Anna seperti orang hilang akal. Ngebut mengendarai sepeda motornya, menuju tempat karaoke dimana Arhan sedang berpesta menghamburkan uang hasil curiannya. Air matanya tidak berhenti mengalir. Tidak habis pikir, bagaimana bisa pria sialan itu tega menguras isi tabungannya begini! Padahal Arhan tahu, sehemat apa dirinya, demi bisa mengumpulkan uang buat nyicil rumah. Impian terbesar Anna adalah punya rumah sendiri. Minimalis juga tak apa. Yang penting nyaman untuk tinggal. Toh, dia cuma sendirian. Sekarang malah hasil jerih payahnya ludes dipakai hura-hura si maling kurang ajar.
Saking panik, Anna sampai hampir menabrak mobil di halaman Vox Box. Tangannya makin gemetar. Tanpa pikir panjang langsung berlari masuk. Padahal tidak tahu di ruang sebelah mana Arhan berada. Menghampiri bagian resepsionis, Anna menunjukkan foto yang tadi Heri kirim. Untung saja mereka tidak ribet banyak tanya. Langsung dikasih tahu dimana letak ruangannya.
Jantung Anna berdegup menggila. Ketemu. Anna melangkah lebar menuju pintu di depannya. Apa yang kemudian didengarnya di dalam, saat pintu sedikit terbuka tak urung makin membuat darahnya mendidih.
“Serius, aku tanya! Kamu dapat uang darimana, Han? Tadi pagi mau beli rokok saja kamu bilang nggak ada duit. Sekarang malah ngajak kita pesta di sini,” tanya Heri masih penasaran. Masalahnya Arhan sewa VVIP room yang perjam ratusan ribu. Belum lagi dia memanggil dua LC. Lebih sinting lagi, beli dua botol minuman harganya jutaan.
“Paling habis ngepet!” gurau teman mereka yang lain. Sedangkan Arhan malah tertawa ngakak memeluk LC di pangkuannya.
“Ngapain susah-susah ngepet, kalau ada ATM bego yang bisa diambil duitnya?!”
Telinga Anna berdengung panas. Dia tahu sebrengsek apa Arhan. Tapi, tidak menyangka sebajingan itu. Tahu begini, tadi dia tidak sudi meminjamkan ponselnya. Mending dipecat bosnya, tak apa. Daripada kecolongan uangnya dikuras habis oleh Arhan.
“Sebentar! Jangan bilang kamu dapat uang dari Anna! Nggak mungkin dikasih. Dia saja pelitnya amit-amit. Ulang tahun cuma traktir kita makan cilok!” Yang lain sudah mulai bisa menebak maksud Arhan.
“Buktinya aku dikasih kok! Dia kan memang setolol itu, gampang dibegoin!” sahut Argan.
“Sialan kamu, Arhan!” teriaknya emosi.
Anna membanting pintu kasar, hingga mereka yang di dalam terbelalak kaget. Apalagi Arhan. Seketika mendorong LC di pangkuannya. Panik melihat Anna melotot mendekat sambil menuding penuh amarah. Dia tidak tahu, kalau tadi Heri diam-diam mengirim foto ke Anna. Niat mau pamer. Justru jadi petunjuk hingga Anna bisa menemukan dimana mereka berpesta.
“Naa ….” Arhan berdiri dari duduknya. Teman-temannya bingung, kenapa Arhan setakut itu.
“Balikin uangku yang kamu colong sekarang juga! Kalau tidak, aku akan telpon polisi! Buruan balikin semua, sialan!” teriak Anna berusaha mendekat, tapi Arhan kabur muter-muter di situ. Dua LC dan keempat temannya melongo bingung.
“Kamu beneran mencuri uangnya Anna, Han?” Heri juga kaget. Masuk akal juga. Kalau tidak, mana mungkin Anna semarah itu melabrak ke situ.
“Uang apa? Ngelindur kamu, ya!” elak Arhan tidak mengaku.
“Sialan! Pakai nggak ngaku lagi!” Anna menunjukkan bukti transaksi di ponselnya. “Ini apa, ha?! Mana uangku sini!” teriaknya terengah.
Heri yang penasaran pun bangun, melihat lebih jelas lagi ponsel Anna. Dia menoleh kaget, setelah memastikan sendiri bukti yang Anna tunjukkan.
“Gila kamu, Han! Uang Anna beneran kamu colong sebanyak itu!”
“Diam! Kamu juga ikut menikmati uangnya. Kalau aku dalam masalah, kalian semua juga jangan harap selamat!” ancam Arhan.
“Ehhh … apaan sih?! Kami nggak ikutan!” LC di situ langsung kabur, setelah tahu duduk masalahnya.
Heri dan ketiga temannya masih bingung harus bagaimana. Sementara Arhan yang sudah kepalang basah, menyeringai ke Anna tanpa takut lagi.
“Uangmu sudah habis aku buat bayar hutang, bayar kontrakan, dan pesta di sini. Kalau kamu minta dibalikin, tak masalah. Masih sisa lima ratus ribu. Sekarang juga aku transfer. Sisanya nanti kalau ada uang, pasti aku bayar. Gimana?” ucapnya enteng, tanpa rasa bersalah melihat Anna marah bercucuran air mata.
“Lima ratus ribu?! Uangku delapan puluh juta, sialan! Itu tabunganku selama bertahun-tahun. Malah kamu habiskan hanya dalam tiga jam. Balikin semua!” Anna menghambur menyambar baju Arhan, lalu menariknya kasar.
Pria itu mendelik tidak suka. Heri gelagapan menangkap tubuh Anna, saat didorong sekuat tenaga oleh Arhan sampai terhuyung ke belakang.
“Han! Apaan sih, kasar gitu ke cewek?!” tegur yang lain berdiri menarik Arhan mundur.
“Telingamu budek, ya?! Aku bilang duitnya sudah habis! Nanti kalau sudah ada, aku bayar kok!”
“Nggak! Pokoknya balikin semua sekarang juga! Kalau tidak, aku laporin kamu ke polisi!” ancam Anna sampai gemetar hebat. Bayangkan semarah apa dia, tahu uangnya sudah ludes tinggal lima ratus ribu.
“Coba saja kamu berani lapor polisi! Aku bisa lebih gila dari yang kamu kira. Jangan macam-macam kamu!” Arhan menuding Anna.
“Nggak takut! Aku punya bukti. Balikin sekarang juga, atau aku akan telpon polisi!” Anna membuktikan gertakannya dengan menekan nomor telpon polisi. Menunjukkan ke Arhan. Siap menekan tombol hijau di ponselnya.
Panik, Arhan yang ketakutan berurusan dengan hukum pun menepis ponsel Anna. Gadis itu terbelalak kaget. Celingukan mencari ponselnya yang terlempar jatuh. Anna baru berbalik hendak mengambilnya, ketika rambutnya mendadak dijambak kuat.
“Arghh ….” Dia menjerit kesakitan dengan wajah mendongak ke atas.
“Gila kamu, Han! jangan kayak gitu ke Anna!” Heri berusaha melerai dengan mencoba melepas jambakan temannya yang sudah setengah mabuk itu, tapi malah didorong kasar.
“Jangan ikut campur urusanku, sialan! Dia mau melaporkanku ke polisi! Apa aku harus diam saja kayak orang bego, digelandang ke penjara?!” teriak Arhan.
“Kalau tidak mau dipenjara, ngapain kamu nyolong uang orang?! Ngomong baik-baik ke dia, Han. Kamu yang salah. Kalau gini, kamu malah makin cari masalah. Lepas, Han!” Teman Heri ikut menengahi. Mereka menarik tangan Anna, tapi jambakan Arhan justru makin kasar dan dihempas ke sofa.
“Arghhh ….”
Anna menjerit kesakitan. Mereka berempat melongo melihat Arhan menyambar botol minuman di meja, lalu menindih Anna yang berusaha bangun. Seperti orang kesurupan, Arhan mencengkram dagu Anna, lalu mencekokinya dengan minuman.
“Arhan!” Heri menarik kerah belakang temannya. Tidak tega melihat Anna yang gelagapan tersedak. Terbatuk-batuk dengan wajah basah kuyup.
Kalap, Arhan berbalik menjotos perut Heri. Tiga temannya lagi berdiri kebingungan. Mau menolong Anna, tapi ragu karena Arhan sudah orang kesetanan.
“Kalian diam! Berani bertingkah, akan berhadapan denganku! Ingat, kalian juga ikut menikmati uang Anna!” ancam Aryan mengacungkan botol kosong itu ke mereka.
Anna yang cengap-cengap bangun. Berusaha berlari ke arah pintu. Sayang, lagi-lagi dia kalah cepat dari mantannya.
“Mau kemana kamu, sialan?!” Arhan menyambar tangan Anna. Dalam sekali tarik, Anna terjerembab jatuh terduduk di lantai.
“Arghhh! Toloongg!” jeritnya kesakitan.
Arhan makin menggila. Merogoh sesuatu dari sakunya, lalu mencekik leher Anna. Sebelum sempat mereka cegah, dia memasukkan obat ke mulut Anna yang mendongak tidak bisa bernafas.
“Apa-apaan kamu, Han?! Kamu bisa membunuhnya!” Heri dan yang lain menarik Arhan, sebelum Anna benar-benar mati di tangannya.
“Dia tidak akan mati karena minum obat perangsang!” Arhan meronta dari cekalan mereka yang tercengang, begitu mendengar perkataannya.
“Kamu bilang apa? Obat perangsang?!” Salah satu dari mereka melongo.
“Gila! Kamu beneran gila!” Heri mendorong Arhan marah. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Anna, mereka berempat pasti juga bakal terseret. Andai tahu uang yang dipakai pesta hasil jarahan, mereka tidak sudi diajak Arhan ke situ.
Tertawa terkekeh, Arhan menghampiri Anna yang sudah sempoyongan karena dicekoki alkohol. Brengseknya lagi, Arhan malah menarik kemeja Anna. Diseret naik ke sofa.
“Kalian bantu rekam! Kita bisa mengancamnya dengan video, kalau dia berani macam-macam mau melapor ke polisi! Gadis g****k ini cuma perlu digertak supaya menurut! Sama seperti selama ini dia tidak berani minta putus, karena aku ancam akan bikin gaduh di tempat kerjanya sana! Buruan!” bentak Arhan masih dengan posisi menindih di atas tubuh Anna yang terus meronta.
“b*****t! Lepaskan aku, b******n! Berani menyentuhku, aku bunuh kamu!” Anna menangis mencakar tangan Arhan. Kepalanya sudah kliyengan. Tubuhnya mendadak panas.
Mereka berempat saling lempar pandang, lalu kompak maju menarik Arhan dari atas tubuh Anna. Tapi, pria itu seperti kerasukan. Meski berhasil ditarik turun, dua teman Heri terjungkal kena dorong. Gelas dan kue ulang tahun di atas meja pun jatuh berserakan. Heri berusaha membantu Anna bangun, namun kepalanya dipukul botol oleh Arhan.
“Arghhh …” Heri terhuyung. Dua teman mereka yang tadi jatuh, berlari pergi dari situ. Tinggal seorang lagi memapah Heri yang keningnya bercucuran darah.
“Kalau kamu masih mau mencelakai Anna, kami sendiri yang akan menelepon polisi!” ancam Heri.
“Apa aku harus takut?!” tantang Arhan tertawa terkekeh. Dia meletakkan botol kosong itu ke atas meja. Memasang ponsel disandarkan di botol, dengan kamera menyala siap merekam.
Heri dan temannya melotot melihat Aryan menindih Anna di sofa. Gadis itu menjerit meronta. Berusaha mendorong wajah mantan pacarnya yang mabuk dan berubah jadi iblis. Tidak! Dia lebih baik mati, daripada diperkosa pria laknat ini.
“Toloong! Toloong akuuu ….” jerit Anna menangis ketakutan. Tubuhnya makin panas dan lemas kehilangan tenaga.
Tiba-tiba pintu didobrak dari luar. Biru yang menerjang masuk, tercekat dengan jantung nyaris meledak melihat Anna menangis menjerit ditindih pacarnya di sofa.
“Bangsaatt …!”