BAJU PEMBERIAN MAJIKAN

1222 Words
Dia tidak mau menjadi sebuah hal yan sangat tidak diinginkan oleh siapapun itu, yah termaksud juga untuk orang yang sangat dekat dengan dirinya, meskipun dirinya ingin terlihat lebih perkasa dari yang lainnya, dia harus bermain dengan cara yang sangat lembut, sangat lembut, sehingga siapapun yang melihatnya tetap berpihak kepadanya, saat masalah datang. Menjadi langit adalah mimpi dari semua orang, namun untuk menjadi hal yang tenang tidak untuk semua orang, langit tidak selalu senang, dia juga tidak selalu damai, hanya sajancaranya untuk menjadi tenang di mata orang lain itu sangatlah baik. Begitu juga dengan Vanessa, seorang wanita yang tetap tenang dengan segala kinerjanyya yang sangat bagus, dan tetap tenang, yahhh… meskipun akhir-akhir ini dirinya menyukai satu pria yang tidak layak untuk dia cintai. “Saya meminta maaf sekali lagi,” dia membuka matanya,”tidak apa-apa, tetapi sekali lagi tolong jaga sikap kamu,” dia memang benar tak kalah baik,”trimakasih ibu, venessa,” dia membuka mulutnya kali vini, serta berterimakasih kepada sosok vennessa. Venessa, iya itu adalah nama yang sangat indah untuk wajah yang memang juga sangat cemerlang, hatinya yang juga tetap tenang menandakan dia selalu damai dan damai,”apakah kamu mempunyai alasan untuk datang ke meja saya?”dia mengerutkan kedua alisnya sembari bersandar pada kursinya yang berwarna abu rokok. “arhhh… benar, saya ingin memberikan ini kepada ibu, dan untuk ditandatangani oleh Tuan Miracle,” keberuntungan saat ini berubah pada Vanessa, memang orang baik selalu mendapatkan hal yang baik”untuk Tuan Miracle?” seakan dia tidak percaya, bola matanya membulat. Wajah lelaki yang berdiri iti, sedikit heran mengapa dengan Vanessa, bukankah dia sudah selalu memberikan setiap document yang sangat penting, untuk di tanda tangani? Tetapi kenappa kali ini dirinya seakan mengatakan bahwa dia baru sekali ini bertemu dan berbicara dengan Tuan Miracle. Satu menit kemudian, alis mata dari Vennessa kembali lagi pada posisi pertama, yakni dia mencoba untuk menatap ke depan dengan lurus, dan menyesuaikan semuanya, dia tidak ingin rasa yang ada pada dirinya di ketahui oleh orang lain, bahkan sekalipun lelaki yang dia pandang beberapa menit yang lalu. “Arg.. maafkan saya, sepertinya saya kurang focus, tadi pagi belum sarapan,”alih-alih untuk membuat lelaki itu tidak bingung dia maklah berbohongh,”apakah anda belum sarapan, jaga kesehatan anda” dia benar tertipu oleh sosok yang berada di depannya. Vanessa tidak mau terlalu lama saling tatap-tatapan dengan staff itu, dia segera menerima berkas itu dan meminta dia untuk keluar. Dengan cepat juga dia bahkan segera masuk ke dalam kantor Miracle, sedangkan untuk Miracle, dia yang melamun, hanya bisa menatap kosong ke depan. “Selamat siang Tuan,” dia masuk memberikan berkas itu di atas meja dari Miracle,”apakah ini?” dia membuka berkas itu,”yah, seperti yang Tuan ketahui itu adalah beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh Tuan,” dia TERSENYUM MEMBUAT JANTUNG Miracle marathon, karena tidak tahan dengan senyum wanita itu, Miracle malah meminta dia untuk pergi keluar, suarnya sedikit menentang Vanessa, sehingga membuat Vanessa sedikit sakit hati, baru saja dirinya ingin tersenyum tetapi satu menit dia sudah kembali di jatuhlkan oleh situasi. “Kamu boleh pergi, saya akan menandatangi ini, dan setelahnya saya akan memangggil kamu,” dia dengan suara yang ketus, mengatakan hal itu. Di lain sisi kini Ayah dan juga Ibu dari Miracle sedang berbelanja di temani dengan wanita yang bernama Zee dan salah satu supir pribadi mereka,”apakah kamu melihat itu bagus, Zee?” ibu Miracle menunjuk kea rah salah satu gaun yang terlihat untuk anak remaja itu, Zee menundukkan kepala, dengan senyum yang dia Tarik sedikit ke atas. Mereka kembali berjalan untuk menelusuri tempat perbelanjaaan itu, Zee memang sedikit tergoda, tetapi apakah diorinya layak untuk memakai semua pakaian mahal yang berjajar rapi sesuai dengan kualitasnya di sini, dia membandingkan dirinya sekali lagi dengan semua ini, dia bahkan tidak pantas untuk semua ini, maka dari itu Zee mengubur niatnya untuk membeli ini, ternyata saat Zee sedih ibu Miracke sedari tadi telah melihat wajahnya yang penuh dengan raut kesedihan. “Apakah hal yang kamu lihat?” ayah Miracle datang mengelus pundak dari istrinya dengan penuh kasih saying,”ahhh… tidak, apakah kamu tidak melihat wajah dari Zee?” mereka kembali melihat Zee yang berada tidak jauh dengan mereka, yang sedang memegang kain yang sangat indah dengan tatapan mata yang penuh pengharapan untuk mendapatkannya,”apakah kamu ingin membelikan kepada dia?” dia bbertanya seakan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran wanita yang sudah memiliki uban putih itu.”tidak,” dia mengelengkan kepala keras, dan benar saja, dari situ dia mengetahui bahwa istrinya benar-benar ingin berbohong kepadanya,”beli saja tidak masalah toh juga dia sudah kita anggap sebagai anak kita sendiri,” dia membulatkan mulutnya,”bemarkah saying?” dia sedikit terharu.”apa yang tidak untuk kamu, sayang” dia mencuil pipi yang sudah hamper berkerut itu. Malam ini sungguh dingin, tetapi setelah semuanya selesai makan, dan semuanya sudah ambil tugas, ingi ntidur rasanya namun ini adalah hal yang sangat mustahil bagi seorang yang memegang sabun cuci piring itu, dengan sungguh-sungguh dia kali ini membersihkan piring.”ayo, apakah kamu sudah selesai?” Miracle mengangetkan wanita itu saja,”ada apa Tuan? dia meletakkan sabun cuci dan menatap ke posisi Miracle yang sedang bersandar pada tempat wastafel itu,”aku ingin mengatakan sesuatu kepada dirimu,” dia bahkan berani membuat jantung wanita ini berdegup,”ada hal pentting apa, sampai-sampai larut begini Tuan mau memberikan hal yang sangat penting rupanya?” dia melihat wajah dari Miracle sembari menarik kedua sudut bibirnya,”ayo, sebaiknya kita ke balkon saja, ini adalah hal yang sangat penting, apakah kamu tahu--?” ucapannya terpotong seiring dia melihat bahwa menceritakan di tempat ini adalah hal yang sangat tidak perfect,”ada apa, katakana aja Tuan,” dia benar-benar tidak sabra lagi, otaknya sudah travelling, mulutnya sayang sekali tidak bisa tertutup demngan baik. Miracle segera menarik pergelangan tangan dari Zee, ibunya datang debgan tujuan awal akan memberikan sepasang pakaian yang dia belikan sewaktu mereka belanja di pusat perbelanjaan,”apakah kamu mepumyai urusan jke tempat ini?” dia bertanya dan menatap kea rah tangan Miracle yang mengengam pergelangan tangan wanita itu,”arg.. ibu salah paham,” ucap Miracle sembari melepaskan pergelangan tangan Zee dengan cepat,”sial, kenapa dia melepaskan tanganku,” dia mengumpat dalam hati,”ada apa nyonya, adakah hal yang bisa saya bantu?” untuk menghindarkan kehampaan dalam ruangan ini, satu hal yang dilakukan olehg Zee yaitu mengalihkan semua perhatian ini,”mari, kamu ikut saya,” ibu Miracle dengan wajah yang tidak suka kali ini, meminta kepada Zee agar dia mengikuti dirinya dengan tujuan yang dia katakana. Saat ini hanya satu yang di lakukan oleh Zee yaitu diam, matanya bahkan sedikit berbinnar, ini adalah hari yang baik untuk dirinya, pasalnya ini adalah kain sutera yang dia inginkan, dan ini juga adalah pakaian yang sangat dia inginka, dia tidak menyangka bahwa sekarang ini menjadi miliknya,”apakah imi untuk diriku?” dirinya bertanya dengan mata yang penuh kegembiraan,”iya, ini untuk kamu,”ibunya juga menyerahkan satu lagi pasang sepatu yang dengan hak tinggi,”trimakasih ibu, saya tidak tahu dengan apa saya akan membalas semua kebaikan ibu,” dia bahkan memanggil ibu mama daei Miracle,”apakah kamu mau membalas kebaikan ibu?” Degg.. jantungya berdegup dua kali lebih cepat dari beberapa detik yang lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD