Musuh di jalan sempit

1212 Words
Mendung besar serasa mengancam di atas kepalanya, saat Yuara Weng mengangkat wajah memandang langsung sumber suara, tidak jelas bentuknya namun mencemaskan. Ketakutan dalam dirinya menjadi nyata. Mata serta otaknya sama-sama setuju laki-laki yang menggenggam tangan wanita lain itu adalah kekasihnya, ralat, calon suami tidak jadinya, Oliver Prasetyo. Oliver Prasetyo yang juga menyadari siapa yang baru saja menyeruduk adalah Yuara Weng, cepat-cepat melepaskan tangan wanita itu. Wanita itu!!! Double coconut, kutuk Yuara Weng dalam hati. Harusnya ia patahkan saja semua tulang-tulang Oliver Prasetyo agar ia tidak bisa berjalan ala cowok ganteng lagi, dengan kaca mata hitam dan tampilannya yang modis dan necis. Tidak ada yang berubah, Oliver dan Tania masih melanjutkan asmara mereka. Hanya dia pihak yang sedih dan tersakiti, ditinggalkan sendirian untuk menjilat-jilat lukanya sendiri, Oliver dan Tania masih begitu mesra. Sama sekali tidak mempedulikan Yuara Weng yang pernah memergoki mereka. Tidak peduli bahwa batang hidung Oliver Prasetyo patah dan sekarang sudah diperban, dan beberapa bekas cakaran Yuara telah meninggalkan tanda di beberapa bagian wajah Tania. Kenyataan bahwa kehidupan pasangan mereka tidak terganggu oleh kejadian itu, membuat luka di hati Yuara Weng bertambah lagi, lebih dalam dan lebih parah. Yuara Weng tersenyum sinis, dilepaskannya kaca mata hitam yang sedari tadi menutupi mata berat mengantuk miliknya. Ia tidak peduli lagi, yang jelas ia siap menyemburkan api. Percuma saja ia menangisi penghianatan suami gagalnya itu, toh tak ada penyesalan di wajah keduanya. Ia menghembuskan nafas panjang dengan berlebihan dan mengangkat sebelah alisnya tinggi "Pertemuan bisnismu pidah ke bali? Bisnis cocol cocol cabe?" tanyanya sarkasme. Dengan senyum kaku, Oliver Prasetyo mendekati calon istrinya yang baru saja menyemburkan es dingin dan berusaha meraih tangannya. Namun, dengan tidak terlalu kentara Yuara Weng cepat-cepat melipat tangan di depan d**a. "Yua, maafkan aku, aku tahu aku bersalah. Tapi kamu juga bersalah karena tidak memahami kebutuhanku. Apapun yang telah terjadi, pernikahan kita tidak boleh dibatalkan" kata Oliver Prasetyo tanpa rasa bersalah, seakan apa yang telah terjadi juga karena Yuara Weng tidak memahami kebutuhan birahinya. Yuara Weng merasa tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, ia memang belum menyampaikan pembatalan pernikahan mereka kepada keluarganya atau siapapun, harusnya dia, Yuara Weng, yang memutuskan, mengapa sekarang malah berbalik. Ia menghembuskan nafas panjang sekali lagi, meski darah sudah naik sampai ubun-ubun Ia tidak punya energi lagi untuk marah-marah "Memangnya kau pikir sebegitu berhaknya kau tentang pernikahan ini. Kau bahkan tidak benar-benar peduli bahwa kita bakalan menikah sebentar lagi. Aku mengurus semuanya sendirian. Lalu kau bilang aku tidak bisa membatalkannya? Kau sakit jiwa atau apa? Setelah memuaskan birahimu dengan temanku, seenak jidat kau bakalan memperistri aku? Kau lupa memakai otakmu, huh?" tanya Yuara Weng sambil memandang tajam kearah Oliver Prasetyo lalu beralih kearah Tania Salsabil yang tertunduk diam, berdiri sedikit menjauh. "Apa maksudmu aku salah memahami situasi diantara kita? Persetanan dengan kebutuhanmu itu. Aku kira keberadaanku saja cukup bagimu, tapi aku salah besar. Coba kita lihat, sudah berapa lama kalian berada di belakangku?" lanjut Yuara Weng dingin. Padahal dirinya serasa terbakar dari ujung kaki hingga kepala. Oliver Prasetyo memandang sejenak ke arah Tania, lalu menatap Yuara Weng, mencoba menemukan sedikit belas kasih di mata besar yang biasanya penuh dengan energi kasih sayang. Namun, ia tidak berhasil menemukan apa-apa selain tatapan kemurkaan "Aku tidak ingin mengelabuhi atau membohongimu. Sayang, percayalah. Kami hanya berteman, yang terjadi antara kami hanya hubungan di atas ranjang tidak lebih. Bagiku kau satu-satunya wanita di hatiku. Hanya kamu. Kumohon, percayalah. Dan kami hanya melakukannya untuk terakhir kalinya sebelum pernikahan kita" Jelasnya. "Huh" tawa hambar lolos dari mulut Yuara Weng. Kebohongan macam apa yang sedang ditawarkan kekasih pengkhianatnya itu? Yuara Weng sudah cukup membuka mata. Ia tidak bakal mudah lagi terhanyut dalam kata maaf dan rayuan seorang playboy b******k, Oliver Prasetyo. "Baiklah baiklah" katanya seperti menyerah akan sesuatu "Sebagai ganti rugi dari jerih payahmu mencoba menjelaskan padaku tentang hubungan kalian, akan aku persembahkan pada kalian hubungan yang tidak perlu disembunyikan lagi. Bersembunyi itu tidak baik. Aku akan mengurus pembatalan pernikahan kita, jadi kau tidak perlu berpusing-pusing memikirkan itu" Usul Yuara Weng sambil kembali mengunakan kaca mata hitamnya. Ia harus segera menjauhkan diri sebelum tangannya yang gatal menjatuhkan bom atom di bandara sibuk, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. ___ Jari-Jari kurus milik Yuara Weng mengetuk-getuk meja di samping ponselnya, dan ia mengigit kuat bibirnya hingga ia merasakan cairan asin mengenai lidahnya. Ponsel itu terus berdering sejak tadi. Sejak ia ketinggalan pesawat dan memilih duduk menyendiri di pojok salah satu Cafe bandara. Ia tak sanggup berbicara dengan ayahnya, setelah mengabarkan kepada ibunya bahwa ia ingin membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari. Dengan memberanikan diri ia akhirnya menempelkan ponsel itu ke telinga "Halo, Ayah" Tapi yang pertama kali mampir ke telinganya adalah keributan. Sedang apa ayahnya di London? Ia mengerutkan kening "Ayah? Ada apa di sana? Halo? Ayah?" Karena hubungan internasional ada jeda cukup lama yang amat menganggu Yuara Weng. Keributan itu terdengar lagi. "Rihito, kau jangan bicara lagi!" Ia yakin suara barusan adalah amukan ayahnya. Tapi baru kali ini ia mendengar teriakan ayahnya yang begitu menyeramkan. Rihito? Kakak laki-lakinya? Jeda lagi. "Yua" hardik ayahnya, membuat seluruh tulang Yuara serasa ngilu. "Coba katakan pada ayah sekarang apa yang kau katakan pada ibumu" teriaknya. Yuara Weng menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan lewat mulut "Ayah jangan marah ya. Aku... Aku ingin membatalkan pernikahan" katanya hampir berbisik amat pelan. "s**t" tut... Tut... Tut... Panggilan itu langsung putus. Yuara Weng sebenarnya bukan anak kandung lelaki yang di panggil ayah itu, Xu Ming Weng. Dan nama aslinya bukanlah Yuara Weng. Tapi Lee Se Ra, dan dia memiliki kewarganegaraan Korea Selatan. Karena tinggal di Indonesia dia kira nama keluarga ayahnya adalah Weng, dia sering menggunakan itu, tapi ternyata nama keluarga Ayahnya adalah Xu, tapi Yuara tidak mengubahnya. Meski dia tahu dia memiliki ayah dan ibu yang masih hidup, tapi miris hingga saat ini dia belum mendengarkan setelah kalimat dari mereka jangankan cinta dan kasih sayang keluarga. Meski begitu, Baginya Xu Ming Weng akan selalu menjadi ayahnya. Lelaki itulah yang membesarkannya, memberinya cinta kebapakan dan memanjakan seperti seorang putri bersama istrinya, Miranda Xu. Meski mereka bukan ayah dan anak, banyak orang mengatakan mereka mirip, bahkan sifat merekapun bagai pinang dibelah dua. Dan Yuara Weng juga tidak menyukai nama aslinya. Nama yang akan mengingatnya bahwa dia di buang ke Indonesia dan tidak dipedulikan selama bertahun-tahun. Selain urusan resmi dia tidak ingin bersentuhan dengan namanya. Dia selalu memperkenalkan kepada siapapun bahwa namanya Yuara Weng, dia anak Xu Ming Weng. Tapi saat ini, dia tersadar, dari awal dia telah ditinggalkan. Sekuat apapun dia menutupi, tapi fakta akan menghantamnya dengan keras. Dari awal dia tidak diingini. Dan sekarang dia tidak diinginkan sekali lagi. Meski dia dibesarkan di Indonesia, terbiasa dengan keberagaman budaya Indonesia, tapi Xu Ming Weng akan selalu memaksanya belajar bahasa Korea, mengikuti perkembangan Korea, bahkan membaca dan mempelajari berbagai laporan keuangan Korea, peraturan bahkan hukum Korea Selatan. Selain belajar bahasa Korea, ia juga mesti belajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Bahkan Prancis dan Spanyol. Dan dia juga memiliki seorang kakak lelaki, Rihito Xu, meski sama-sama anak angkat, Rihito secara hukum anak Xu Ming Weng dan Miranda Xu. Berbeda dengan Yuara yang seperti orang asia tulen, Rihito Xu meski namanya sangat asia, wajahnya sama sekali tidak ada asia-asianya. Matanya biru, rambutnya pirang dan wajahnya Arab-Eropa. Sekarang Rihito tengah melakukan penelitian di London dan tidak tahu apa yang dilakukannya sehingga ayahnya begitu marah. Mungkin Rihito melakukan percobaan gila lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD