bc

Darah Biru, Luka Yang Aku Sengaja

book_age18+
1.1K
FOLLOW
3.5K
READ
one-night stand
family
HE
friends to lovers
pregnant
playboy
kickass heroine
mafia
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
bold
city
office/work place
secrets
friends with benefits
assistant
actor
like
intro-logo
Blurb

Kalau bukan karena Anna sesabar itu, mana mungkin betah jadi asisten Biru yang bermulut petasan. Biru Abraham, fotografer ganteng yang juga pemilik studio foto dan rumah mode Seven Star.

Jatuh cinta dalam diam. Annasera yang lugu, justru salah menjatuhkan hati ke bosnya yang biasa bermain tanpa melibatkan perasaan. Biru digandrungi para model cantik. Bukan hanya karena tampan, tapi juga cucu konglomerat. Anna yang paling tahu, segila apa bosnya kalau sedang bersama mainnya. Karena dia yang biasa pontang panting mengurus pria itu saat mabuk di klub atau pesta.

Sampai ketika Anna celaka, hampir diperkosa mantan pacarnya yang telah menguras tabungannya. Biru datang menyelamatkan dia yang dalam kondisi dicekoki minuman dan obat. Namun, justru itu jadi awal petaka bagi Anna. Dia selamat dari mantan brengseknya, tapi berakhir di ranjang bosnya.

Sejak itu semua tak lagi sama. Biru memang berubah hangat, tapi Anna juga harus menelan sakit melihat pria itu diantara gemerlap dunianya.

Diam terluka. Tanpa menyalahkan, apalagi menuntut tanggung jawab saat tahu dirinya hamil. Anna tahu diri. Bukan hanya tak pantas, tapi kehamilannya bisa jadi skandal yang akan mencoreng karir bosnya dan nama baik keluarga Lin.

Puncaknya ketika Anna memergoki apa yang seharusnya tidak dia lihat. Dia pilih pergi. Menghilang tanpa jejak. Meninggalkan Biru yang baru menyadari, Anna pergi membawa calon anak mereka di rahimnya.

Anna kira kepergiannya bakal menyelesaikan masalah. Ternyata justru jadi awal kehancuran Biru. Hidupnya berantakan. Orang tuanya murka. Dia terhukum oleh sesal, juga rasa yang terlambat Biru sadari.

Bagaimana perjuangannya mendapatkan maaf dari Anna, yang kukuh tidak mau dinikahi setelah Biru menemukan keberadaannya? Bukan tidak cinta, tapi Anna tidak ingin semakin terluka.

Bagaimana juga gilanya Biru, ketika nyaris kehilangan Anna dan bayinya karena ulah musuh bebuyutannya?

“Maaf … sudah jadi bagian terburuk hidupmu, Na. Maaf, jika mencintaimu membuatku menyakitimu. Dan maaf, untuk banyak hal yang kurang aku usahakan!”

chap-preview
Free preview
Bab 1. Ketiban Sial
“Buruan pergi, Han!” Anna mendorong Arhan supaya enyah dari sana, tapi terlambat. Jantungnya berdegup kencang, melihat mobil bosnya memasuki halaman studio. Benar-benar sial! Mantan pacarnya keranjingan datang mencari ke tempat kerja, setelah dia memblokir nomornya. Yakin, Anna nanti pasti kena damprat si boss yang galaknya minta ampun. “Nggak! Aku tidak akan pergi, sebelum kita bicara! Yang kemarin itu hanya salah paham, Na. Aku sama Ratih hanya teman. Jangan seenaknya saja main putus dan blokir aku gini!” Arhan malah menyambar tangan Anna dan mencekal erat. Tidak peduli gadis itu meronta dengan mata blingsatan ke arah mobil di sana. “Lepas! Jangan gila, kamu! Aku bisa dipecat, kalau sampai dilihat bosku kamu bikin ribut di sini.” Anna sampai meringis. Tangannya berdenyut dicengkram oleh pria sinting di depannya itu. “Aku bahkan bisa lebih gila dari ini. Kamu sangat tahu itu. Jadi jangan coba main-main denganku, Na!” ancam Arhan menyeringai melihat muka Anna pucat pasi, mendapati bosnya turun dari mobil. “Sialan kamu, Arhan!” geram Anna tersengal. Perutnya sampai mulas mendapat tatapan mata menghujam bosnya. Dia dan Arhan berdiri tak jauh dari pintu masuk studio. Tadi dia terpaksa keluar menemui pria yang kapan hari ketahuan selingkuh ini, karena Arhan terus teriak-teriak seperti orang gila. Anna malu jadi bahan omongan para rekan kerjanya yang merasa terganggu. Bosnya makin mendekat. Dia adalah Biru Abraham. Cucu konglomerat Jonathan Lin. Fotografer ganteng sekaligus pemilik studio foto dan rumah model Seven Star. Anna sudah dua tahun lebih bekerja jadi asisten Biru. Si boss bermulut petasan yang kalau sudah marah, suka asal bentak dengan muka galaknya. Lihat saja sekarang sudah seperti mau mengganyang Anna hidup-hidup. Karena ketahuan melanggar larangan, membawa urusan pribadi ke tempat kerja. “Lepas!” Anna kembali meronta berusaha menepis cengkraman Arhan. Bosnya hanya beberapa meter di dekat mereka. “Nggak!” desis Arhan menarik kasar. Sialnya, ponsel di tangan Anna malah terlepas. Terlempar jatuh, tepat di depan bosnya hingga berhenti melangkah. Menoleh dengan mata menguar marah, Biru menatap asistennya yang meringis gugup. “Maaf, Pak!” ucap Anna tercicit lirih. “Biruuu ….” Seorang gadis cantik melangkah lebar menyusul Biru bersama asistennya. Itu Becca Olivia. Foto model yang memang ada jadwal pemotretan dengan Biru sore ini. Anna menghela nafas panjang. Double sial! Arhan benar-benar membuatnya dalam masalah. Jangan lihat mukanya yang cantik dan sok imut itu! Becca orangnya luar biasa menyebalkan. Tidak sekali dua kali Anna diperlakukan sinis. “Dia kenapa? Itu pacarnya?!” Merangkul lengan Biru, Becca mengedikkan dagu ke arah Anna. “Masuk!” Alih-alih menjawab pertanyaan Becca, Biru dengan suara berat dan mata nanar memerintah Anna untuk segera kembali ke dalam. “Baik, Pak!” angguk Anna sampai lupa caranya bernafas. Biru melengos sinis, lalu melangkah masuk ke studio. Ponsel Anna nyaris diinjak oleh Becca yang tersenyum menyebalkan seperti biasa. Sekuat tenaga Anna menghempas cekalan tangan Arhan. Habis sudah kesabarannya menghadapi pria sialan satu ini. “Mau kamu sebenarnya apa sih?! Kita sudah selesai. Bisa tidak jangan ganggu aku lagi, Han?!” teriaknya melotot ke Arhan masih saja bebal. Padahal sudah melihat sendiri, semarah apa bosnya barusan. “Aku mau balikan!” jawab Arhan dengan tidak tahu malunya. “Dalam mimpimu!” tolak Anna sebelum kemudian berbalik mengambil lagi ponselnya. Menoleh dengan mata jengah, Anna sudah muak terjebak hubungan dengan pria toxic seperti Arhan. Cemburuan nggak jelas dan posesifnya tidak ketulungan. Kalau bukan karena diancam Arhan akan menetornya di studio, Anna pasti sudah sejak dulu putus. Beruntung kapan hari dia memergoki sendiri Arhan lagi selingkuh. Jadi bisa jadi alasan Anna lepas darinya. Dikira dirinya segoblok itu, mau dipaksa balikan lagi dengan pria red flag begini. “Lain kali kalau kamu masih datang bikin gaduh, aku akan minta satpam mengusirmu! Kita sudah selesai!” tegas Anna langsung berbalik pergi. “Tunggu dulu, Na!” teriak Arhan, tapi tidak digubris. Saat hampir sampai pintu, tangan Anna kembali ditarik kasar sampai dia terhuyung. Emosi, Anna pun mendorong mantan sialannya. “Apa-apaan sih?!” “Pinjam ponselnya sebentar buat telpon Heri! Punyaku mati kehabisan baterai,” pinta Arhan dengan suara pelan. “Na, dicari Pak Boss! Buruan! Mukanya serem mau nyapolok orang, Na!” Salah satu rekan Anna panik minta dia segera masuk. “Aku pinjam dulu ponselmu sebentar saja, Na! Nanti aku pulangnya gimana? Kalau tidak, aku tunggu kamu di sini!” Arhan malah menghadang di depan Anna. “Sialan!” geram Anna terpaksa membuka kunci ponselnya, lalu memberikan ke Arhan. “Sin, tolong kalau dia sudah selesai telpon minta lagi ponselku!” Tanpa menunggu jawaban temannya, Anna langsung berlari masuk dan naik ke lantai dua. Jantungnya jedag-jedug tidak karuan. Alamat dia bakal kena damprat bosnya. Biru sebenarnya baik. Cuma ya itu, galaknya amit-amit. Dulu Anna hanya asisten pembantu. Setelah Della resign, Biru bolak-balik ganti asisten, tapi tidak ada yang cocok. Ujung-ujungnya kemudian Anna yang mengurus semua, karena Biru tidak mau cari orang baru lagi. Sampai di ruang pemotretan, bosnya yang sudah stand by menatap tajam. Biarpun biasa menghadapi mulut petasannya, tetap saja Anna gemetar ditatap segalak itu. “Maaf, Pak! Tadi dia tiba-tiba kesini, jadi saya terpaksa menemuinya sebentar.” Anna lebih dulu minta maaf, sebelum kena bentak. “Bagian mana yang tidak kamu pahami? Pacaran itu hakmu. Terserah! Tapi, jangan di jam kerja! Apalagi sampai ribut di sini. Sudah berapa kali aku bilang ke kamu?!” bentak Biru dengan suara kerasnya. “Maaf,” sahut Anna menunduk. Tangannya mengepal gemetar. Untung saja tadi persiapan pemotretan sudah beres dia kerjakan. “Dih, galak banget ayangku!” Becca yang baru selesai ganti gaun terkekeh mendekat ke samping Biru. Hendak merangkul lengannya, tapi ternyata Biru menghindar dengan menjauh ke arah laptopnya. “Kamu ambilkan gaun yang warna merah buat Becca! Dia salah pakai,” perintah Biru. Anna mengangguk, lalu mempersilahkan model cantik yang langsung merengut kesal itu. “Kak Becca ganti dulu gaunnya! Maaf, itu tadi yang Kak Oliv pakai dan belum sempat saya beresin.” “Kalau kerja yang bener dong!” sungut gadis itu ngeloyor masuk ke kamar ganti. Ingin sekali Anna mengumpat. Dia sendiri yang tidak tanya dulu. Lagian di dalam juga sudah Anna pisah, gaun mana yang buat Becca. Entah ditaruh mana matanya. Asistennya juga sama saja lemotnya. Dua jam pemotretan berjalan lancar. Saking fokus dengan tugasnya, Anna bahkan sampai lupa soal kedatangan Arhan tadi. Ponselnya sudah dibalikin. Oleh temannya ditaruh di saku, tanpa berani buka mulut. Bukan perkara dia takut kena marah, tapi memang seserius itu Anna kalau kerja. Bosnya tidak suka orang lelet, apalagi teledor. Semua harus sempurna. Anna orangnya tidak banyak omong, tapi cekatan. Makanya Biru cocok kerja didampingi gadis itu. “Ok!” Biru tersenyum puas melihat hasil jepretannya. “Bagus, kan?” tanya Becca. Anna mendecih lirih, melihat gadis itu cari kesempatan merangkul lengan bosnya. Mengenakan gaun sexy dengan belahan d**a rendah. Becca sengaja menempelkan dadanya, lalu menggesek ke lengan kekar berotot Biru. Anna sudah biasa disuguhi kelakuan para model yang menggatal ke bosnya. Bahkan, yang lebih menjijikkan dari itu. “Na, nanti kamu backup dulu filenya! Aku ada acara setelah ini!” Biru mengulurkan kameranya ke Anna. “Iya,” angguk Anna sendiko dawuh mengerjakan apa yang memang sudah jadi tugasnya. “Mau dong berangkat bareng ke pestanya Arra! Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu!” Becca langsung berbalik berlari ke arah ruang ganti. Saat melewati Anna, dia menabrak tangan gadis itu hingga kamera yang dipegang pun terhempas jatuh. “Ehhhh!” teriak Anna nyaring. Seketika nyawanya mau mencelat, melihat kamera kesayangan bosnya menghantam tembok. Kalau sampai rusak, entah dia harus kerja rodi berapa tahun supaya cukup menggantinya. Biru yang sedang menelpon pun menoleh. Melotot mendapati kameranya teronggok di lantai. “Bawa kamera saja tidak becus!” bentak Biru tanpa bertanya lebih dulu. Dengan muka marah bukan main menyambar kameranya. Memeriksa apakah ada yang rusak. Anna berdiri mematung dengan mata memburam panas. Sesak bukan main rasanya, dibentak atas apa yang bukan salahnya. Kurang ajarnya lagi, Becca malah melengos pergi tanpa berniat mengaku salah dan menjelaskan ke Biru. Membiarkan Anna diamuk bosnya, karena kelakuan cerobohnya. “Niat kerja nggak sih, kamu?!” Biru menatap nyalang asistennya yang masih bungkam. “Begini ini jadinya, kalau kerja nggak pakai otak! Makanya aku peringatkan, jangan bawa urusan pribadi ke kantor! Yang punya pacar bukan cuma kamu! Tapi, nggak ada tuh yang keranjingan sampai tidak tahu malu berantem di sini! Mau kamu sebenarnya apa, Na?!” teriak Biru yang sudah menahan marah, sejak melihat Anna berduaan dengan pacarnya tadi. “Maaf,” ucap Anna sudah malas menjelaskan kejadian sebenarnya. Terlanjur sakit hati. Anggap saja dia sedang ketiban sial hari ini. “Bego!” geram Biru membawa kameranya naik ke lantai atas. Anna melangkah lebar ke arah toilet. Begitu masuk dan menutup pintu, dia duduk di kloset dengan air mata mengalir deras. Bisa saja kok dia membela diri. Di situ juga ada CCTV, kalau bosnya tidak percaya. Tapi, buat apa? Dia sudah terlanjur sakit hati kena bentak. Apalagi si Becca sialan yang malah menikmati dia didamprat di depannya. Merogoh ponselnya, Anna mengernyit mendapati pesan masuk dari Heri. Dia mendecih keras melihat foto Arhan sedang pesta di tempat karaoke. Tertawa lebar memangku LC seksi. Di atas meja penuh dengan makanan dan minuman beralkohol, juga kue ulang tahun. Yang Anna tidak habis pikir, dapat uang darimana Arhan untuk foya-foya merayakan ulang tahunnya. Apalagi Vox Box tempat karaoke mahal. Sebentar! Mata Anna langsung melotot mendapati notif transaksi transfer di ponselnya. Dengan tangan gemetar dia memeriksa M-Banking nya. Jantung Anna seperti berhenti berdetak, mendapati saldonya dikuras habis oleh mantan sialannya. Hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, sampai dia rela hidup sehemat mungkin. Sekarang malah dimaling Arhan. “Sialan!” Dengan air mata berderai Anna langsung berlari keluar dari toilet. Menyambar tasnya, lalu menuruni tangga. Di lantai satu dia berpapasan dengan bosnya yang juga mau pergi. Becca mengumpat kasar, karena nyaris terjengkang kena tubruk. Masa bodo! Dia tidak peduli kalau besok dipecat. Yang penting sekarang Anna harus mencari Arhan dan meminta lagi uang yang dicolong. “Anna!” teriak Biru menyusul asistennya yang berlari sambil menangis. Khawatir, sekaligus merasa bersalah tadi sudah keterlaluan membentak dan memarahinya. Sayang, Anna sudah lebih dulu mengendarai motornya pergi dari studio. “Biru! Tunggu!” Belum sempat Becca berhasil mengejar, Biru sudah mengendarai mobilnya menyusul Anna yang ngebut. “Haish!” geram Biru kesal, karena mulai kehilangan jejak. Hanya sesaat, sebelum kemudian dia menyeringai membuka pelacak di ponselnya. Mau kabur ke lubang semut pun, Biru pasti bisa menemukan gadis itu. Pikirannya was-was. Tadi Anna ribut dengan pacarnya, lalu sekarang pergi sambil menangis panik. Masalahnya, sejak awal Biru tahu betul sebajingan apa Arhan. Sedang Anna lugunya kebangetan. “Dasar bego! Awas saja kalau kamu mencari pacar sialanmu itu, Na!”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
218.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.5K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook