Pagi hari menjelang, Retta membuka matanya pelan. Ia meregangkan tubuhnya sebentar dan melihat ke ranjang Naya. Ia mengernyitkan dahinya ketika ia tak menemukan kehadiran Naya di ranjangnya. Retta bangkit duduk di pinggir Kasur. Ia menunduk sebentar untuk menghilangkan peningnya. Ia mengambil gulingnya dan ia peluk gulingnya itu. Apakah Naya pergi keluar? – pikir Retta Namun perkiraannya itu buyar ketika ia melihat Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Retta semakin mengernyitkan dahinya heran. Ia melirik jam di meja belajarnya. Masih jam setengah 6 pagi, bukankah ini terlalu pagi untuk mandi? “Kau mandi pagi-pagi sekali. Apa tidak dingin?” tanya Retta di akhiri dengan uapan lebar. “Bagaimana kondisi mu saat ini? Sudah merasa

