Dikejar Waktu

1158 Words
"Lo udah ngak apa-apa,kan?" Tanya Mila serius. Dia tidak ingin membaca berita 'Seorang gadis gagal menikah terjun kelaut Bali karena depresi parah' Yuara Weng memandang ke arah temannya sekejap "Dompet gue tuh agak sakit, rada-rada busung lapar, Transfer ya beb" katanya bergurau. Hidup terus berlanjut, untuk apa dia terus berkubang dalam kesedihan? Toh pelakunya akan makin bahagia melihat dia makin terpuruk. Setelah memikirkannya ribuan kali, dia bakal balas dendam kepada mereka. Menjadi lebih baik dan mencari lelaki lebih tampan, lebih kaya dan lebih baik dari Oliver. Balas dendam yang indah, pikirnya. "Ogah" Tolak Mila. Mila Anggia Purnama merupakan salah satu teman sesama kuliah Yuara yang lebih memilih menikah muda dan mengurus resort ayahnya, padahal ia bercita-cita menjadi wanita karir layaknya Yuara. Namun sayang, semua harus dipendamnya dalam-dalam. Kondisi ayahnya tidak terlalu baik, apalagi sekarang ia sudah dikaruniai seorang putra. Pertama kali bertemu Yuara Weng, ia menilai Yuara orang yang angkuh dan sombong. Namun ia langsung menyangkalnya setelah pertama kali berbicara dengannya. Apalagi setelah mengenal satu sama lain. Yuara benar-benar sangat mudah untuk di cintai, terlalu polos dan baik hati sehingga banyak orang malah memanfaatkannya. "Lo yakin udah ngak apa-apa?" tanya Mila sekali lagi. "Butuh bukti?" alis Yuara naik menantang "Mau beneran gue rusakin ini lantai" katanya. Mila melihat gadis gila mulai menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Eh, jangan" cegah Mila. Ia tahu kekuatan Yuara untuk seorang wanita tidak main-main. Tumpukan bata saja hancur lebur ditangannya dengan mudah "Lantai mahal gue jangan dirusak. Butuh keringat tukang dan air mata gue buat bangun itu lantai" "Kalo gitu, diem ato bantuin gue surgi!" Waktu serasa mengejar Yuara Weng berkecepatan super duper cepat, sedang perkerjaannya terasa sangat lambat dan ada-ada saja halangan dan rintangan. Ketika ia akan mengemasi laptop, ternyata charger masih tercolok, membuat Yuara makin mengal. Ditariknya dengan paksa charger itu, lalu dilemparkannya laptop dan charger itu ke koper. Ia sudah gila, jika saja tidak tertinggal sedikit kewarasan tentu ia sudah mendekam di rumah sakit jiwa. Astaga. Dalam hati tentu Ia merutuki diri yang bergerak lamban lebih lamban dari siput. Ia tidak punya banyak waktu sedang kesabarannya sudah mencapai ambang batas. "Ya Tuhan. Beri hamba kesabaran" Dilempar saja sembarang barang-barangnya ke koper, sedang tangannya yang lain membabi buta memungut apapun yang bisa di raih. Tapi yang sebenarnya terjadi, ia hanya berusaha meluapkan kemarahannya. "Sabar dari Hongkong" sahut Mila. "Sabar mah dari Jawa Barat" balas Yuara. "Bekasi kali?" Tidak berselang beberapa menit, Yuara sudah kembali berada di hadapan Mila dengan menarik koper dan masih menggunakan piyama garis-garis tentunya. Hanya saja rambut singanya sudah disanggul rapi, mata merah bengkak tersembunyi sempurna dibalik kaca mata hitam besar, sedang piyamanya sudah terpasang rapi. Tidak lupa ia menambahkan lipstik tipis di bibir penuhnya. Saat mata Mila melirik ke bawah, didapat seorang Yuara Weng sudah menggunakan heels hitam keluaran terbaru. Tanpa pikir panjang lagi, Yuara langsung memeluk sahabat lamanya itu kuat dan cepat "Gue cabut" katanya lalu menyeret koper besarnya menuju pintu keluar. "Anjir kebo, lo...Lo ngak mandi?" tanya Mila saat kesadarannya sudah mulai pulih. Bagaimana...bagaimana ia bisa semodis itu dengan piyama? Yuara Weng mengibaskan tangan cepat "Buat apa kamar mandi pesawat disediain, monyet" teriaknya cepat dari pintu. "Sarapan?" tanya mila balik berteriak. Sepertinya ia mulai tertular teriakan super cepat Yuara. Yuara Weng melambaikan tangannya untuk terakhir kalinya "Pesawat alih fungsi jadi hotel bintang lima. Bye Beb" jawabnya santai Dan gadis itu benar-benar menghilang diantar seseorang yang ditemukannya tidak jauh dari pintu keluar. Lebih tepatnya seseorang yang dipaksa dan terpaksa mengantarkannya. Meninggalkan Mila dengan melongo tidak percaya. Berapa banyak saraf pede yang dimiliki orang ini? Apakah dia benar-benar sudah baik-baik saja? "Pak, cepat pak!!!" Aksi pemaksaan Yuara Weng terhadap seseorang yang baru ditemukannya bisa dibilang berlangsung anarkis. "Astaga neng, ini udah kaya angin. Terbang-terbang ini mobil bapak" laki-laki itu hanya mampu berdengus mengkal saat diteriaki dan dirutuki. Udah minta tolong, maksa lagi. "Pak, hati-hati pak. Saya belum kawin. Ngak mau mati konyol di jalan" Entah berapa banyak u*****n dan nyawa hampir melayang yang mereka temui disepanjang jalan. "Kawin aja sama pocong di kuburan neng" saran si bapak super. "Astaga Bapak. Tega bener. Ogah saya jadi pocong perawan pak" keluh Yuara. Satu hal yang pasti, Yuara Weng lebih mempedulikan penerbangannya. Telat sampai di bandara hampir sama dengan hukuman gantung. Jika ia tidak sampai di kantornya jam dua nanti, maka ia harus bersiap-siap ditembak mati bos super galaknya, bos galak yang tidak bakal peduli dengan masalah pribadinya. Membayangkan penampakan bosnya saja—yang menurut Yuara, beribu-ribu mengerikan—membuatnya bergeming ngilu. Belum lagi memikirkan telinga yang bakal gagal berfungsi mendengarkan ceramah dan omelan panjang bos super galak itu. "Minggir woy" teriak Yuara. "Minggir" Perjalanan yang seharusnya dilalui tiga puluh menit, sukses berkat mantra teriakan Yuara Weng ditempuh sepuluh menit. "Awas, banteng ngamuk" "Awas" Dan di sinilah sekarang ia berada, dalam lautan manusia yang berjumpel dan ribut. Bertambah ribut saat Yuara berteriak-teriak menyuruh siapa saja yang menghalangi jalannya menepi. "OH COCONUT. Kutu kupret. Ferguso. Bambang" umpat Yuara Weng saat jalannya terhalangi dua troli penuh muatan. Sedang pemiliknya tengah bertengkar seperti dua makhluk asing. Bener-benar seperti makhluk asing, pikir Yuara. "Alien sialan" Sang laki-laki berteriak kesal dengan bahasa Korea, sedangkan yang wanita mengumpat dengan bahasa Inggris-Amerika, mereka seperti dua anak kecil yang memperebutkan satu mainan. "Argh" kesabaran Yuara Weng benar-benar di uji "Aku sedang menyelamatkan nyawaku, sedang kalian bertengkar di sini" umpatnya keras dalam bahasa Indonesia yang tentu saja tidak dimengerti dua makhluk itu. Umpatan yang lebih terdengar seperti u*****n putus asa itu sukses membuat dua makhluk asing melongo ke arah kemunculan spektakuler itu-ralat, dua makhluk ditambah makhluk-makhluk sejenis di sekeliling mereka-dan mereka sukses besar mencuri perhatian. Percoconuttan dengan mereka. "Begini" katanya dalam bahasa Korea sambil memijit-mijit pelipis, kepalanya terasa di tusuk-tusuk jutaan paku seketika. Perkataan itu ditujukan kepada pemuda berwajah oriental yang mendekap tangan di d**a marah. Ditariknya nafas dalam-dalam dan dikumpulkan sisa kesabaran yang ada "Nona ini mencoba menjelaskan kepada Anda bahwa Anda salah mengambil salah satu kopernya. Dia juga menyesal karena tidak sengaja menabrak Anda ketika berusaha menghentikan dan menjelaskan kepada Anda apa yang sebenarnya terjadi" Pemuda itu melirik ke troli sang Wanita sebelum melirik ke troli miliknya. Memang benar mereka sama-sama memiliki satu koper kuning besar yang persis sama. Digaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum malu-serba-salah. "Dia boleh mengambil kembali kopernya, dan katakan padanya aku benar-benar minta maaf" kata pemuda itu gugup lalu membungkuk dalam beberapa kali. Wanita berambut merah bermata biru itu balas membungkuk aneh saat Yuara Weng menjelaskan kepadanya dalam bahasa Inggris. Hampir sama dengan kemunculan yang spektakuler, kepergiannya makhluk modis berpiyama itu tak kalah spektakuler. Hanya dengan selintas ingatan akan wajah menyeramkan bosnya, Yuara Weng menghilang ditelan lautan manusia dalam diam. Ia masih berlari tergesa menyeret koper besar, hanya saja kali ini tidak dengan teriakan. Mungkin tingkat energinya sudah berkurang drastis untuk berfikir. Sialnya, karena mencoba mengambil ponsel di tas tangan, Yuara tidak sengaja menyeruduk seseorang, lebih tepatnya dua orang. "Kalau jalan pake mata dong, jangan dengkul" umpat sebuah suara "Kamu ngak pa-apa, sayang?" lanjut pembuat suara dengan nada suara lebih lembut. Suara itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD