Bab 3. Biru Kalap

1725 Words
Sempat terjebak macet, membuat Biru datang telat. Tadinya dia kira Anna hanya sekedar ribut dengan pacar brengseknya. Kalau kemudian Biru sampai mengejarnya pergi, itu karena tak biasanya Anna sampai menangis dan panik kabur begitu saja. Bohong kalau dia tidak khawatir. Terlebih Biru merasa bersalah, barusan membentaknya sekasar itu perihal kamera. Tidak! Bukan soal kamera yang membuatnya emosi, tapi tidak suka melihat Anna bersama pacarnya. Entah apa lebihnya pria sampah satu itu, sampai Anna bego mau saja diperlakukan kasar di depan banyak orang. Dan ternyata perasaan tidak enaknya pun terbukti. Setelah mengamuk di bagian resepsionis yang berbelit tidak mau memberitahu ruangan Arhan, akhirnya ada LC menunjukkan tempatnya. Dengan muka ketakutan mengatakan perihal keributan yang tadi terjadi di dalam sana. Emosi Biru seketika meluap mendobrak pintu. Apalagi setelah melihat Anna menangis pilu minta tolong ditindih Arhan. Mereka menoleh kaget. “Biruuuu … tolong aku!” jerit Anna meronta dari cekikan Arhan. Saking nafsunya, iblis biadab itu masih tidak menyadari kedatangan sosok mengerikan di sana. Heri dan temannya langsung menyingkir ketakutan. “Anjing!” Biru menerjang dengan tangan terkepal gemetar. Jotosannya menghantam keras kepala Arhan, sampai dia ambruk di atas tubuh Anna. Cekikan tangan Arhan pun terlepas. Anna tersengal hebat. Wajahnya pucat, berantakan, dan basah kuyup. Sementara Arhan mengerang kesakitan, memegangi kepalanya yang seperti dihantam palu. “b*****t kamu Her ….” Bugh Dikira Heri yang memukul, Arhan menoleh dengan umpatan kasarnya. Matanya masih belum sempat melihat dengan jelas sosok di depannya, saat tinju Biru kembali menghantam mukanya. “k*****t!” Biru menjambak rambut Arhan yang tampak kliyengan. Menariknya kasar dari atas tubuh Anna, lalu dibanting ke lantai. Kalap, dia menghajar pria sialan itu tanpa ampun. “Tolong! Uhuk … uhuukk …” Anna terbatuk-batuk memegangi lehernya yang seperti mau patah. Sempoyongan bangun, lalu terduduk menatap bosnya menggila menjadikan Arhan samsak hidup. “Biruuu …” panggilnya lirih dengan air mata makin deras bercucuran. Bukan sekedar ilusinya. Pria galak itu benar-benar datang menyelamatkannya dari iblis yang hampir memperkosanya. “k*****t! Beraninya kamu menyakiti Anna! Bangsaatt sialan!” teriak Biru beringas menghajar Arhan yang sudah babak belur bersimbah darah hidungnya. Arhan yang tadi bengis seperti iblis, sekarang tak lebih seperti tikus comberan di hadapan bosnya Anna. Mereka mana tahu, semengerikan apa seorang Biru yang mewarisi darah dingin papanya. Bukan cuma mukanya yang sadis. Dia juga mengikuti jejak papanya menapak dunia hitam. Bermain dengan darah, adalah hal biasa baginya. “Ampun! Ampuunn!” Ganti Arhan yang sekarang menjerit kesakitan, tanpa ada yang menggubris. Mereka mana mungkin berani menolong. Sementara Biru menggila seperti orang kesetanan. Biru baru berhenti menghajar Arhan, setelah pria itu terpelanting jatuh menghantam meja. Nafasnya tersengal. Menatap buas ke lawannya yang terkapar tak berdaya. Dia kembali menjambak rambut Arhan, tapi kepalan tangannya urung menjotos setelah mendapati Anna sempoyongan berusaha berdiri. “Naaa …” Biru buru-buru menyambar tubuh Anna yang hampir jatuh. “Biruuu … tolong aku! Panaass!” gumamnya dengan suara serak. “Bodoh!” umpat Biru membawa gadis itu kembali duduk. Mulai paham, pasti Anna bukan sekedar dicekoki minuman. “Air! Cepat!” teriaknya melotot ke mereka yang berdiri berjubel di pintu. Heri meraih sebotol air mineral yang teronggok di dekat kakinya. Dengan tangan gemetar memberikan ke Biru. “Minum dulu!” Duduk merangkul Anna yang menggeliat tidak tenang, Biru meminumkan air ke mulut asistennya. “Habiskan!” ucapnya menyuruh Anna meminum lebih banyak. “Apa yang kalian lakukan ke Anna, bangsaattt!” bentaknya melotot ke Heri. Percuma tanya ke Arhan yang sudah klenger. Dia tidak mungkin semudah itu mengaku. “Bukan kami! Arhan yang mencekoki Anna minuman dan obat perangsang!” Heri langsung menggeleng panik. Tidak mau dituduh sekongkol mencelakai Anna. Bisa mati dia di tangan pria mengerikan ini. “Sialan!” Biru menoleh ke Anna yang terengah. Makin murka mendapati lebam di pipinya. Perlahan mundur, kaki Heri gemetar menatap Biru yang kemudian menyeringai bengis ke Arhan. Meski baru sekali ini bertemu, dia tahu pria ini bosnya Anna. Arhan pernah bilang, pacarnya bekerja jadi asisten fotografer Biru Abraham. Cucu keluarga konglomerat Jonathan Lin. “Kami sudah berusaha menghalanginya. Tapi, Arhan seperti orang kesetanan setelah diancam Anna akan dilaporkan ke polisi, karena sudah mencuri tabungannya. Dia tadi ke studio, lalu diam-diam mentransfer 80 juta uang di rekening Anna. Saat minta dikembalikan, uangnya sudah dihabiskan oleh Arhan. Dia mencekoki Anna dengan minuman dan obat. Minta kami merekam, supaya bisa untuk mengancam ….” “b*****t!” Emosi Biru kembali meledak mendengar penjelasan Heri. Bangun dengan wajah kaku, dia menjambak rambut Arhan yang hendak kabur. “Arghhh …” Arhan mengerang kesakitan. Biru menghantamkan wajahnya ke meja berkali-kali, lalu menekan kuat. Matanya menghujam tajam ke bajiingan yang sudah sejahat itu ke Anna. “Sudah bosan hidup kamu rupanya, ha!” Biru terkekeh dengan seringai mengerikan. “Ampun! Aku akan kembalikan uang Anna. Ampuni aku!” teriak Arhan ketakutan. Tidak menyangka, bos Anna ternyata sebengis ini. Menunduk, Biru makin muak melihat muka menjijikkan pria sialan itu. Kalau saja tidak ada banyak orang di situ, pasti sudah dia habisi sampah busuk ini. “Jangan pikir dengan mengembalikan uang yang sudah kamu maling, lalu urusannya akan selesai! Tidak! Aku pastikan kamu akan membayar apa yang sudah kamu lakukan ke Anna dengan harga setimpal!” desis Biru meraih botol minuman di lantai. “Ampun! Aku tahu salah. Aku akan minta maaf ke Anna. Setelah ini tidak akan mengusiknya lagi. Ampuni aku!” ucap Arhan menghiba dengan tubuh menggigil ketakutan. “Besok … kalau uang itu belum kembali ke rekening Anna, aku pastikan nyawamu yang akan jadi gantinya! Paham!” geram Biru menarik jambakannya, hingga wajah Arhan mendongak kesakitan. “Paham! Aku paham!” jeritnya cengap-cengap. Pusing dan rembesan darah, membuat mata Arhan buram. Tapi, dia masih bisa melihat wajah beringas pria gila di hadapannya itu. Mereka terjengkit kaget saat Biru tiba-tiba menghantamkan botol di tangannya itu ke meja. Pecahan kaca berhamburan bersama sisa minuman yang muncrat. Bau alkohol seketika tercium menyengat. Hanya beberapa detik kemudian, Biru menyambar tangan kanan Arhan dicekal diletakkan di atas meja. Dan hal paling mengerikan itu pun membuat mereka melotot. Arhan menjerit keras, begitu Biru menghujamkan pecahan botol ke punggung tangannya. Wajahnya menegang kaku menahan ngilu, oleh luka yang kini mengucurkan darah. Sedangkan Biru justru menyeringai puas menatap Arhan meringkuk memekik kesakitan. “Ingat! Besok kalau uang Anna belum kembali, selanjutnya lehermu yang akan menerima tusukan dariku! Sampah!” Biru mendecih keras, lalu beranjak bangun menghampiri Anna yang terkulai menggeliat di sofa. Dalam sekali hentak, dia mengangkat tubuh gadis itu ke pelukannya. Membopongnya pergi dengan nafas menderu terbakar emosi. Orang-orang yang berjubel di pintu sontak minggir, tanpa ada yang bersuara. “Panaass ….” erang Anna mencengkram kemeja Biru yang basah kena air bercampur keringat dan percikan minuman. “Diam, bodoh!” dengusnya kesal. Melangkah menyusuri koridor tempat karaoke, Biru makin mengeratkan pelukannya. Anna terus menggeliat. Bisa-bisa nanti malah jatuh. Pegawai bagian resepsionis dan satpam hanya diam saat melihatnya melintas. Mana ada yang berani mencegatnya, meski tahu kegaduhan barusan sudah membuat ruang karaoke yang Arhan sewa berantakan. Bahkan, penghuninya sampai terluka parah. “Tolong aku! Panas, Biru!” Anna mendongak menatap bosnya yang justru menggeram marah. “Jangan berisik! Aku akan melemparmu ke pinggir jalan, kalau kamu tidak mau diam!” bentaknya. Anna masih menggeliat saat Biru mendudukkannya di mobil. Memasang sabuk pengaman, lalu merendahkan sandaran bangkunya. Masih dengan menunduk, dia menatap wajah cantik yang memerah itu. Anna menggigit bibir bawahnya, menahan erangan. Nafasnya menderu cepat. Sedang matanya yang sembab menatap Biru memelas. “Haish!” Biru lagi-lagi mendengus mengelus pipi Anna yang lebam. “Makanya jadi orang jangan bego!” omelnya sebelum membanting pintu. Dia melangkah memutar, lalu duduk di belakang kemudi. Pikirannya awut-awutan disuguhi pemandangan Anna yang terkulai menggigil di sebelahnya. Masalahnya gadis itu terus menggeliat, karena obat perangsang yang meracuni otak dan tubuhnya. Melajukan mobilnya meninggalkan halaman Vox Box, Biru mencengkram roda kemudi. “Biruuu ….” “Apa?!” sahut Biru galak, tapi sambil mengulum senyum. Baru kali ini asistennya kurang ajar memanggilnya hanya dengan nama. “Pulang! Tolong panas! Aku mau mandi!” gumamnya dengan air mata meleleh. “Cih, bodoh! Kalau aku tidak datang, kamu sudah diperkosa pacar bangsatmu itu, bego!” bentaknya kesal. “Shhh …” Anna malah mendesis. Pahanya mengapit menahan denyut sialan yang membuatnya makin menggelinjang liar. “Sialan!” umpatnya meringis. Tangannya mencengkram sabuk pengaman. Biru sampai menahan nafas melihat kelakuan Anna. Antara bingung dan iba, dia meraih tangan Anna yang gemetar, lalu menggenggamnya. “Sabar dulu! Kita balik ke studio!” ucapnya lebih lembut. Lantai tiga adalah tempat huniannya. Biarpun dia tidak tinggal di sana, tapi kadang istirahat dan menginap kalau lagi capek lembur. “Arghhh …” Anna mendesah lirih meremas tangan bosnya yang menoleh menatapnya gamang. “Sialan kamu, Na!” umpat Biru dengan jantung berdegup menggila, melihat Anna menggelinjang dengan wajah mendongak. Dua kancing kemeja basah gadis itu lepas, hingga bongkahan dadanya menyembul. Sekarang bukan hanya Anna saja yang tersiksa, Biru juga mati-matian tersulut hasratnya. Entah sudah berapa kali dia menghela nafas kasar. Tenggorokannya terasa kering. Yang benar saja, dia juga pria normal. Mana mungkin baik-baik saja digoda seperti itu. Terlebih gadis itu adalah Anna. Asistennya yang cantik, tapi bego dan selalu membuatnya kesal tanpa alasan. “Sshhh ….” Batas kesabaran Biru runtuh, saat Anna kembali mendesah dan membawa tangannya menyentuh gundukan dadanya. Rasanya seperti tersengat. Apalagi ketika mata sayu Anna menatapnya memohon. Mengumpat lirih, Biru menginjak rem kasar begitu sampai di halaman studionya. Tanpa menunggu dia bergegas turun, lalu membopong Anna keluar setelah menutupi wajah gadis itu dengan jaketnya. Studio mulai sepi, tapi masih ada beberapa pegawai di dalam. Tanpa peduli tatapan penasaran mereka, dia membawa Anna menaiki tangga. Sialnya lagi Anna di balik jaket makin keranjingan mengendus lehernya. Biru meringis tercekat. Darahnya berdesir panas. Cengkraman tangannya meremas paha Anna. Kakinya sampai terasa lemas menaiki tangga. Sampai di lantai tiga yang masih temaram, dia menurunkan tubuh gadis kurang ajar itu. Anna terhuyung memeluk leher bosnya. Saat mendongak, Biru mendorongnya ke dinding. Dia sampai gelagapan bibirnya disambar dan dilumat kasar. “Ehmm …” Anna sampai tersengal. Biru melepas lumatannya, lalu mencengkram dagu Anna dengan tatapan nanar. “Lihat baik-baik! Aku siapa, Na?!” tanya Biru memastikan, gadis ini masih cukup waras untuk bisa mengenalinya. “Biruuu ….” gumam Anna lirih memeluk pinggang bosnya. “Jangan menyesal!” bisiknya lirih sebelum kembali melumat bibir Anna. Masih sambil berciuman panas, Biru perlahan mendorongnya ke kamar, lalu menghempas tubuh Anna ke atas ranjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD