---------------
Suara nyanyian burung dalam sangkar membangunkan Kirei dari mimpi indah.
Tubuh Kirei menggeliat, mulutnya menguap, netranya menyapu keadaan sekeliling kamar. Zidan masih tertidur, tetapi Jordan sudah tidak ada di kamar itu.
Kirei turun dari ranjang dan melangkahkan kaki keluar kamar. Mencari keberadaan suaminya.
Bau khas masakan menguar ke tiap ruangan. Indra penciuman Kirei pun ikut menangkap bau yang menggugah selera itu.
Langkah Kirei terus mengikuti indra penciuman yang menuntunnya ke arah bau sedap itu.
Kirei terhenti di dapur. Ia terpaku melihat pemandangan yang ada.
"Eh, udah bangun, Sayang?" Jordan menyapa sembari menyiapkan hidangan yang telah ia masak.
"I-iya, udah," jawab Kirei.
Kirei sangat terharu melihat Jordan. Sudah beberapa hari ini ia berada di rumah dan melakukan semua tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kirei.
"Zidan udah bangun belum?" tanya Jordan lagi tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Be-belum, Mas."
"Ya, sudah ... mumpung Zidan masih bobo, kamu mandi dulu, gih, sana! Habis itu, kita makan berdua," ucap Jordan lagi.
Kirei mengikuti perintah Jordan tanpa banyak bicara.
*************
Kirei dan Jordan telah duduk berdua di meja makan sembari menikmati hidangan yang dimasak oleh Jordan.
"Gimana masakannya?" tanya Jordan di sela-sela suapan makannya.
"Enak," jawab Kirei singkat dengan memasukkan sesuap nasi di sendok beserta lauk ke mulutnya.
Jordan tersenyum simpul.
"Sayang, nanti sore kita ke psikiater, yuk!" ajak Jordan.
"Uhuk ... uhuk ... ukuk," seketika Kirei terbatuk-batuk.
Dengan sigap Jordan memberikan segelas air kepada istrinya itu.
"Ini minum dulu, Sayang!"
Kirei menenggak sampai tandas air itu. Matanya menatap tajam ke arah Jordan setelah batuknya reda.
"Kamu kira, aku ini gila, ya, Mas?"
Kirei merasa kesal pada suaminya. Harga dirinya benar-benar terluka.
"Bukan begitu, Sayang, tapi--"
Kirei bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan Jordan tanpa mau mendengar ucapan Jordan.
************
Jordan berdiri di depan sebuah ruangan dengan menggendong anaknya--Zidan.
Tergambar jelas kekhawatiran di raut wajah Jordan. Beberapa kali ia bolak-balik duduk dan berdiri. Melihat ke sebuah ruangan.
Sementara itu, di ruangan yang selalu diintip Jordan terdapat dua orang wanita cantik yang duduk berhadapan yang dibatasi oleh meja kerja di tengahnya.
"Coba Mbak katakan semuanya. Katakan apa saja yang Mbak rasakan selama ini. Unek-unek di hati Mbak," ucap salah satu wanita itu.
Ragu-ragu wanita itu menceritakan semua yang ia rasakan selama ini.
Ya, wanita itu Kirei. Kirei akhirnya mau diajak untuk menemui psikiater oleh Jordan.
Jordan berhasil meyakinkan Kirei tentang mengunjungi psikiater itu.
************
Dua jam berlalu ....
Kirei keluar dengan hati dan kondisi psikis yang lebih tenang.
Jordan dipanggil oleh psikiater wanita bernama Feby itu.
Zidan dijaga oleh Kirei sementara Jordan masuk ke dalam ruangan.
Jordan duduk di kursi setelah dipersilakan duduk oleh si empunya ruangan.
"Pak Jordan, istri anda mengalami syndrome baby blues."
Kening Jordan saling bertautan. "Sy-syndrome baby blues? Apa itu maksudnya?"
Dokter menceritakan segalanya kepada Jordan kalau emosi Kirei sedang tidak stabil.
Sewaktu-waktu Kirei bisa marah-marah, tetapi kemudian baik kembali.
Jordan harus berusaha tetap menjaga agar emosi istrinys tetao stabil.
************
Kirei rutin mengunjungi psikiater tiap bulan. Akan tetapi, lama-kelamaan Kirei bosan juga.
Selain itu, untuk mengunjungi psikiater itu pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit sedangkan dompet suaminya tidak akan sanggup jika harus terus membiayai pengeluaran semacam itu.
Entah bagaimana bisa Kirei berpura-pura sembuh. Bahkan telah dinyatakan sembuh. Padahal, kenyataannya tidak.
*********
"Mas berangkat kerja dulu, ya? Jagain anak kita dengan baik," pamit Jordan pada Kirei.
"Iya, Mas, tenang aja. Aku pasti jagain Zidan," jawab Kirei.
Meskipun telah dinyatakan sembuh, entah mengapa hati Jordan tetap merasa tidak tenang. Ia merasa jika Kirei masih sama saja, belum ada perubahan. Namun, ia tak punya bukti yang kuat. Tak pernah juga melihat Kirei berbuat kasar lagi.
Sampai pada akhirnya Jordan kembali memergoki Kirei yang berbuat kasar kepada Zidan. Namun, kekasarannya tidak separah dulu.
Kalau dulu mungkin Kirei bisa sampai ingin menghabisi Zidan, maka sekarang ia hanya sekadar marah-marah saja. Walaupun begitu, jauh di lubuk hati Kirei, ia sangat menyayangi anaknya. Hanya saja ia belum menyadarinya.
Kekasaran Kirei terus berlanjut sampai saat ini Zidan berusia tiga tahun.
Jordan pun mengetahui hal itu, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.
Jordan hanya bisa berharap istrinya akan kembali bersikap lembut seperti dulu sebelum mereka menikah.
Jordan pun tak pernah berhenti berusaha agar istrinys berubah.
Walaupun tak pernah mengunjungi psikiater lagi, tetapi Jordan yakin dengan segala kebaikan dan perhatian yang ia berikan akan mengubah segalanya.
Bersambung ....
--------------