gue ninggalin lo.” “Hah? Bunda pingsan? Oke. Gak masalah. Gue bilang dulu ke Pak Kevin setelah itu nyusul lo ke sana. Lo sama siapa?” “Bryan.” “Oke. Hati-hati.” “Hm.” *** “Yah ada apa ini?” Begitu sampai Azkia langsung mendekati ayahnya, sementara Bryan tanpa melirik ke kanan dan ke kiri lagi ia langsung menuju ruang rawat Bu Hesti. “Ayah juga kurang paham Ki, tadi Ayah tinggal sebentar ke WC tiba-tiba Bunda udah gak sadar.” Tangis Azkia kembali pecah mendengar kalimat itu. Hatinya benar-benar sakit. Kenapa… kenapa ia harus menanggung kesedihan yang bertubi-tubi begini? Kenapa ia harus menanggung semua kesakitan ini?! Kenapa? Apa salahnya sampai ia mendapatkan kabar buruk secara berurutan begini? Ia berbuat apa sampai Tuhan memberinya ujian seperti ini? Sang Ayah—Pak Anwar, beliau rangkul anak semata wayangnya, mengelus lembut punggung juga kepala sang putri dengan penuh kasih sayang. “Percaya sama Dokter Bryan, Dokyer Bryan pasti bisa menolong Bunda. Kamu banyak-banyak berdo’a sama Allah. Supaya Allah memudahkan Dokter Bryan untuk menyenbuhkan Bunda kamu.” Azkia tak sanggup untuk mengatakan apapun lagi, ia hanya bisa menangis tersedu dengan isak tangis yang menyesalkan dadanya. “Tarik napas Ki, tenangkan diri kamu. Jangan begini. Kita harus kuat demi Bunda. Kita harus tegar demi kesehatan Bunda.” Azkia ikuti perintah sang Ayah, ia tarik napasnya panjang kemudian dihembuskannya lagi. Setelah dirasa cukup tenang, barulah ia seka air matanya, lalu ia sandarkan kepalanya dibahu sang ayah. Hening beberapa saat. “Yah.” “Iya Sayang?” “Bagaimana ini?” “Apa?” “Yang Bunda khawatirkan terjadi Yah.” Pak Anwar terdiam. “Pacar Kia—calon suami Kia… selingkuh. Dia ninggalin Kia Yah.” Setetes air mata kembali turun di wajah Azkia. “Gimana Yah? Kia harus gimana? Kalau sampai Bunda tahu, Bunda pasti shock. Gimana kalau terjadi sesuatu sama Bunda Yah? Kia takut… Kia gak mau bikin Bunda tambah sakit.” Pak Anwar masih belum memberikan respons apapun. Sebagai orangtua hatinya sakit, tak rela anak yang sangat ia sayangi diperlakukan seperti itu. Dadanya bergemuruh, ia benar-benar marah. “Yah.” Pak Anwar menghela napas panjang. “Sekarang kita fokus ke Bunda. Urusan itu kita pikirkan jalan keluarnya nanti. Ayah pasti bantu cari cara, cari jalan keluar terbaiknya.” Kecupan-kecupan ringan ayahnya berikan di kening. “Anak Ayah jangan berpikir yang macam-macam ya. Satu orang berkhianat tidak akan mengubah apapun dihidup kamu. Kamu tetap perempuan berharga, kamu tetap perempuan terbaik yang ada di dunia ini. Lelaki itu justru yang akan rugi, dia yang akan menyesal udah nyakitin kamu. Kehilangan dia, kamu tidak kehilangan apapun, kamu masih punya ayah, punya bunda, kamu masih punya banyak orang yang sayang sama kamu.” Air mata Azkia kembali mengalir, terharu. Ia tidak menyangka Ayahnya justru akan menghiburnya seperti ini, ia pikir akan dihardik dan disalahkan, ternyata tidak. “Makasih Yah. Makasih banyak.” Clek! Seketika sepasang ayah dan anak itu menoleh, segera berdiri mendekat ke arah Bryan yang baru saja keluar dari ruangan ibunya. “Ibu sudah sadar. Bapak bisa masuk dan menemani Ibu lagi.” Bryan mengalihkan pandangannya pada Azkia. “Kamu juga bisa masuk Ki.” “Bry.” Panggil Azkia tanpa bergeming dari tempatnya. “Kenapa Ki?” “Jujur. Ada apa? Kenapa Bunda mendadak pingsan begitu?” “Sepertinya beliau stres, terlalu banyak berfikir. Sehingga membuat tekanan darahnya tidak terkontrol.” “Tapi Bunda gapapa?” Bryan menggeleng pelan. “Sampai saat ini gapapa, semoga saja sampai kedepannya pun tidak ada masalah lagi.” Bagaimana ini? Ini bukan kabar baik. Bagaimana dengan kondisi ibunya nanti saat tahu kalau anaknya dikhianati dan ditinggalkan begitu saja? Bagaimana perasaan ibunya saat tahu pernikahan anaknya ini gagal? Sekalipun Ferdi kembali, memohon maaf dan ingin melanjutkan pernikahan. Ia tidak akan mau, ia tidak sudi jika harus menikah dengan pengkhianat itu. Ia tidak rela tubuhnya disentuh oleh lelaki bertangan kotor seperti Ferdi. “Ki.” Bryan mengulurkan tangan, mengelus lengan kiri Azkia. Namun Azkia tidak memberikan respons, ia terlalu sibuk memikirkan nasibnya dan nasib Bundanya. Jika Azkia kabari ibunya bahwa ia tak bisa menikah dalam waktu dekat. Bagaimana reaksi ibunya? Apalagi jika tahu ia dikhianati oleh pria yang sudah 10 tahun menjadi kekasihnya itu. Pikiran itu terus berputar, menghantui pikirannya. Sebuah pelukan membuat Azkia terkesiap, seketika matanya membesar, terkejut. Sesaat napasnya tertahan, masih berusaha mencerna semua hal yang sedang terjadi. Tangan besar itu mengetatkan pelukannya, sebelah tangan lain mengelus kepala juga punggungnya bergantian, begitu lembut hingga mampu menenangkan hatinya. “Bernafas Ki.” Napas Azkia menghembus perlahan. Elusan itu masih bertahan beberapa waktu sampai sebuah bisikan terdengat begitu halus di telinganya. “You deserve better than that man, Ki. You’re too precious for a man like him.” Di tengah suasana mengharu biru tanpa keduanya sadari seorang perempuan melangkah lurus ke arah mereka berdua, searah dengan tatapannya yang menghunus tajam, lurus, menatap sepasang manusia yang masih saling berpelukan itu. “Bryan.” Deg! Bryan terkesiap, seketika ia menoleh ke kanan, kemudian mengurai pelukan itu dari tubuh Azkia. Sesaat Bryan memandangnya gugup, ia teguk ludahnya kasar. “Mama.” “Mama nunggu kamu di ruangan kamu. Ternyata kamu di sini.” “Oh, itu. Tadi ada pasien yang harus Bryan urus.” “Lalu… ini siapa?” Bu Larissa, ibunda Bryan menatap Azkia tajam, memindai dari ujung kaki hingga kepalanya. Azkia tersenyum kaku. “Azkia tante. Teman Bryan.” Sebelah alis Bu Larissa naik, setelah itu ia pandang sang putra. “Mama tidak tahu kamu punya teman perempuan Bryan.” “Sejak kapan kamu punya teman perempuan?” Todong Bu Larissa. “Kita tidak begitu dekat Tante. Hanya teman biasa yang saling mengenal. Itu saja.” “Oh.” Bryan menghembuskan napas. “Udah Ma? Yaudah Ma ayo keruangan Bryan saja. Ki, gue tinggal dulu. Kabarin gue kalo butuh apa-apa.” “Ayo Ma.” Bryan menggandeng tangan Ibunya, balik arah, berjalan lurus ke arah lift yang akan mengarahkan mereka ke ruangan pribadi Bryan. “Dia kan Bry?” Tanya Bu Larissa tiba-tiba saat mereka berada di lift, lalu menoleh. “Dia kan orangnya?” Tanya Bu Larissa lagi. Bryan menatap ibunya. “Apa maksud Mama?” “Dia… perempuan yang buat kamu gak mau nikah dengan perempuan pilihan Mama.” “Benarkan Bry?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD